Cerita Dewasa Gairah Nafsu Birahi Seorang Babysitter

Cerita Dewasa Gairah Nafsu Birahi Seorang Babysitter

Posted on

Cerita Dewasa Gairah Nafsu Birahi Seorang Babysitter | Sejak peristiwa percobaan perkosaan Pak Anton terhadapku hidupku jadi tak tenang. Kerja diliputi perasaan was-was, jangan-jangan pas Bu Anton keluar rumah Pak Anton datang siang hari seperti kemarin untuk mengulangi usahanya menyetubuhiku. Jelas Aku tak berani lagi bermain-main dengan Putri untuk mengemoti putingku. Aku juga tak berani dekat-dekat dengan Pak Anton. Kalau dia ingin ngemong Putri lebih baik Aku menyingkir jauh-jauh.

Cerita Dewasa Gairah Nafsu Birahi Seorang Babysitter cerita dewasa | cerita sex

Cerita Dewasa Gairah Nafsu Birahi Seorang Babysitter | Untunglah Pak Anton memang jarang pulang siang. Teringat kejadian kemarin itu sungguh membuatku ketakutan. Betapa tidak, Aku nyaris saja diperkosa oleh majikanku. Untunglah dia keburu keluar, kalau tidak pasti hal itu akan terjadi sebab Aku sendiri sudah tak berdaya menolaknya. Aku sempat menyerah karena bukan saja Pak Anton terlalu kuat memaksaku, tapi juga karena Aku mulai “merasakan enaknya”. Inilah yang Aku sesali terus-menerus. Aku juga menyalahkan Mas Adi, kenapa dia lama tak mendatangiku. Sejak Aku merasakan nikmatnya orgasme bersama Mas Adi, milikku yang di bawah sana itu terus-terusan minta diisi. Mauku setiap hari Mas Adi menyetubuhiku. Tapi sekarang dia jauh dan belum tentu setiap minggu bisa ke Jakarta. Wajar ‘kan bila Aku juga menyalahkan Mas Adi ? Sebenarnya sih Aku juga salah, kenapa Aku dulu minta Mas Adi untuk terus masuk sehingga Aku kehilangan kegadisanku, lalu jadi ketagihan. Sudahlah. Aku tak menyesal mempersembahkan keperawananku kepada pria yang kucintai itu. Hanya kenapa dia tidak selalu ada bila selangkanganku berdenyut-denyut.

Cerita Dewasa Gairah Nafsu Birahi Seorang Babysitter | Sekarang, ada masalah baru. Pak Anton orang yang terhormat itu menginginkanku. Dan orang itu sehari-hari berada di sekelilingku. Tentu dia akan terus mencoba. Jelas Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menolaknya, tapi sampai kapan Aku mampu terus menghindar ? Mungkin satu-satunya jalan untuk mencegah terjadinya pemaksaan hanyalah bila Aku berhenti kerja. Ini yang tak kuinginkan. Mungkin Aku harus mulai mencari-cari pekerjaan baru. Sungguh suatu hal yang tak mudah mendapatkan pekerjaan di masa multikrisis begini. Nantilah Aku akan minta tolong Mas Adi mencarikan lowongan di Semarang saja. Kalau Mas Adi tanya Aku punya alasan yang kuat, agar bisa selalu bersama Mas Adi. Perkiraanku benar, Pak Anton tak berhenti mencoba, malah dia semakin kurang ajar.

Cerita Dewasa Gairah Nafsu Birahi Seorang Babysitter | Kalau ada kesempatan dia berada dekat denganku sementara Bu Anton ada di lantai atas, pinggulku diremasnya. “Pantatmu bagus” katanya pelan. Aku hanya bisa menepis tangannya, tak berteriak khawatir kedengaran isterinya. Di lain kesempatan dia dengan diam-diam mendekatiku dari belakang lalu merapatkan tubuhnya. Aku hampir saja teriak. “Ssstt Ti..” Aku berusaha melepaskan dekapannya tapi dia makin ketat memelukku. Kurasakan miliknya yang tegang menekan-nekan pantatku. “Cuman gini aja kok…bentar aja…” bisiknya. Ketika Aku berhasil lolos dari dekapannya, kulihat Pak Anton sengaja mengeluarkan Penisnya sebelum mendekapku. Orang ini sudah tak waras, pikirku. Oh Mas Adi, tolonglah Aku … cepat datanglah. Aku tak tahan lagi ! *** Penantianku berujung juga, akhirnya. Mas Adi nelepon liburan besok mau ke Jakarta. Wah … betapa gembiranya Aku, sampai-sampai mataku basah. Minggu pagi Aku mau dijemput. Tiba saatnya pagi-pagi Aku membereskan Putri dulu sebelum ‘kuserahkan’ pada ibunya. Lalu Aku mandi sambil bernyanyi-nyanyi gembira. Rasanya ini mandi yang paling lama. Sekitar pukul 8 pagi Mas Adi udah nongol. Ingin rasanya Aku memeluknya erat-erat, tapi mana bisa dilakukan disini. Kami duduk di ruang terletak belakang garasi, Aku memang biasa menemuinya di situ. “Ti … rasanya Aku pengin nubruk kamu” katanya pelan-pelan. “Tubruk aja Mas, Aku udah siap kok” tantangku. Dicubitnya pipiku, lalu … “Selamat pagi, Bu” Eh … Bu Anton nongol, jelas dia sempat melihat Mas Adi mencubit pipiku. Aku jadi malu. “Pagi Di. Kapan datang ?” untung Bu Anton pura-pura tak tahu. “Tadi pagi jam setengah lima” “Naik apa” “Bus malam, Bu” “Ya udah, silakan aja. Ti, bikin minuman, dong” “Oh iya … sampai lupa …” Kubuatkan Mas Adi teh panas manis, kesukaannya. “Jam lima udah nyampe ?” tanyaku “Ya” “Langsung ke rumah Oom ?” “Engga” “Lalu ?” “Udahlah. Sekarang aja yuk kita pergi” “Yuk. Habisin dulu tehnya” Aku pamit ke Bu Anton. Lalu sambil menggandeng tangan Mas Adi Aku keluar, rasanya bahagia benar Aku pagi ini. Di teras ada Pak Anton lagi baca koran. Dia sempat melihat Aku melepaskan tangan Mas Adi. Aku juga pamitan. Pak Anton bukannya langsung bilang ‘Ya’ tapi melongo melihatku. Matanya meneliti dari ujung rambut ke ujung jariku. “Saya pergi, Pak” kuulangi pamitanku. “Eh … ya ..ya” sahutnya. Ketika telah keluar pagar, Mas Adi menggamitku. “Kenapa sih Pak Anton ?” tanya Mas Adi. “Dia emang biasa acuh” jawabku. “Justru engga. Jangan-jangan naksir kamu” OH ! sekejap Aku tercekat. Lalu ingat bagaimana Pak Anton sempat menelanjangiku dan bahkan sempat menyusupkan kepala Penisnya. “Mas !” kataku sambil mencubit lengannya. “Aaw … cuma bercanda gitu aja kok marah …” Untunglah Mas Adi hanya bergurau. Gurauan yang tepat sasaran ! Kami mencegat taksi dan Mas Adi menyebutkan tujuannya. Kalau tak salah itu nama hotel kecil. Kutatap mata Mas Adi. “Aku tadi langsung ke hotel, habis masih gelap” bisiknya. Diam-diam Aku senang. Berarti nanti Aku bisa langsung meluapkan rasa rindu. “Sempet tidur dulu tadi sejam” lanjutnya. Sampai di hotel kami langsung menuju kamar. Petugas front office melihat kami cuma sekilas, lalu nunduk lagi. Begitu Mas Adi selesai mengunci kamar, Aku dipeluknya kencang sekali sampai sesak. “Oh ..Ti …kangen banget” “Narti juga Mas …” Lalu bibirku dilumatnya habis-habisan, lidahnya menerobos masuk mulutku. Kami berciuman sambil saling memainkan lidah. Kurasakan milik Mas Adi mengeras. Mas Adi melepaskan pelukan dan langsung melepas kancing-kancing gaunku. Aku menunggu sambil dadaku naik-turun seirama alunan nafasku yang mulai memburu. Gaunku jatuh ke lantai. Mas Adi dengan cepat menelanjangi diri sampai bugil. Penisnya sudah tegang mengacung. Lalu perlahan dia mendorong tubuhku hingga rebah ke kasur, dan menindih tubuhku. Tekanan tubuh telanjang Mas Adi di atas tubuhku makin kuat. Kedua belah tanganku dibentangnya untuk ditindih oleh kedua belah tangannya pula. Kesepuluh jari-jari tangan Mas Adi meremasi sepuluh jari-jari tanganku. Lalu sebelah tangannya menyusup dibalik punggungku. Aku tahu apa yang akan dilakukannya, melepas kaitan bra-ku. Mas Andi memang punya cara sendiri dalam proses persetubuhan. Sebelum menindih tubuhku dia lebih dulu bertelanjang bulat, sementara Aku masih mengenakan bra dan CDku. Aku menyukai cara dia ‘memperlakukan’ buah dadaku, aku sampai hafal tahapannya. Kali inipun prosesnya sepertinya akan berjalan sama. Perlahan dia membuka bra-ku, lalu sejenak dipandanginya kedua buah dadaku bergantian kanan-kiri. Dia memang selalu mengagumi bentuk dadaku. “Bulatan yang sempurna” katanya suatu ketika. Kemudian telapak tangannya mengelusi bulatan bukit-bukit dadaku. Cara mengelusi permukaan bukitku yang ‘mengambang’, antara terasa dan tidak justru membuatku bergidik. Kemudian dilanjutkan dengan sentuhan-sentuhan lembut di kedua putingku yang semakin membuatku ‘naik’. Aku memang paling tak tahan kalau dadaku disentuh. Bagiku daerah itu memang sensitif, selain daerah paha bagian dalam dan, tentu saja seluruh wilayah vaginaku. Lalu tahap-tahap perlakuan kepada buah dadaku diulangnya tapi proses yang kedua ini dilakukan dengan mulut dan lidahnya yang berujung kemotan nikmat di puting dadaku. Lalu ketika ciuman Mas Adi bergeser makin ke bawah, dia langsung menyerbu selangkanganku yang masih tertutup CD. Digigitinya daerahku di situ dan tubuhku berkelojotan. Nafsuku makin naik. Tubuh Mas Adi lalu bangkit, perlahan dipelorotkannya CDku dan pahaku dibentangnya. Biasanya tahap berikut adalah Mas Adi membenamkan mukanya ke situ. Tapi Aku sudah demikian ‘matang’ lembab. Kutahan kepalanya yang mulai menunduk. Mas Adi mengerti, Penisnya yang tegak menegang gagah segera diarahkan ke kelaminku. Inilah saat-saat indah yang menegangkan, saat penantian dimana miliknya yang berwarna kegelapan mulai memasuki tubuhku, saat memulai rasa nikmat. Adalah merupakan ‘kesepakatan’ kami berdua bahwa penetrasi harus dia lakukan dengan perlahan dan bertahap, tak boleh terburu-buru, apapun alasannya. Demikian pula saat memompanya, masuk perlahan sampai seluruh batang penisnya tenggelam, lalu menariknya secara perlahan pula. Sehingga Aku bisa menikmati sensasi gesekan pada relung-relung liang senggamaku. Paling tidak untuk belasan kali ‘pompaan’ dulu, selanjutnya terserah Anda, eh .. Mas Adi untuk membuat variasi gerakan sampai akhirnya Mas Adi membiarkan Aku menikmati detik-detik orgasme-ku lebih dulu dengan melayang-layang ke awan kenikmatan. Setelah Aku kembali ‘mendarat’ di bumi, barulah Mas Adi melanjutkan pompaannya sampai dia mencabutnya dan menumpahkan ‘air kehidupan’ di perutku … Begitulah umumnya persetubuhan yang kami lakukan berjalan. Kami selalu mampu mencapai puncak kenikmatan dengan cara itu. Tentu saja proses seperti itu tidak begitu saja kami temukan. Didahului dengan kegagalan-kegagalanku mencapai ‘the big O’ pada awal-awal persetubuhan kami, kami terus berusaha, berbicara terbuka tentang perlakuan-perlakuan Mas Adi apa saja yang membuatku nikmat, demikian pula sebaliknya. Aku bisa menemukan 3 daerah tubuhku yang sensitif ini juga berkat diskusi yang terbuka (dan juga “percobaan-percobaan”) yang kami lakukan. Sementara bagi Mas Adi daerah sensitifnya terpusat pada hanya yang satu itu…. Entahlah apa semua lelaki memang begitu, Aku tak tahu. Oleh karena itulah Aku kini rela melakukan oral untuknya, meskipun pada awalnya Aku begitu jengah melakukannya. Bukan faktor keterbukaan itu saja yang membuat hubungan seks kami menjadi begitu nikmat. Faktor lainnya adalah –dan ini yang terpenting– kami saling mencintai. Kami menjadi saling tergantung. Bagiku Mas Adi adalah segalanya, demikian pula sebaliknya. Jadi, seandainya Aku bilang –dengan gaya menggurui– faktor penting yang membuat hubungan seks menjadi ’surga’ adalah saling mencintai dan keterbukaan, bukanlah omong kosong, karena Aku mengalaminya sendiri. (Bagaimana dengan Anda pembaca ?). *** Liburan akhir minggu ini keluarga Anton akan berlibur ke Bandung. Rencana berangkat Jumat pagi-pagi sekali karena Pak Anton ada urusan bisnis dulu pada hari Jumat dan pulangnya Minggu sore. Bu Anton memintaku untuk ikut pergi dan Aku sudah menyatakan bersedia, sebab Mas Adi minggu ini tak bisa ke Jakarta. Ada perasaan senang yang bercampur khawatir. Senang karena selama berlibur toh tugasku sama saja kalau di rumah, mengasuh Putri. Aku bisa menikmati menginap di hotel mewah dan makan enak. Keluarga kaya ini selalu memilih hotel besar bila berlibur. Lagi pula Aku belum pernah lihat kota Bandung. Khawatir karena Pak Anton memanfaatkan kesempatan ini untuk mencoba menyetubuhiku lagi. Aku tak mau peristiwa itu terulang lagi. Cukuplah sekali saja penderitaan itu. Amat susah menghilangkan rasa bersalahku kepada Mas Adi yang sampai kini masih kurasakan. Sekitar setengah enam pagi kami meninggalkan Jakarta menuju Bandung dengan mobil Pak Anton. Bang Hasan yang menyetir mobil mewah dan besar ini. Aku duduk di depan sambil menggendong Putri yang masih tidur. Pak dan Bu Anton di jok belakang bersama Si Ricky. Ketika baru masuk tol Jagorawi Putri bangun. Bagiku lebih merepotkan, karena dia meloncat-loncat di pangkuanku dan terkadang merayap ke belakang minta ikut ibunya. Sampai masuk Bandung sekitar pukul sepuluh Putri tak tidur lagi. Kami langsung menuju hotel H yang besar dan ramai di jalan yang kemudian Aku tahu namanya jalan Juanda. Tak jauh dari hotel ini ada Mall yang lumayan besar. Keluarga Anton menempati dua kamar yang bersebelahan. Satu untuk suami isteri kaya itu dan satu lagi untuk Aku dan dua anaknya. Bang Hasan rupanya tak ikut menginap di hotel, dia minta izin mengunjungi familinya di Bandung dan hari Minggu akan bergabung kembali. Tak berapa lama masuk kamar Putri ketiduran lagi. Kugunakan kesempatan ini untuk berberes-beres peralatan Putri. Setelah itu Aku berniat mau mandi. Si Ricky tadi hanya menaruh tasnya terus langsung keluar lagi, mau ke lobby katanya. Selesai Aku mandi Si Ricky sudah kembali, Putri masih tidur. Ricky langsung masuk kamar mandi. Aku masih belum terbiasa tinggal di hotel, jadi waktu masuk kamar mandi tadi Aku tak membawa pakaian dalam, seperti kebiasaan di kamarku. Jadi Aku keluar kamar mandi hanya mengenakan daster saja tanpa daleman. Aku bermaksud mau mengenakan bra dan CD khawatir nanti tiba-tiba Ricky keluar dari kamar mandi. Aku duduk di ranjang dengan tangan menggenggam pakaian dalam menunggu keluarnya Ricky. Begitu keluar dari kamar mandi Aku belum sempat bangkit Ricky langsung duduk di pangkuanku, menyandarkan punggungnya ke dadaku. “Entar dong Mas, mBak mau mandi dulu” “Lho, tadi mBak kan udah mandi” Aku salah omong, maksudnya mau ke kamar mandi. “Mau ke kamar mandi, ganti baju” “Bentar aja mBak, capek nih” Tanpa kuduga Ricky memutar punggungnya dan lalu tangannya mengusap buah dadaku. “Mas …. engga boleh nakal gitu” Aku kaget. “Pantesan …. empuk. Mbak gak pakai beha, ya” “Ini mau dipakai. Makanya Mas bangun dong”kataku sambil menunjukkan isi genggaman tanganku. “Pakai di sini aja, mBak” “Engga !” Lagi-lagi Ricky membuat gerakan tak terduga, belahan dasterku dikuaknya. “Lihat ya Mbak ….” Dengan cepat Aku mencegah tangannya dan lalu mendororng tubuhnya dari pangkuanku. “Kalo Mas nakal gitu, entar gak boleh pangku lagi, lho” “Ya deh mBak, sorry…” *** Selesai sarapan rencananya semua keluar pakai mobil Pak Anton yang setir. Pak Anton ke kantor sedangkan Bu Anton, Ricky, Aku dan Putri nanti turun di Mall untuk jalan-jalan. Tapi karena Si Putri masih pulas tidurnya, Aku tak jadi ikut, nungguin Putri. Tinggalah Aku di kamar sendiri, Putri begitu pulasnya. Aku rebahan di sebelahnya sambil baca majalah, tapi tak bisa konsentrasi. Ingatanku ke Mas Adi melulu. Aku bayangkan bila saja Mas Adi sekarang ada di sini …. ooh bisa dua atau tiga ronde kita ’selesaikan’ sementara menunggu mereka pulang. Bisa dilakukan di kasur ini, atau di atas karpet yang cukup tebal, atau di kamar mandi. Ya, di kamar mandi Aku duduk di tepian meja dekat wastafel dengan kaki membuka, lalu Mas Adi masuk sambil berdiri. Membayangkan itu semua Aku jadi basah … Khalayanku berlanjut. Kubayangkan Mas Adi telanjang bulat menindih tubuhku, lalu membukai dasterku dan menciumi buah dadaku. Pada kenyataannya tangan kiriku sendiri yang membuka kancing daster dan mengeluarkan buah dadaku dari bra, lalu jempol dan telunjukku memelintir puting dadaku. Ciuman Mas Adi bergeser ke bawah menciumi perutku. Pahaku kubentangkan lebar seolah menampung kepala Mas Adi yang sedang menjilati clit-ku yang membasah (kenyataannya : tangan kananku telah menyusup ke cd dan mulai menggosok-gosok). Nafasku makin memburu. Gelisah. Tubuhku berkelejotan dan serasa mulai melayang …. Tiba-tiba kudengar pintu diketuk. Aku kembali mendarat ke bumi dan dengan gugup merapikan bra dan dasterku. Sambil menyeka keringat di wajahku Aku berjalan menuju pintu. “Oh … Pak ….” Kaget bukan main Aku, ternyata Pak Anton. Tanpa bersuara Pak Anton langsung masuk dan menutup pintu kembali. Tiba-tiba Aku sadar akan bahaya yang bakal mengancamku. Celaka ! “Bapak engga ke kantor” tanyaku mengatasi rasa gugup. “Sstt…” jawabnya sambil memberi tanda menyilangkan jari di bibirnya dan mendekatiku. Kedua tangannya ke bahu kanan kiriku. Lalu sebelah tangannya membelai pipiku. “Narti …..”panggilnya dengan suara serak. Lidahku kelu. “Kuminta kamu rela ……..” jarinya merabai bibirku. “Tidak, Pak. Jangan ……” bibirnya menutup bibirku dan lalu melumatinya. Kedua belah angannya merangkul tubuhku. Aku dipeluknya erat sekali. Kurasakan benda keras itu menghunjam perutku. Uh …keras banget. Aku melepas ciuman, tapi tak mampu melepaskan rangkulannya. “Kumohon Pak …. jangan” kataku menghiba. Dadaku diremasnya. Aku menepis. Tangannya pindah ke pantatku, diremasnya pula. Lagi-lagi Aku menepis. Masih sambil memeluk tubuhku di dorongnya hingga Aku rebah di ranjang Ricky. Disingkapnya rok dasterku dan dipelorotkannya cd-ku. Gerakan yang tiba-tiba dan tak terduga ini gagal kucegah. Lalu Pak Anton membenamkan wajahnya di selangkanganku. Kututup pahaku hingga menjepit kepalanya. Pak Anton bangkit melepaskan jepitan pahaku. “Narti …. tolonglah … sebentar saja” “Jangan Pak …. ” kataku setengah menangis. “Sekali ini saja, udah itu saya tak akan ganggu lagi, Ti…” Tangan kuat Pak Anton membuka pahaku. Percuma. Sia-sia saja melawan gerakan Pak Anton yang kuat. Kubiarkan dia menjilati kewanitaanku. Aku malu Pak Anton tahu Aku telah basah. Akhirnya Aku pasrah. Semoga dia benar-benar menepati janjinya, hanya sekali ini saja. Toh seperti dulu, dia hanya sebentar saja. Oh … lidahnya sungguh amat berpengalaman, membuatku secara perlahan mulai “naik”. Aku muak dengan kelakuan majikanku ini, tapi Aku tak berdaya melawannya. Aku benci ! Aku membenci diriku sendiri yang tak berdaya melawan, malah terrangsang. Dalam keadaan frustasi begini apa yang bisa kulakukan selain menangis. Apalagi kini Pak Anton telah telanjang bulat dengan penis keras mendongak. Penis yang membuat Bu Anton merintih-rintih keenakan. Penis yang pernah sebentar memasuki tubuhku dan kini akan memasukinya lagi. Tangisanku yang sesenggukan menghentikan gerak Pak Anton yang telah membentangkan pahaku dan siap menusuk. Pak Anton merangkak mendekati mukaku. “Ti … kumohon kamu rela ….. sekali ini saja …” Aku masih sesenggukan. “Sekali ini saja … melayaniku, Ti …” “Kenapa engga sama Ibu aja ….” Lalu mulailah Pak Anton ngoceh nerocos tentang perlunya variasi bagi pria yang sudah belasan tahun menikah. Tentang dia tak berani meniduri perempuan sembarangan bila butuh variasi. Dia bisa saja ‘membeli’ perempuan yang paling mahal sekalipun, tapi dia tak mau melakukan. Seks dengan membeli itu sama sekali tak nikmat dan penuh resiko kena penyakit. Cerita berlanjut bagaimana dia telah mengamatiku dari sejak Aku mulai bekerja. Mengamati pergaulanku. Sehingga sampai pada kesimpulan bahwa Aku “bersih”. Dia makin yakin setelah menikmati ‘aroma’ kewanitaanku. “Si Adi sungguh beruntung” katanya lagi. “Punyamu sungguh berbeda” sambungnya. “Enak banget …. legit” katanya lagi makin ngaco merayuku. “Itulah kenapa saya tak kuat lama ….” Akunya. “Okay, sekarang jangan nangis lagi ya … saya minta kamu ikhlas memberikan” Pak Anton menggeser tubuhnya ke atas lagi sampai penisnya mendekati mukaku. Kulihat penis itu tak setegang tadi. Agak menurun. Lalu penis itu disentuhkan ke mulutku. Tiba-tiba terlintas dalam benakku. Lebih baik Aku oral saja dia sampai keluar lalu kumuntahkan maninya, daripada dia menyetubuhiku. Mendapatkan ide itu Aku tak menolak ketika penis itu mulai menerobos mulutku. Pak Anton mendesah. Aku tinggal membayangkan sedang mengulum penis Mas Adi. Benda itu dengan segera membengkak dan mengeras. Aku makin intensif menguluminya. Tapi Pak Anton mencabutnya. Aku kira dia akan muntah, tapi tidak. Pak Anton bangkit. Dibukanya pahaku lebar-lebar, lalu mengambil posisi siap tusuk. Menekan dan ‘kepala’nya masuk. Dipompanya sambil membentang pahaku lebih lebar lagi. Perlahan penisnya marasuk lebih dalam. Pompa lagi dan secara perlahan tapi pasti terus masuk. Sampai akhirnya seluruh batang telah tenggelam. Tubuhnya rebah menindihku, kedua belah tangannya menyusup ke punggungku dan memeluk kuat tubuhku. Perlahan pinggulnya mulai memompa. Naik-turun dan kanan-kiri. Kadang diputar. “Ooh …. kamu benar-benar sedap …..” bisiknya dekat telingaku. Oh … dia benar-benar telah menyetubuhiku. Pak Anton meniduri pengasuh anaknya dengan “disaksikan” oleh anaknya sendiri. Pak Anton asyik berhubungan seks dengan wanita bukan isterinya sementara anaknya tidur di ranjang yang hanya semeter jaraknya ! Kuharapkan beberapa kali pompaan Pak Anton segera mencabut dan menumpahkannya di perutku seperti waktu lalu. Harapanku meleset. Sudah belasan pompaan tak ada tanda-tanda ’sampai’. Justru timbul kekhawatiranku, aku mulai menikmati pompaannya ! Sungguh lihai dia membuat variasi gerak pompaan. Tusukan ’setengah’ dikombinasi dengan tusukan full. Tusukan ‘arah’ atas bervariasi dengan arah bawah. Hunjaman dari kiri bergantian dengan dari kanan. Pak Anton yang sekarang sedang memompaku berbeda dengan Pak Anton beberapa hari lalu. Entah kenapa dia jadi kuat sekarang. Hampir menyamai Mas Adi. Terus terang tubuhku mulai terangkat dan melayang … Suatu saat di tengah pompaan Pak Anton tiba-tiba mencabut. (dan … ah, sialan Aku jadi merasa ‘kehilangan’). Tiba saatnya juga akhirnya. Detik berikutnya akan kurasakan tumpahan hangat di perutku. Oh … tapi tidak ! Penis itu masih mengacung gagah. “Gantian Ti …. Aku di bawah …” pintanya. Aku mau saja bangkit dan memberi kesempatan Pak Anton rebah terlentang. Lalu tanpa diminta Aku melangkah mengangkangi tubuhnya. Dengan Mas Adi Aku memang biasa berganti posisi Aku di atas. Jadi Aku tahu maksud Pak Anton. Aku jadi tak malu-malu lagi menuntun penis Pak Anton agar tepat arahnya sebelum Aku menduduki tubuhnya. Aku juga tak malu menggoyang pinggulku di atas tubuh Pak Anton. Bahkan ikut ‘membantu’ kedua belah telapak Pak Anton meremasi buah dadaku. Lalu dia mengangkat punggungnya dan memeluk tubuhku. “Ohh … sedapnya kamu Ti …” Pelukannya makin erat sehingga tak memungkinkan kami bergoyang lagi. Tubuhnya diam memeluk. Celaka, jangan-jangan dia keluar. Dalam posisi begini jadi susah mencabutnya. Ternyata tidak. “Ganti posisi lagi ya sayang …” Uh, dia memanggilku dengan ’sayang’. Kulepaskan penisnya lalu Aku turun dari pangkuannya dan ambil posisi terlentang. Kulihat penisnya masih perkasa begitu. Sungguh mengherankan, berbeda jauh dibanding beberapa hari lalu … “Telungkup …Ti” perintahnya. Ohoi, Aku nurut saja. Begitu juga ketika dia mengatur posisiku seperti merangkak. Gaya apa pula ini ? Mas Adi belum pernah begini. Punggungku dimintanya lebih merendah lagi. Pinggul bertumpu pada lutut. Dan ….. ahh … penis Pak Anton memasuki tubuhku dari arah belakang (belakangan Aku tahu ini adalah gaya ‘doggie’), persetubuhan gaya anjing. Enak juga … Gila nih lelaki, masih belum nyampe juga. Padahal beberapa hari lalu dia ‘peltu’, menempel langsung ‘metu’ (keluar). Setelah banyak tusukan gaya doggie, Pak Anton minta mengubah lagi dengan gaya ‘biasa’, Aku di bawah. Rasanya gaya ini yang paling mendatangkan kenikmatan. Kembali Pak Anton mempraktekkan berbagai variasi tusukan. Dan … Oh … Aku juga tak kalah seru merintih dan melenguh. Merambat naik pelan dan pasti. Serasa tubuh mulai terangkat dan melayang-layang. Makin tinggi dan tinggi ….. dan ….. tubuhku bergetar. Tepatnya ‘kedutan’ tubuh yang teratur dan di luar kontrolku. Kesadaranku sejenak hilang. Hawa nikmat yang terpusat di selangkanganku kini menyebar ke seluruh tubuh, sampai ke ujung-ujung jari sekalipun. Sampai-sampai tubuh Pak Anton ikut berkedut, karena selama proses “the big-O”ku ini dia menghentikan tusukannya dan mendekap tubuhku kuat-kuat. Ketika beberapa saat kemudian kedutan tubuhku makin melemah, Pak Anton melepas dekapannya dan bangkit lalu mulai menusuki lagi. Ampuun …. rasanya …. ngilu ! Untunglah penderitaanku ini tak lama. Suatu saat dia mempercepat pompaannya, lalu penisnya dicabut dan tumpah di perutku. Maninya membasahi perutku yang telah basah oleh keringat. Keringat kami berdua. “Uuhh …. uuhhh …. “lenguhnya di sela-sela tarikan nafasnya yang memburu. Lalu tubuh itu rebah di atas tubuhku. Kurasakan berat tubuhnya bertambah. Mungkin karena dia lemas sehingga membebankan seluruh berat tubuhnya pada tubuhku. “Ooh …Ti …. kamu sedap banget ….”bisiknya di dekat telingaku sambil masih terengah. Aku diam. Pipiku diciumnya, lalu “Punyamu itu …. nikmat banget ….” Aku masih diam. “Sempit dan legit …..” Tiba-tiba Aku tersadar. Aku yang sedang dalam proses mendarat kembali ke bumi serasa dibangunkan dari mimpi. Ucapan Pak Anton yang terakhir itulah yang menyadarkanku. Sadar betapa bodohnya Aku. Bagi Pak Anton Aku adalah bukan siapa-siapa. Aku hanyalah seonggok daging yang dipilihnya karena ’sempit dan legit’. Memang baru saja dia memberiku kepuasan sama seperti yang dilakukan Mas Adi, tapi itu hanyalah ‘efek samping’ dalam rangka usaha dia mencapai kenikmatan. Aku hanyalah sebongkah tubuh alat pemuas nafsu. Celakanya Aku membiarkan saja semuanya terjadi. Membiarkan tubuhku ini sebagai alat dia mencari kenikmatan. Posisiku sebagai pekerja tak mampu menolak umbaran nafsunya. Posisiku memang lemah. Dalam diriku tiba-tiba muncul rasa benci. Benci kepada diriku sendiri kenapa jatuh pada posisi yang lemah begini. Juga benci kepada tubuh yang menindihku, majikanku ini, yang telah memanfaatkan posisi di atas anginnya untuk mendapatkan kenikmatan. Aku marah. Darahku mendidih. Aku berontak. Dengan mudah Aku lepas dari dekapan Pak Anton dan tubuh itu terguling dari badanku, bahkan dia hampir terjerembab ke karpet. “Ti ….. ” teriaknya. Aku tak peduli. Aku bangkit masuk ke kamar mandi. Seharusnya Aku tadi mendorong tubuhnya biar sampai jatuh. Seharusnya Aku tadi memakinya ketika dia teriak. Tapi Aku tak berbuat apa-apa. Rasa benci dan marah hanya bisa membuatku menangis. Pak Anton masuk. “Kenapa nangis, Ti ?” Kenapa kepalamu ! Bahuku disentuh. Langsung tangannya kutepiskan. “Bapak lebih baik keluar sekarang” teriakku. “Ya ..ya….tapi kenapa ?” “Atau saya telepon Ibu ?” “Okay …. okay ….” dengan cepat dia keluar. Kukunci pintu kamar mandi. Kulanjutkan tangisku. Aku benar-benar membencinya. Sejurus kemudian pintu kamar mandi diketuk. Pak Anton memanggil-manggil namaku. “Bapak belum juga keluar !” teriakku. “Putri bangun, Ti …” “Pokoknya keluar dulu !” Kubersihkan tubuhku dari ceceran mani Si Maniak itu. Setelah Aku yakin Pak Anton telah keluar kamar, Aku baru keluar kamar mandi. Kudapati Putri nangis di pinggir ranjang, hampir jatuh, kubiarkan saja. Aku jadi malas mengurusnya. Tapi lama-lama Aku kasian juga, anak ini tak bersalah. Yang jahat adalah bapaknya, kenapa dia yang jadi korban ? Kuambil Putri dan kupangku, langsung saja dia menyergap buah dadaku. Oh … Aku baru sadar belum berpakaian. Ah biar saja, Putri begitu asyik mengemoti putingku. Biar saja kalau tiba-tiba Bu Anton masuk melihat Aku ‘menyusui’ anaknya. Sekalian saja Aku akan bilang tingkah suaminya yang telah meniduriku. Biar mereka bertengkar. Biar. Begitu bencinya Aku pada Pak Anton, diam-diam tumbuh rasa dendam di hatiku. Ingin membalas kelakuannya. Tapi bagaimana cara membalasnya ? Sekarang memang belum terpikirkan. Pokoknya nanti begitu ada kesempatan, aku akan melakukannya. Aku tak tahu apa yang harus kukerjakan siang ini. Bu Anton dan Ricky belum pulang dari Mall, Si Putri sudah tertidur. Ah, lebih baik Aku tidur saja, lelah juga tubuhku dikerjain oleh Si Munafik itu. Dia benar-benar munafik. Sering sekali dia menunjukkan keluarga yang harmonis, sangat sayang kepada isterinya. Tapi dibelakang isterinya diam-diam dia meniduri pengasuh anaknya, sambil menceritakan kekurangan isterinya. Kurapikan tempat tidur kembali. Kutata sprei yang berantakan dan kubetulkan letak bantal. Tiba-tiba mataku menangkap ada sampul tertutup di bawah bantal. Sampul surat berlogo perusahaan Pak Anton dan tak ada tulisan tangan di atasnya. Milik siapa ini ? Karena rasa penasaranku kubuka sampul itu. Ternyata isinya setumpuk uang dan selembar kertas bertulisan tangan : “Narti, Bapak puas banget. Terima kasih ya. Besok Bapak hubungi lagi” Mandadak darahku mendidih. Kurobek kertas itu dan kulempar amplopnya. Isinya berantakan dilantai. Kurang ajar ! Dianggapnya Aku ini apa ? Perempuan bayaran ? Benar-benar suatu penghinaan dan pelecehan ! Tak pernah sedikitpun terlintas di kepalaku untuk menerima banyak uang tanpa bekerja. Untuk apa Aku bersusah payah kerja sebagai perawat di rumah sakit ? Untuk apa Aku kerja sebagai baby sitter ? Niatku makin bulat untuk membalas dendam. Hati boleh panas tapi kepala harus tetap dingin, begitulah ajaran ibuku. Mana bisa menyusun rencana pembalasan dengan kepala panas ? Aku coba untuk mendinginkan diri. Kukumpulkan kembali uang yang berserakan itu, Aku masukkan ke dalam sampulnya bersama secarik kertas tulisannya. Rencana uang itu akan kusimpan saja, tak akan kugunakan. Jumlahnya hampir sama dengan dua bulan gajiku. *** Ketika keluarga Anton makan malam bersama di restoran hotel, Aku ikut untuk menyuapi Putri. Sesekali ekor mataku menangkap mata Pak Anton mencuri-curi pandang ke arahku. Suatu saat dengan memasang muka marah kutatap mata Pak Anton, aha … dia cepat menunduk dan jadi salah tingkah. Selesai makan kami jalan-jalan menyusuri jalan depan hotel menikmati udara malam Bandung yang sejuk, lalu masuk ke (lagi-lagi) Mall. Beginilah model orang kaya berlibur. Kalau tidak ke luar negeri, ke Bali, atau jalan-jalan ke Mall membeli apa saja. Suatu saat di sebuah butik di lantai 1 Bu Anton sedang sibuk memilih-milih pakaian, Pak Anton mendekatiku. “Awas … saya akan teriak” bisikku ketika tangannya mulai menjamah pipi Putri yang kugendong. Aku mengantisipasi gerakan tangan dia selanjutnya. Pak Anton langsung menjauh. Ciut juga nyalinya. Mungkin saja dia memang hanya ingin menyentuh anaknya, bukan menjamahku, Aku tak peduli. Pulang dari jalan-jalan Aku sudah demikian lelahnya ingin cepat-cepat merebahkan tubuh. Untunglah Putri sudah lelap. Ricky menonton TV. “Kecilin suaranya ya Mas, mbak mau tidur” Ricky mematuhiku. Lalu Aku terlelap …. Aku memimpikan Mas Adi tiba-tiba menyusul ke Bandung dan marah-marah kenapa Aku mau saja ditiduri Pak Anton. Sambil menangis Aku menjelaskan situasinya yang menyudutkanku. Aku juga menyalahkannya. Lalu tiba-tiba Mas Adi telah menindih tubuhku. Dibukanya kancing dasterku dan kemudian bra-ku. Diusapnya bulatan buah dadaku, usapan seperti biasa, mengambang antara sentuhan dan tidak. Lalu puting dadaku dikemotnya. Aku terbangun … Kaget bukan main Aku. Begitu membuka mata kurasakan sesosok tubuh menindihku. Ah ini mimpi. Ketika kesadaranku berangsur pulih, hey … ini bukan mimpi. Samar-samar kulihat tubuh itu benar-benar ada. Kepalanya menyusup di dadaku. Mulut itu benar-benar mengulumi. Kemotannya terasa di putingku. Aku berusaha bangkit, ah tubuhku lemah, kesadaranku belum pulih benar. Tubuhku hanya sedikit terangkat. Kuluman itu terlepas. Ketika Aku benar-benar telah sadar sepenuhnya, kuangkat kepala yang menindih dadaku. Ricky ! “Kurang ajar !” tanganku melayang menampar pipinya, kanan dan kiri, cukup keras. Aku marah benar. Kucengkeram kedua belah bahunya dan kuguncang-guncang sementara mulutku memuntahkan bermacam makian. Ricky pasif saja, tak melawan. Mukanya menunduk. Aku sadar, tak ada gunanya menyiksa anak ini. Cengkeraman kulepaskan. Meskipun Aku jengkel bukan main tapi Aku masih mampu menahan diri. Baru kusadari anak majikanku ini telanjang bulat. Pakaiannya berserakan di karpet. Aku membetulkan letak bra-ku yang tersingkap ke atas dan memasang kancing dasterku kembali. Kulihat Ricky sesenggukan, tubuhnya berguncang. Ricky menangis. Kubiarkan dia. Menangis karena kupukuli tadi atau karena apa Aku tak peduli. Entah sudah berapa lama tangisnya tak berhenti juga. Lama-lama timbul rasa iba. Anak ini sebenarnya anak baik, penurut, tidak nakal, punya tenggang rasa kepada pembantu sekalipun. Aku sungguh tak menyangka dan shock mendapati dia menjamahi tubuhku. Selama ini Aku menganggap dia masih anak-anak. Tingkahnya memang manja kekanakan. Tapi kelakuannya tadi adalah kelakuan lelaki dewasa. Anak sekarang memang cepat matang dalam hal seksual, padahal Ricky baru kelas 2 SMP. “Kenapa kamu, Rick ?” Mendadak Ricky bangkit dan kepalanya rebah di pahaku, tangisnya makin keras. “Maafkan saya, mbak ….” katanya terbata-bata. “Saya emang jahat kepada mbak …”lanjutnya. “Saya engga bisa menahan …… saya tak tahan mbak ….” Tak tahan ? Apanya ? Tapi Aku malas bicara malam ini, masih ngantuk. Begitu nyenyaknya tadi Aku tidur sampai tak merasakan Ricky telah membuka kancing dasterku dan menyingkap bra-ku bahkan menciumi dadaku. “Udah tidur sana, udah setengah satu” ujarku. “Tapi mbak mau memaafkan saya, kan ?” “Ya. Asal jangan kamu ulangi lagi” “Ya mbak” “Kalau kamu nakal lagi, mbak akan seret kamu keluar kamar, mbak kasih tahu papa mama” “Saya janji mbak” “Pakai baju kamu terus tidur” Ricky menurut. Kuperhatikan Ricky mengenakan pakaiannya. Tubuhnya memang telah menjadi tubuh lelaki dewasa. Bahkan kelaminnyapun tak beda dengan kelamin lelaki dewasa. Anak ini memang sedang tumbuh. Aku harus lebih berhati-hati. Setelah Ricky merebahkan tubuhnya hendak tidur, Aku berniat keluar kamar sekedar menghirup udara segar. Kulihat dibawah pintu ada secarik kertas tergeletak. Kurang ajar ! Tulisan Pak Anton. Kulirik Ricky sudah terlelap, Aku mendekat ke lampu baca di dekat bed. “Besok pagi jam 10 Bapak tunggu di kamar 509 lantai 5″. Lelaki ini benar-benar ular ! Berlibur ke luar kota membawa keluarganya, menginap di hotel mengambil 2 kamar di lantai 4, sementara diam-diam dia mengambil kamar lagi di lantai berbeda dan dengan penuh percaya diri mengajak pengasuh anaknya untuk disetubuhi ! Benar-benar keterlaluan. Tunggu saja besok ! Hampir saja Aku merobek-robek kertas itu. Rencanakulah yang mencegah Aku merobek. Kulipat kertas itu baik-baik lalu kusimpan dalam sampul uang tadi. *** Esok harinya, Sabtu, Ricky jadi murung dan pendiam, tak seperti biasanya yang lincah. Dia menghindar setiap kutatap matanya. Tak lagi bermanja-manja ke pangkuanku. Bahkan kalau tak dipaksa ibunya untuk sarapan, dia tak mau makan. Tak heran pula ketika diajak bapak-ibunya jalan-jalan dia pilih tinggal saja di hotel. “Kamu sakit, Nak ?” tanya ibunya. “Engga, Ma …” “Trus kenapa ngga mau jalan ?” “Males aja. Capek. Lagian Ricky pengin main play-station” Setelah ayahnya pergi Ricky memang terus memasang perangkat play-station ke TV kamar dan lalu tenggelam dengan mainan yang populer di kalangan anak-anak dan remaja itu. Aku tahu, Pak Anton tidak benar-benar pergi keluar hotel. Paling-paling hanya naik satu lantai. Aku sebenarnya ingin meng’interogasi’ anak ini dan ingin tahu kenapa dia tadi malam sampai senekat itu. Kubiarkan dia main sampai satu jam dan akhirnya dia matikan TV dan beranjak keluar kamar. “Ricky” panggilku. Dia menoleh sekejap terus menunduk. Tapi dia mengurungkan niatnya keluar kamar dan berjalan mendekatiku. “Duduk, mbak mau bicara”. Ricky duduk di tempat tidur Putri dan Aku duduk di tempat tidur lainnya. Dia diam menunggu. “Kenapa kamu tadi malem ?” Ricky diam, kepalanya makin menunduk. “Bicaralah, mbak engga marah lagi kok” sambungku. “Bener, mbak engga marah lagi ?” “Asal kamu mau terus terang” Lama dia diam terus belum mau membuka mulut. Aku harus bersabar menunggu. “Saya …saya memang udah lama pengin ….” katanya terbata-bata. “Pengin ? Pengin apa ?” “Ya … begituan …” Sementara Aku masih terkejut betapa cepatnya anak ini jadi ‘matang’, Ricky nerocos melanjutkan. “Temen-temen Ricky sering cerita begituan sama pacarnya, kaya’nya enak banget. Ada juga yang sama cewe bayaran … Ricky pengin juga, tapi nggak punya pacar …” Oh, anak ini masuk dalam lingkungan pergaulan yang salah. Berani bertaruh, ibunya pasti pingsan mendengar anaknya sudah sejauh ini. “Papa mama udah tahu Ricky pengin begituan ?” “Jelas engga dong mbak” “Kenapa kamu engga cerita ke papa atau mama ?” “Engga berani …. Ricky takut …” “Kenapa kamu berani sama mbak ?” “Maaf mbak ….. ” wajahnya sudah mau menangis. “Maksud mbak … kenapa kamu pengin ke mbak ?” “Mbak kan baik banget sama Ricky … minta pangku …. nyender ke mbak ….” “Tapi ….” belum selesai Aku bicara Ricky memotong. “Sebenarnya Ricky naksir cewe temen sekelas. Anaknya manis. Ricky suka kalo lihat dia senyum … manis banget. Badannya tinggi hampir sama ama Ricky … trus … teteknya gede” “Trus … kamu pacari dia ?” “Iya … tapi … belum. Gini, Ricky udah deketin dia. Kayanya dia nerima, tapi kadang-kadang dia juga acuh. Paling makan ke kantin berdua. Kalo deketan ama dia Ricky suka engga tahan … “Engga tahan apa ?” “Ngliat dadanya …. pengin Ricky remes atau ciumin … kaya temen-temen ama pacarnya …” “Trus ?” “Tapi … tapi …..” “Tapi apa ?” “Dadanya lebih bagus … punya mbak ….” “Bagus apanya ?” “Mbak ngga marah kan ?” “Engga “ “Punya mbak bulat …. dan lebih gede …” Tentu saja, bandingannya sama anak SMP yang baru tumbuh. “Pernah suatu ketika Ricky udah ngga tahan … trus Ricky pegang dadanya … wah dia marah banget … ampe sekarang dia engga mau ngomong lagi ama Ricky”lanjutnya. “Trus kenapa berani ganggu mbak ?” Ricky diam. “Kenapa Ricky ?” “Habisnya … habisnya Ricky pengin banget …lagian mbak tidurnya pules banget sih. Coba kalo mbak waktu itu bangun … engga sampai begitu …” Pengakuan polos anak-anak. Aku bisa menerima penjelasannya, bisa memaklumi perbuatannya. Kelakuan seorang anak yang baru mulai tumbuh, yang selalu ingin tahu segalanya, termasuk soal seks. Yang tidak bisa kuterima adalah kenapa bapak dan anaknya sama-sama nakal terhadapku. Seolah menganggapku hanyalah obyek belaka. Cuma obyek seksual. Aku memang memendam dendam kepada bapaknya. Tiba-tiba terlintas pikiran jahat di kepalaku. Ah … tidaklah. Pintu kamar di ketuk, Bu Anton masuk. “Ti, Ibu mau keluar dulu ya” Kulihat arlojiku, pukul 9.25. “Saya ikut ya Bu …” “Kan Putri lagi tidur …” “Entar saya gendong aja” Tatapan mata Bu Anton rada aneh. “Ayolah” Di perjalanan Bu Anton menanyaiku “Kenapa kamu pengin banget ikut” “Mengganggu Ibu, gitu ?” “Engga ….. cuman engga biasanya kamu begitu” “Gak ada pa-pa kok Bu. Bosan di kamar terus” Alasanku yang sebenarnya sih menghindari ajakan Pak Anton untuk ‘ngamar’. Rasain dia menunggu terus …. *** Tingkah Pak Anton sewaktu makan malam di restoran tadi benar-benar membuatku ingin melaksanakan pikiran jahatku. Kami makan malam hanya berempat, Ricky tak mau turun hanya minta dibelikan makanan. Padahal Bu Anton hanya ke toilet sekitar 5 menit, masih sempatnya dia merabaku sambil berbisik : “Kenapa tadi engga dateng ? … saya pengin lagi ….” Dengan kasar kutepis tangannya, lalu kubawa Putri menghindar. Aku benar-benar marah. Marah karena dia tahu persis Aku tak bakalan lapor kepada isterinya. Dia tahu persis posisiku yang lemah dan lalu memanfaatkannya. “Gimana Ti ….?” “Pokoknya begitu Bapak mulai macem-macem lagi, saya langsung bilang ke Ibu !” ancamku. Mendadak dia jadi diam seribu bahasa, lalu kembali ke tempat duduknya dan minum. Wajahnya sungguh sulit dibaca. Tegang mungkin. “Cuman segitu …..” pikirku. Lelaki gagah itu langsung surut begitu mendengar ancamanku. Begitu takutnya dia kalau isterinya tahu. Padahal Aku cuma mengancam, belum tentu berani melaksanakan ancamanku. Karena Aku belum berniat berhenti kerja, Aku masih punya ‘hidden agenda’, yaitu rencana untuk membalas dendam ! Malam ini keluarga Anton tak punya acara, setelah makan malam suami isteri itu langsung menuju kamar dan mengurung diri. Mungkin karena besok harus bangun pagi untuk kembali ke Jakarta. Atau mungkin Pak Anton sudah tak tahan ingin segera melampiaskan hasrat seksualnya yang tadi tertahan. Melampiaskan ke ‘jalan yang benar’, yaitu kepada isterinya. Akupun segera ke kamarku menidurkan putri. Si Ricky masih takut-takut kepadaku. Dia masih asyik bermain game. Tak seperti biasanya ikut bermanja-manja ketika Aku menidurkan adiknya. “Udah malam, kamu besok harus bangun pagi-pagi. Tidurlah” kataku. “Ya mBak”. Ricky langsung mematikan mainannya dan merebahkan diri ke kasur. Anak ini memang jadi pendiam. Aku memejamkan mata mencoba tidur. “mBak ….” suara Ricky mengejutkanku ketika Aku hampir terlelap. “Ada apa ?” “mBak udah tidur ?” “Hampir” “Ricky mau nanya-nanya boleh nggak” Tampaknya Ricky sudah pulih, tak takut-takut lagi bicara kepadaku. “Nanya apa” “Kalau begituan bisa hamil ya mBak” “Kamu udah begituan ….?” agak kaget juga Aku. Pertanyaan yang tak kuduga. “Engga lah mBak. Temen Ricky yang bilang” “Apa katanya” “Dia engga berani ‘gituin’ pacarnya. Takut pacarnya hamil” “Kamu memangnya belum tahu” “Belum” “Engga diajarin di sekolah” “Engga dong, masa pelajaran gituan” “Di Biologi kan ada pelajaran tentang terjadinya bayi” “Engga ada tuh mbak. Gimana dong mBak, Ricky pengin tahu” Aku lalu cerita tentang terjadinya pembuahan sel mani dan sel telur melalu proses hubungan kelamin, tentang janin sampai menjadi bayi. “Hmm … pantesan” komentarnya. “Apanya ?” “Si Rudy sering gituan tapi pacarnya tapi engga hamil. Kata dia cabut duluan sebelum keluar” “Temen sekolah kamu udah ada yang pintar begitu” “Dia udah SMU kok mBak. Kalau begituan kayanya enak banget ya mBak” “Ya … kalau engga enak nanti gak ada manusia yang mau punya anak. Trus akibatnya manusia bisa punah” Tiba-tiba terlintas pikiran burukku. Inilah saatnya ! Telah tiba waktuku untuk bertindak ! Ah …. tapi aku tak tega. Lain kali saja dipertimbangkan lagi. “Udah tidur aja” Aku mencoba tidur lagi. Si Ricky tampaknya belum tidur juga. Badannya bolak balik. “Ricky engga bisa tidur …” keluhnya setelah setengah jam tak bersuara. Aku diam saja. “mBak, Ricky gak bisa tidur” ulangnya. “Ya udah, jangan ganggu mBak dong” Lalu hening. Tapi sejurus kemudian. “mBak ….” “Apa lagi sih Rick” Aku mulai jengkel. “Ricky mau pindah kesitu boleh ?” Di bed besar ukuran King ini Aku biasa di sisi kiri, Putri di tengah, lalu Ricky di sebelah kanan. “Ya udah sini” pikirku, supaya dia cepat tertidur dan tak menggangguku lagi. Ricky dengan perlahan menggeser adiknya sedikit kekanan, lalu dia tidur di tengah. “Hati-hati entar adikmu jatuh lho” “Engga kok mBak, udah diganjal ama guling” “Peluk Ricky dong mBak, supaya cepet tidur” Aku diam. Malas. Bahkan memiringkan tubuhku membelakanginya. “Ya udah, Ricky aja yang peluk mBak” Kubiarkan saja Ricky memeluk tubuhku dari belakang. Lalu ketika Aku mulai terlelap, kurasakan sesuatu menekan pinggangku. Anak ini memang sedang mendekati puber, menjadi gampang terrangsang. Hari-hari sebelumnya dia sering memeluk tubuhku seperti ini, tapi tak kurasakan apa-apa. Mungkin sejak dia berani menjamahku kemarin, “penghayatan” atas sikap memeluk tubuhku menjadi berbeda. Sekarang ini bukannya seorang anak memeluk tubuh pengasuhnya, tapi sesosok tubuh lelaki menjelang puber yang sedang memeluk tubuh seorang wanita dewasa. Kenyataan ini telah membuatku mengambil keputusan : sekaranglah saatnya. Telah tiba waktunya untuk membalas dendam kelakuan Pak Anton terhadapku. Telah datang saatnya untuk membuat seorang anak 12 tahun menjadi “dewasa” secara mendadak. Ya, inilah waktu yang tepat ! Aku lalu melepaskan diri dari pelukan Ricky dan turun dari tempat tidur. “Mau kemana mBak ?” “Pipis” Di dalam kamar mandi yang terkunci Aku melepaskan dasterku. Bra dan celana dalam kulepas juga. Aku telanjang bulat berdiri di depan cermin mengamati tubuhku sendiri. Sepasang buah dada yang bentuknya tak berubah sejak mereka tumbuh, masih bulat kencang ke depan. Perut bak landasan rata dengan dihiasi pusar yang begitu melesak ke dalam. Lalu dibawahnya tumbuh bulu-bulu halus menutupi permukaan lubang kelamin yang katanya ‘legit’, begitu pria beristeri di kamar sebelah pernah mengatakannya. Inilah bedanya antara lelaki nakal yang sudah berpengalaman itu dengan lelaki seperti Mas Adi. Mas Adi hanya berkomentar ’susah masuknya’ atau ‘enak banget’, bukannya legit. Emangnya kue lapis ! Kukenakan dasterku kembali lalu Aku keluar dengan meninggalkan bra dan celana dalamku di gantungan kamar mandi. Inilah saatnya ! Kurebahkan tubuhku di kasur, kali ini Aku terlentang dan memejamkan mata, pura-pura hendak tidur. Ricky yang tadinya terlentang memiringkan tubuhnya ke arahku, lalu kurasakan sebelah tangannya memeluk perutku dan sebelah kakinya menyilang di atas pahaku. Aku dipeluknya seperti kebiasaannya memeluk guling. Segera saja kurasakan kelamin tegang itu mendesak sisi pinggulku. Persis seperti dugaanku telapak tangannya mulai merabai dadaku setelah setengah jam dia diam saja. Dia berani memulai setelah Aku disangkanya telah tertidur. Kubiarkan tangannya membukai kancing atas dasterku satu persatu, lalu tangannya menyusup ke balik dasterku. Mungkin dia kaget melihat Aku tak memakai bra. Diciuminya bukit dadaku lalu mulutnyapun sampai ke putingnya, dikemotnya. Saatnya beraksi. Tanganku lalu membelai-belai rambut dan punggungnya. Ricky tersentak mengetahui ternyata Aku tak tidur. Kulumannya terlepas dan kepalanya terangkat memandangiku. Aku tersenyum. “mBak ……” “Kamu mau ngapain lagi, Rick ?” “Ricky pengin mBak ….. pengin banget …. boleh ya mBak ?” “Pengin apa …” “Pengin main sama mBak” “Main apa ….” “Ah … mBak ini. Boleh ya mBak ?” “Ntar kalo mBak hamil gimana ?” “Kaya Si Rudy aja, dicabut ….” “Bener kamu pengin …” “Bener mBak, banget !” “Kenapa engga sama temen sekolah kamu, yang sebaya …” “Temen sekolah nyebelin. Penginnya sama mBak aja” “Kenapa pengin sama mBak ?” “Habisnya mBak baik …” “Engga nyesel kamu ?” “Engga !” “Lepas dulu baju kamu” Kontan Ricky bangkit dan secepat kilat melepas pakaiannya hingga telanjang bulat. Penisnya sudah begitu tegang mengacung, tak beda dengan penis orang dewasa. Lalu tanpa diminta dia melepas kancing dasterku terus kebawah. Ketika sampai di kancing bagian bawah perut, dia tertegun melihat Aku tak memakai celana dalam lagi. Ketika dasterku telah lepas seluruhnya, Ricky langsung menindih tubuhku. Penisnya menekan-nekan selangkanganku, tapi salah sasaran. “Bukan begitu caranya ……. sini…..” Tanganku meraih batang penisnya, kusuruh dia menempatkan kedua lututnya di antara pahaku yang kubuka lebar. Kutuntun penisnya menuju arah yang benar, liang senggamaku. Tusukan dia tadi mengarah di atas clit-ku. Lalu kuberi isyarat agar dia mulai menekan. Aku belum basah benar sehingga dengan susah payah akhirnya Ricky berhasil membenamkan seluruh batang penisnya ke dalam tubuhku. Lalu dari berlutut dia mengubah posisi tubuhnya menjadi menindih tubuhku. Kupeluk erat tubuhnya ….. tapi sesaat kemudian mendadak dia mengangkat tubuhnya kembali dan lalu dengan cepat mencabut penisnya. Dan …. air maninya berhamburan di perut dan dadaku. “Hmmm …kok udahan …” komentarku mulai menyerang. “Habis …. engga tahan lagi mBak ….” katanya terengah-engah. “Bentar banget ….” kataku menusuk. Ricky diam. “Cuman bikin kotor badan mBak doang …” “Apa enaknya kalo begini ….” Aku terus menyerangnya. Menghancurkan harga dirinya. “Berhubungan seks tak boleh egois, asal dirinya udah puas lalu selesai. Lihat juga gimana pasangan kita, apa dia juga puas” lanjutku. Ricky masih diam. Sebenarnya Aku juga tahu kenapa dia begitu cepat ejakulasi. Ini merupakan pengalaman pertama bagi Ricky dalam bersetubuh. Letak lubangnyapun dia belum tahu persis. Cepat selesai bagi lelaki yang pertama kali melakukan adalah hal wajar. Mas Adi juga begitu. Sudah bagus Ricky mampu sampai penetrasi. Seranganku ini merupakan langkah pertama dari agenda balas dendam. Langkah kedua atau langkah terakhir sudah tersusun di kepalaku. Hanya pelaksanaannya membutuhkan persiapanku, baik mental atau fisik, serta waktu yang tepat. Yang jelas langkah pertama ini Aku nilai berhasil. Ricky sama sekali berubah, menjadi pendiam. Tak pernah lagi bicara denganku. Jangankan bicara, melihat mukakupun seperti ketakutan. *** Waktu yang kutunggupun hampir tiba, setelah Mas Adi menyetujui rencanaku pindah ke Semarang menyusul dia. Sebelum dia setuju memang terjadi ‘diskusi’ yang cukup seru. “Kenapa sih kamu tinggalin kerja yang udah enak ini” tanyanya. “Habis …. Mas belum tentu bisa ke sini tiap minggu” jawabku. Baru kali ini Aku menyembunyikan sesuatu dari Mas Adi. Aku terpaksa tidak berterus terang mengatakan alasanku yang sebenarnya. Yaitu menghindar dari Pak Anton sekaligus membalas dendam. “Itu kan awalnya aja, mulai Maret nanti Mas bisa kok tiap minggu ke Jakarta” “Maret masih lama … penginnya sekarang ini tiap minggu ketemu ama Mas” “Kenapa …. kangen ya ama Mas” pipiku diciumnya. “Engga, cuman kangen sama ini …” ku-elus penisnya. Lalu Mas Adi menubrukku hingga Aku terlentang. Saat berikutnya dia menelanjangiku. ‘Diskusi’nya break dulu. Ada selingan Selingan nikmat : persetubuhan. “Kamu engga ada masalah dengan keluarga Anton, kan ?” tanyanya. Tubuh Mas Adi masih menelingkupi tubuhku, bahkan kelamin kamipun masih ‘berhubungan’. Tadi kami sepakat untuk melakukan hubungan seks ‘dengan sebenar-benarnya’. Artinya, Mas Adi tak perlu mencabut menjelang puncak. Mas Adi ber-ejakulasi di dalam tubuhku. Sungguh suatu sensasi baru. Merasakan pengalaman baru bagaimana benda hangat itu berdenyut-denyut di dalam sana….. Kalau ternyata benih itu ‘jadi’, ya urusan nanti lah. “Engga ada masalah apa-apa kok” “Trus kamu nanti kerja di mana ?” “Kerja di rumah sakit ajalah. Lebih enak kaya’nya” “Katanya dulu lebih enak jadi baby sitter” “Iya dulu ….. sekarang lain. Entar bantuin Narti bikin surat-surat lamaran ya Mas” “Okelah, kalau mau kamu begitu” “Bener nih, Mas setuju ?” “Iya” “Engga nyesel …” “Nyesel apa ?” “Entar ketahuan punya simpenan di Semarang ….” candaku. Digigitnya buah dadaku. “Rupanya itu ya alasanmu …” *** Minggu pagi itu Aku sudah siap. Semua pakaianku sudah kumasukkan kedalam koper kecil, dan barang-barang lainnya telah masuk ke tas jinjing. Rasanya seluruh benda milikku telah Aku kemas, kecuali sampul berisi uang dan selembar kertas dari Pak Anton dulu, sengaja Aku rekatkan ke cermin hias dengan selotape. Kukunci pintu kamarku dan kuncinya Aku bawa. Mas Adi dan temannya sudah siap mengantarku ke stasiun Gambir dengan mobil kakaknya. Dia sekarang parkir di depan rumah. Sengaja tak kuminta masuk dia masuk, alasanku agar tak berlama-lama pamitnya. Pagi ini Aku dan Mas Adi akan ke Semarang dengan KA. Kubawa 2 tas itu ke depan, di mana Pak dan Bu Anton duduk-duduk minum teh. “Ibu boleh check isi tas-tas ini” kataku sambil membuka koper dan tasku lebar-lebar. Supaya dia yakin Aku tak membawa benda-benda bukan milikku. “Tak perlu Ti, Aku percaya kamu. Kamu sudah pikirkan benar ?” tanya Bu Anton. “Sudah Bu” “Terus terang Ibu menyayangkan keputusanmu. Ibu inginnya kamu tetap di sini” “Saya sudah putuskan, Bu” “Jujur saja Ti ya. Ada apa sebenarnya ?” “Engga ada apa-apa, Bu. Ini hanya demi masa depan saya bersama Mas Adi” Ekor mataku menangkap Pak Anton sedang menatapiku. “Toh dengan kerja di sini tak ada masalah dengan pacarmu, kan ?” “Lebih baik kalau saya tingga satu kota dengan tunangan saya, Bu” “Atau ada masalah lain, gaji misalnya ?” “Engga ada masalah dengan gaji” “Anak-anak, Bi Ijah atau Bang Hasan ?” “Sama sekali tidak” “Lalu apa ?” “Ibu benar-benar ingin tahu ?” “Iya dong” Saatnya mulai serangan. “Ibu bisa tanya ke Bapak !” kataku dengan nada rada tinggi dan menatap mata Pak Anton. Mata Bu Anton terbelalak. Ditatapnya suaminya, lalu pindah memandangku. Ke suaminya lagi. Berganti-ganti. “Kalian ….berdua …………… ?” katanya kemudian. “……A….Aku…. tak percaya ….” kata Bu Anton terbata-bata. Saatnya melancarkan serangan terakhir. “Sudah saya duga Ibu tak akan percaya. Ibu ingat waktu di Bandung saya ngotot ingin ikut Ibu ke Mall ?” Bu Anton hanya melongo. “Silakan Ibu ke kamar saya, lihat di cermin. Ini kuncinya” kuserahkan kunci kamarku ke Bu Anton. “Kalian tunggu di sini” Bu Anton mengambil kunci dari tanganku dan bergegas ke belakang, menuju kamarku. Aku juga bergegas mengangkut tas-tasku dan melangkah keluar rumah. Sebelum keluar pintu Aku sempat ‘menghadiahkan’ senyuman kepada wajah pucat Pak Anton. Senyum kemenangan. Aku menuju mobil, Mas Adi membantuku mengangkat koper. Lalu kami berangkat meninggalkan rumah keluarga Anton menuju stasiun Gambir…… Sebentar lagi akan terjadi ‘perang baratayuda’ antara suami-isteri Anton. Setumpuk uang yang tak berkurang sesenpun dan secarik kertas tulisan tangan Pak Anton yang berisi ajakan ke kamar 509, serta ‘alibi’ku ikut Bu Anton pada hari dan jam itu, telah menjelaskan semuanya

TAMAT

Cerita Dewasa Gairah Nafsu Birahi Seorang Babysitter

Keyword Pencarian:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *