Cerita Dewasa Kusetubuhi Anak Direktur
Cerita Dewasa Kusetubuhi Anak Direktur

Cerita Dewasa Kusetubuhi Anak Direktur

Posted on

Cerita Dewasa Kusetubuhi Anak Direktur – Jess adalah putri seorang direktur perusahaan X yg ternama di kotanya. Perusahaan tersebut memiliki banyak saingan. Bob adalah boss salah satu perusahaan saingan tsb. Ia memutuskan untuk menculik Jess untuk menjatuhkan perusahaan ayah Jess.

Cerita Dewasa Kusetubuhi Anak Direktur cerita dewasa | cerita sex
Cerita Dewasa Kusetubuhi Anak Direktur
Cerita Dewasa Kusetubuhi Anak Direktur cerita dewasa | cerita sex
Cerita Dewasa Kusetubuhi Anak Direktur

Cerita Dewasa Kusetubuhi Anak Direktur – Jess sendiri duduk di kelas 3 SMA di sebuah sekolah internasional yg siswanya terkenal kaya raya. Ia aalah salah satu gadis populer di sekolah tsb. Rambutnya panjang dan ikal, wajahnya sangat cantik walaupun matanya agak sipit. Kulitnya putih mulus, badannya terbilang seksi. Walaupun cantik, tapi Jess adalah anak baik-baik.

Cerita Dewasa Kusetubuhi Anak Direktur – Di hari yang sial itu, orang suruhan Bob datang ke sekolah Jess dan menunggu jam bubaran. Hari itu adalah hari Jumat, biasanya Jess tidak langsung pulang ke rumah, namun mengunjungi pacarnya yang sedang magang di mall yang tidak jauh dari sekolahnya. Saat Jess sedang berjalan sendirian ke mall tersebut, orang-orang suruhan Bob dengan cepat meringkus Jess dan memaksanya masuk ke mobil sedan. Jumlah orang yg meringkus Jess berjumlah 3 orang yang menggunakan topeng. Mereka menyumpal mulut Jess dengan kain dan mengikat kedua tangannya. Tanpa sempat dikejar satpam, mobil tersebut langsung dilarikan ke sebuah bangunan di pinggiran kota.

Cerita Dewasa Kusetubuhi Anak Direktur – Bangunan tersebut kosong dan berdebu. Langit-langitnya tersusun atas tiang-tiang besi. Mereka segera menyeret Jess dan menggantungkan tubuh Jess ke langit-langit gedung tersebut. Kedua tangan Jess yang terikat terangkat ke atas, sementara tubuhnya bergantung bebas. Salah satu dari ketiga orang tersebut menyalakan video kamera yang mengarah ke arah tubuh Jess. Setelah mengetahui kalau para penculik itu akan merekam segalanya, Jess meronta-ronta minta dilepaskan, namun suaranya tertahan kain yang menyumpal mulutnya dan usahanya pun sia-sia.

“Video ini akan kami kirimkan ke ayahmu, supaya ia mau menjual perusahaannya dan mengirimkan kami sejumah uang. Tenang sayang, kamu gak bakal kita apa2in kalo papa kamu ikutin kemauan kami!” kata salah seorang penculik yang mengaku bernama Jack, sambil mengelus wajah Jess yang mulus itu.

Rekaman video pun dimulai. Para penculik mengelilingi tubuh Jess yang tergantung2. Salah seorang penculik yang mengaku bernama Tom menarik dasi yang dikenakan Jess hingga lepas, kemudian melepas kancing baju Jess secara kasar. Sementara temannya yang mengaku bernama Jerry melepaskan sepatu yang dikenakan Jess dan memeloroti celananya. Dalam waktu satu menit setelah rekaman dimulai, mereka berhasil melucuti seragam Jess. Kini ia hanya mengenakan bra berwarna putih dan celana dalam dengan warna yang senada.

Tangan Jack mulai menyusup ke balik bra Jess dan mulai meremas-remas payudaranya. Payudaranya cukup besar untuk ukuran anak SMA, bentuknya bulat menantang dan padat kenyal. Sementara Bob mengelus2 vagina Jess yang masih tertutup celana dalamnya. Jess mulai merintih dan meronta tanda tidak senang. Jack pun berkata kepada ayah Jess melalui kamera, “Sayang sekali Pak jika kami harus melukai anak gadis Bapak yang cantik ini. Jangan egois Pak, segera mundur dari jabatan Bapak dan temui kami di gedung A dengan membawa uang Rp10 miliar! Jika besok Bapak tidak muncul, maka anak gadis Bapak akan menanggung akibatnya!”. Video tersebut dikirim ke e-mail ayah Jess yang langsung kaget dan menelpon polisi. Polisi tidak bisa berbuat apa2 karena kurangnya bukti. Sampai keesokan harinya, ayah Jess belum melakukan apa2 karena masih menunggu berita dari polisi.

Sementara Jess yang hanya mengenakan bra dan celana dalam yang sudah melorot tetap digantung di bangunan itu sampai keesokan harinya. Para penculik meninggalkan Jess yang menggigil kedinginan sendirian malam itu. Keesokan paginya, para penculik kembali ke bangunan itu. Mereka melepas kain yang menyumpal mulut Jess. Jess yang sudah kelelahan karena digantung dan kedinginan semalaman hanya bisa merintih dan mengatakan kalau ia lapar. Jack lalu menyodorkan sepotong roti ke mulut Jess dan menyodokannya secara kasar.

“Sudah kenyang?” tanya Jack. Jess tidak memberikan jawaban apa2. Jack lalu menampar pipi Jess. “Gue anggep lu udah siap buat rekaman hari ini. Gue belom terima kabar dari bokap lu, artinya penyiksaan kita lanjutkan!”

Video perekam pun kembali diaktifkan. Para penculik dengan kasar melepas bra dan celana dalam yang dikenakan Jess. Tom meremas2 payudara Jess yang sebelah kanan, sementara Jerry yang kiri. Jess berteriak2 kesakitan, sekaligus terhina karena dilecehkan seperti itu. Jack lalu mengambil sebuah tongkat kasti. Ia menyuruh Tom & Jerry untuk menyingkir sebentar. Jack berkata ke arah kamera, “Maaf Pak, kami tidak punya pilihan lain. Karena belum ada kabar dari Bapak, maka putri Bapak yang menanggung akibatnya. Selamat menikmati!”

Lalu Jack dengan keras memukulkan tongkat kasti tersebut ke payudara Jess yang sebelah kanan. Jess pun melolong kesakitan. Seumur hidupnya belum pernah ia disakiti seperti itu. Air mata mulai mengalir dari matanya yang kecil itu. “Ampun Pak, ampuuun,” teriaknya. Namun Jack tidak peduli. tongkat itu lalu menghantam payudara Jess yang sebelah kiri. Bunyi kayu yang menghantam dagin kembali terdengar, diikuti teriakan Jess yang memilukan. Jack berganti2an memukuli kedua payudara Jess sehingga payudara yang putih mulus itu memerah dan mengeluarkan darah. Setelah payudara Jess memar dan berwarna merah tua, Jack menghentikan pukulannya.

Sekarang saatnya Tom yang beraksi. Ia memeloroti celana dalam Jess sehingga vaginanya terekspos ke kamera. Ia memain2kan jarinya di vagina Jess dan rambut2 halus yang tumbuh di sekitarnya. “Wah, kecil2 udah lebat nih! Gue sukanya yang mulus! Ambilin gue cukuran!” Lalu Jerry menyodorkan sebuah pisau cukur. Tom mencukur rambut vagina Jess dengan kasar sehingga Jess lagi2 berteriak kesakitan. Sekarang daerah sensitif Jess itu mulus dan botak. Jerry mencucukan jarinya ke dalam vagina Jess, sehingga gadis itu menggeliat2. “Wah masih perawan nih amoy! Mantep nih!” katanya.

Jess pun spontan berteriak, “Jangan nodain gue plis.. Gue ga mau keperawanan gue direbut sama orang2 kayak lo!”

Jerry marah mendengar itu. “Oke, gue gak merebut keperawanan lo! tapi benda lain yang bakal melakukannay!” Ia mengambil sebatang bambu di pojok ruangan itu, lalu mematahkannya menjadi dua. Bagian yang dipatahkan itu menjadi tajam. Ia menyuruh Tom untuk merentangkan bibir vagina Jess, sehingga alat kelaminnya itu terlihat jelas. Jerry lalu menusukkan bambu itu ke vagina Jess. Jess pun melolong kessakitan. Darah segar mengalir dari vaginanya, turun ke lantai. Jerry terus menusuk2an bambu runcing itu ke vagina Jess, tidak peduli seberapa keras Jess meraung dan seberapa banyak darah yang tercecer di lantai. Setelah beberapa menit, Jerry melepaskan bambu itu. Namun ia seolah belum puas. Bambu tipis itu dipakainya untuk mencambuki tubuh Jess.

“Ctarrr!” bambu itu menghantam bagian samping perut Jess yang rata. Lagi2 gadis itu melolong kesakitan. Sebuah garis merah terrbentuk di sekirar perut Jess yang putih mulus. Jerry merasa kesenangan. Ia kembali mencambuk paha Jess, lalu payudaranya yang memar akibat dipukuli tadi. Kemudian Jerry mencambuki pantat Jess yang bulat dan besar itu. “Gila nih amoy pantatnya gede banget, enak banget buat dicambukin,” kata Jerry.

Tom pun tidak mau kalah. Ia melepas ikat pinggangnya dan mencambuki punggung dan pantat Jess. Suara bambu dan ikat pinggang yang menghajar tubuh Jess berganti2an dengan suara lolongan Jess yang kesakitan dan tangisannya yang menggema. Kadang2 Jess berusaha menekkukan kakinya untuk melindungi vaginanya dari cambukan. Kini sekujur tubuh Jess penuh luka bekas cambukan, terutama di punggung dan pantatnya. Tangisan dan teriakan Jess mulai mereda karena kelelahan ddan kesakitan.

Ketiga penculik itu juga mulai lelah menyiksa Jess yang malang. Timer di video menunjukkan waktu 45 menit. Setelah melepas lelah, Jack mengambil seutas tali tambang. Ia menggesek2an tali itu di selangkangan Jess dari depan ke belakang, sehingga menggesek vagina Jess yang memar dan bengkak akibat ditusuk dengan bambu. Vagina Jess terasa panas dan sakit luar biasa. ia hanya bisa menangis lirih tak berdaya. darah kembali mengalir membasahi selangkangannya. Tali yang digunakan jack juga bersimbah darah dari vagina jess. Tidak tahan menerima semuanya ini, akhirnya Jess pingsan karena sakit dan lelah. Video itu pun dimatikan dan kembali dikirimkan ke ayah Jess. ayahnya hanya bisa menangis melihat anak gadisnya yang selama ini ia besarkan, diperlakukan seperti itu. Namun ia tetap tidak bisa melakukan apa2 dan polisi melarangnya untuk menemui penculik itu karena alasan keamanan.

Sampai malam itu, belum ada kabar dari ayah Jess. Para penculik yang sudah tidak tahan ingin menikmati tubuh gadis itu pun melepaskan Jess yang masih pingsan dari gantungannya. Mereka membaringkan Jess di atas sebuah ranjang besi, lalu merentangkan tubuh Jess membentuk huruf X. Kedua tangannya diikat ke bagian atas ranjang, sementara kedua kakinya direntangkan dan diikat ke ujung2 bawah ranjang. Jack lalu meneteskan alkohol ke vagina Jess yang terluka akibat ditusuk2 tadi. rasa sakit yang luar biasa membangunkan Jess dari pingsan. matanya membelalak. Ia ingin bangun dari ranjang namun tangan dan kakinya terikat kencang.

Ia sudah tidak memiliki kekuatan untuk memberontak dan merelakan para penculik itu bermain2 dengan tubuhnya. Mereka meremas2 payudara Jess yang masih memar, meremas2 paha dan pantatnya, serta menciumi bibirnya yang kecil itu. tidak lupa mereka merekam adegan itu untuk dikirimkan ke ayah Jess. Setelah beberapa lama, akhirnya mereka berdiskusi siapa yang akan memperkosa Jess pertama kalinya. Setelah diundi, akhirnya Tom yang maju pertama, diikuti Jerry dan Jack. Tom pun mengarahkan Penisnya yang sudah berdiri tegak dan besar ke arah vagina Jess yang terluka, tanpa basa-basi langsung ditancapkannya ke dalam liang vagina Jess. Jess berteriak kesakitan, walau Penis Tom bukanlah benda pertama yang menusuk vaginanya. Luka2 di dinding vagina Jess yang lecet2 akibat ditusuk2 tadi semakin terasa sakit ketika beradu dengan Penis Tom yang secara brutal memompa vaginanya. Setelah merasa akan berejakulasi, Tom melepaskan Penisnya dari vagina Jess, lalu duduk di atas perut Jess. Ia memposisikan penisnya di antara kedua payudara Jess, lalu mendempetkan payudara Jess untuk mengocok penisnya. Tidak lama kemudian spermanya pun muncrat ke arah wajah Jess. Wajahnya kini belepotan dengan sperma. “See, gue baik kan? gue udah janji gak bakal bikin lu hamil, gue tepatin janji gue! Sekarang jilat sperma di pipi lo!” perintah Tom.

Jerry lalu mengambil alih. Ia melepaskan ikatan Jess yang sudah lemah dan tidak mungkin lagi melawan dari ujung2 ranjang. Ia memposisikan tubuh Jess menungging, lalu menghujamkan penisnya ke lubang dubur Jess. Merasa kesempitan, Jerry mengambil sebuah botol dan menusukannya ke pantat Jess. Jess hanya bisa menangis kesakitan, karena tangannya masih diikat ke belakang sehingga tidak bisa melawan. Setelah beberapa lama, lubang pantat Jess kini menganga dan memerah karena ditusuk botol. Jerry pun kembali menyodomi pantat Jess yang montok itu, sambil sesekali memukuli pantatnya yang dipenuhi luka bekas cambukan tadi siang. Setelah berejakulasi, Jerry berpindah posisi ke depan, lalu memaksa Jess mengulum penisnya yang baru saja keluar dari lobang pantat sehingga dilumuri kotoran. Dengan perasaan jijik, Jess pun mengulum penis yang berbalur kotoran tubuhnya sendiri itu. Jerry pun menyemburkan spermanya untuk yang kedua kali, kali ini di mulut Jess.

Melihat posisi tubuh Jess yang menungging, Jack kembali ingin menyakiti gadis itu. Ia mengambil ikat pinggangnya dan mencambuk pantat Jess yang terlihat semakin montok dalam keadaan menungging. Karena berusaha menghindar, Jerry pun membantu memegangi tubuh Jess agar tidak menghindar. Jack berkali2 mencambuki pantat Jess, diikuti dengan rintihan Jess yang sudah tidak berdaya itu. Setelah bosan menyakiti pantat Jess, Jack pun kini memposisikan tubuh Jess tengkurap diatasnya. ia memposisikan penisnya ke arah vagina jess, lalu menarik turun tubuh Jess sehingga penisnya menyodok masuk ke vagina Jess. Tom melihat pantat Jess menganggur dan ingin mencobanya, sehingga ia pun meniduri Jess dari atas dan menyodomi pantatnya. Kini Jess berada di antara kedua pria bejat yang sedang memperkosa tubuhnya, seperti ikan tuna di antara sandwich. Sesuai janjinya Jack menyemprotkan spermanya di luar vagina Jess, namun tidak dengan Tom, karena tidak mungkin ia menghamili Jess dari pantat, bukan?
Setelah puas, mereka mematikan rekaman video yang sudah berdurasi hampir 4 jam itu. Mereka kembali menggantungkan tubuh Jess ke langit2.

Keesokan harinya, ketika Jess kembali mengeluh lapar, mereka menyediakan sepiring nasi, lalu menyuruh Jess menungging. Mereka lalu memaksa Jess mengocok penis mereka, kemudian menyemprotkan spermanya ke piring nasi tersebut. Tidak puas dengan itu, mereka juga mengencingi dan menginjang2 makanan itu, baru mempersilakan Jess menyantapnya. walaupun dipenuhi rasa jijik, Jess tetap menyantap makanan itu untuk mencegah rasa lapar.

Di hari itu mereka kembali menyiksa Jess beramai-ramai. mereka bahkan mengundang beberapa teman mereka, jumlahnya sekitar 8 orang. Mereka kemudian bersama2 menikmati tubuh gadis malang itu. Ada yang meremas & mencubiti payudara Jess, bahkan menggigit putingnya. Ada juga yang memainkan jarinya di klitoris Jess. Mereka juga meraba2 sekujur tubuh Jess, sesekali memukulinya dengan berbagai alat. Ada juga yang menciumi dan menjilati ketiak Jess yang berkeringat dan mereka anggap gurih dan beraroma khas. Terakhir, mereka menggunakan spidol untuk mencoret2 tubuh Jess dengan kata2 kasar, terutama di punggung, pantat, dan pahanya.

Singkat cerita, para polisi berhasil menemukan Jess di bangunan itu. Namun, saat ditemukan, para penculik itu berhasil kabur dari bangunan itu, sehingga berhasil lolos. Para polisi lalu membebaskan Jess dan mengembalikannya kepada orangtuanya. Saat dikembalikan, Jess dalam keadaan tidak sadar. Orangtuanya hanya bisa menangis menyaksikan tubuh Jess yang dipenuhi dengan luka. Punggung dan pantatnya penuh bekas cambukan. Vagina dan lubang pantatnya sudah tidak berbentuk akibat dirusak dan diperkosa beramai2. Payudaranya memar2 dan penuh dengan luka. Sekujur tubuhnya juga dipenuhi coret2an yang bermaksud menghina gadis itu dan keluarganya. Sekarang, Jess terbaring koma di rumah sakit. Tidak ada yang bisa memastikan kapan ia akan bangun kembali. Namun bila ia bangun pun hidupnya akan tersiksa akibat luka dan trauma yang mendalam tersebut.

-tamat-

Keyword Pencarian:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *