Cerita Dewasa - Pacarmu Juga Kunikmati

Cerita Dewasa – Pacarmu Juga Kunikmati

Posted on

Cerita Dewasa – Pacarmu Juga Kunikmati | Aku mempunyai teman cowok yang bekerja di perusahaan swasta, tugasnya dia hanya bertemu dengan klien yang mana klien tersebut meminta penjelasan tentang penawaran yang di kasih dari perusahannya, waktu itu ada klien yang meminta penjelasan, segera temanku berangkat bersama Andi , tinggallah dikantor kami beritga.

Cerita Dewasa - Pacarmu Juga Kunikmati cerita dewasa | cerita sexCerita Dewasa – Pacarmu Juga Kunikmati | Sekitar jam 11.30 tiba-tiba datang seorang cewek, dia adalah Rasty, kami tahu dia adalah pacarnya Anto. Kami persilahkan Rasty untuk masuk dan menunggu Anto yang sedang ada dinas keluar. Rasty juga bilang kalau memang disuruh Anto untuk menunggu dikantor.Rasty waktu itu baru pulang dari kantornya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor kami. Kami berempat berbincang-bincang diruang tengah. Rasty duduk di kursi meja kantor Anto. Rasty mengenakan blazer warna coklat dengan rok span diatas lutut. Cantik.

 

Cerita Dewasa – Pacarmu Juga Kunikmati | Dari postur tubuhnya boleh dijamin semua laki-laki yang melihatnya pasti akan tergiur untuk mencicipinya. Rasty, 21 tahun, mempunyai tinggi kurang lebih 165 cm, 47 kg dan menggunakan bra ukuran (kira-kira) 34B, dan kulitnya kuning langsat. Dengan wajah layaknya cewek kantoran.Sekitar jam 12.15 tiba-tiba Anto telepon kantor memberi kabar kalau 2 roda belakang mobil yang dipakai mengalami kebocoran di jalan padahal posisi dia ada di tempat yang jauh dari pemukiman dan belum sampai ke tempat calon klien. Dia mencoba untuk mencari tempat tambal ban di dekat situ. Anto juga sempat bebincang dengan Rasty untuk sabar menunggu.

Cerita Dewasa – Pacarmu Juga Kunikmati | Kami pun meneruskan perbincangan kami berempat. Dengan bercanda kami juga menggoda Rasty dengan cerita-cerita mengenai hubungan dia dengan Anto. Diluar terlihat mulai mendung. Dan benar saja tidak beberapa lama kemudia turun hujan. Aku mencoba menghubungi HP Anto, dia masih mencari tempat tambal ban dan kehujanan juga. Kami teruskan pembicaraan.

“Rasty, gimana “punya” Anto, gede nggak?”, tanya Indra menanyakan sesuatu yang membuat merah padam muka Rasty.

“Ah…mas Indra…tanyanya kok gitu…rahasia dong”, jawab Rasty malu-malu.

“Gedean mana kalo sama punya Pak Redi ….”, tanya Indra sambil menyebutkan namaku.

“Ah….mas Indra…”, jawab Rasty lagi.

Pembicaraan seperti itu pun terus berlanjut. Kami semakin memojokkan Rasty dengan pertanyaan-pertanyaan menjurus sex. Kami juga tahu kalau Rasty sudah sering berhubungan badan dengan Anto dari cerita Anto sendiri. Dan hal itupun tidak kami tutupi dalam pertanyaan untuk memojokkan Rasty.

“Eh, kalian berdua jangan “nganggurin” Rasty gitu donk, kasih Rasty “minum” ..!” perintahku kepada Indra dan Tiyo dengan perintah simbolis. Rupanya Indra dan Tiyo tahu apa maksudku.

“Oh iya, sori Rasty, maaf Boss…..!” jawab Tiyo sekenanya sambil pura-pura berjalan menuju belakang ,padahal dia berjalan kearah belakang kursi Rasty dan hal itu tidak disadari Rasty. Diluar hujan semakin deras!

Dengan gerakan kilat Tiyo merangkul Rasty dari belakang….

“Gini..,” kata Tiyo dengan mendekap erat Rasty. “Kamu pikir deh Rasty… umurmu baru 21 dan bodymu sexy, ngga kecewa donk kami nyobain kamu” lanjut Tiyo semakin erat mendekap Rasty yang meronta dan terkejut mendapat perlakuan seperti itu.

“Ah … apa-apaan ini” teriak Rasty , sehingga tampaklah wajahnya yang ketakutan.

Hal ini semakin membuat kami bertiga jadi horny saja.

Tiba-tiba saja Indra menarik kaki Rasty.

“Diam…sebentar Ras..!” perintahku sambil mencoba melepas kancing blazer yang Rasty pakai.
Lalu Indra dengan terburu buru ikut mencoba melepas rok yang dipakai Rasty dan sambil bicara kepada saya, “Dah boss ditidurin aja dulu di lantai”.

Rasty semakin meronta dan coba berteriak tapi dekapan tangan Tiyo dan Indra membungkam erat mulut Rasty. Dan teriakan lenyap ditelan suara derasnya hujan.

“Sudah kamu ngga usah melawan, yang penting sekarang kamu santai aja di lantai dan ikutin permainan kami” timpalku.

“Permainan apa …..?” tanya Rasty dengan ketakutan.

Tapi kami senang sekali, apalagi saya melihat Rasty seperti ini. Saya jadi tambah horny….

“Ok-ok ..baik..,” kata Rasty tiba-tiba, “Kalian semua sudah tahu kalau aku sering berhubungan badan dengan mas Anto….tapi jangan ceritakan kejadian ini… aku mau melayani permainan kalian…”, kata Rasty membuat kami bertiga terkejut mendengarnya.

Tiba-tiba saja Rasty langsung mendekati saya dan segera menciumi saya di bibir.. Otomatis saya merespon. Lidah kami saling ‘bergerilya’. Kemudian ciuman Rasty berganti ke bibir Tiyo, hm.. enaknya pikirku. Dan berganti lagi ke bibir Indra. Aku jilati leher Rasty, terus dia juga menjilati kuping Indra.

Tanpa sadar Rasty mendesah, “Ahh, enak, Mas… terus..!”

“Sekarang aku buka baju kamu….! Tapi tangan kamu tetap diam…. boleh pegangan kontol Tiyo atau Indra ..!” kataku.

“Aduh dingin dong..! Masa mau ML saya yang ditenjangi dulu..!” jawab Rasty.

Dengan cepat aku membuka baju Rasty dan langsung aku lempar. Dengan sigapnya Indra dan Tiyo langsung bergerilya di dada Rasty. Dinaikkannya BH Rasty sehingga mereka berdua bisa menggigit kedua puting Rasty.

“Ahh, enak gigitannya….” Rasty mendesah pelan.
Samar-samar saya melihat Rasty sambil memperhatikan wajah saya dan dia tersenyum.

Sekarang tangan saya mencoba mencari buah dada Rasty untuk saya remas-remas.

Tiyo dan Indra segera menuju bagian bawah tubuh Rasty.

“Pokoknya santai saja Ras…!” kata Tiyo sambil menaikkan rok yang dikenakan Rasty.

“Hmm.., CD model low cut dengan warna hitam nih..!” ujar Indra sambil bergumam melihat CD yang dipakai Rasty.

“Kamu tahu saja kesukaan kami..!” kata Indra, “Dan kamu seksi banget dengan CD warna ini, bikin kita horny….!” kataku. Dan sekarang Rasty sudah berjongkok untuk dia mulai ber-‘karaoke’.

“Oohh, enak, sedot lagi yang kuat Ras..!” kata saya sambil mendesah.

Kurang lebih 15 menit Rasty telah ber-‘karaoke’ terhadap Penis kami bertiga. Kemudian Rasty dengan perlahan melepas sendiri seluruh baju, rok dan pakaian dalamnya.

“Sekarang…sentuh tubuh telanjangku….!” kata Rasty memerintah kami bertiga.

Kesempatan ini tidak kami sia-sia kan. Langsung saja saya rebahkan Rasty di lantai dan saya jilati vaginanya, dan Tiyo juga tidak kalah ganasnya menyedot habis kedua putting Rasty sedangkan Indra melumat habis bibir Rasty. .Samar-samar saya mendengar Rasty mulai mendesah.

Kali ini saya gantian ke buah dada Rasty, saya menjilati dulu pinggirnya secara bergantian, dari kanan ke kiri. Tetapi saya tidak menyentuh sedikit pun puting Rasty.

Dan Rasty kemudian bicara, “Ayo isep… puting saya..!”

“Wah ini saatnya ..!” pikir saya dalam hati.

“Kamu minta diisep puting kamu..!” jawab saya sambil tersenyum.

Saya lihat Bani dan Indra tersenyum melihat Rasty terkapar pasrah.

Tidak lama setelah saya memainkan buah dada Rasty, saya turun lagi ke vaginanya. Tampaklah bulu-bulu vagina Rasty yang begitu halus dan dicukur rapih. Dengan sigap saya langsung menghisap vagina Rasty.

“Ohh.. enakk..! Terus donk Mas..!” sahut Rasty sambil mendesah.

Kalimat itu membuat saya tambah semangat, maka saya tambah liar untuk menghisap vaginanya.

“Ahh….aku mau keluar,” lirih Rasty.

Dan tiba-tiba saja cairan vagina Rasty keluar diiringin teriakan dari Rasty.

“Mas, kamu kok hebat ….mainin Memekku..?” kata Rasty terputus-putus.

Saya hanya tersenyum saja.

“Masukin punya mas…sekarang..!” pinta Rasty.

“Nanti dulu, puting kamu aku isep lagi..!” jawab saya.

Maka dengan cepat langsung puting yang berwarna coklat muda itu saya hisap dengan kencangnya secara bergantian, kiri dan kanan.

“Ahh, enakk mas..! Kencang lagi..!” teriak Rasty.

Mendengar suara cewek lagi terangsang begitu membuat saya tambah horny, apalagi Penisku sudah dari tadi menunggu giliran ‘masuk’. Maka langsung saja saya memasukkan Penis saya ke vagina Rasty.

“Sempit banget Memek Rasty…!” pikir saya dalam hati.

Setelah sedikit bersusah payah, akhirnya masuk juga Penis saya ke vagina Rasty

“Ras…Memek kamu enak dan sempit ….” kata saya dengan napas yang mulai tidak teratur.
Dan kalimat saya dibalas dengan senyum oleh Rasty yang sedang merem melek.

Begitu masuk, langsung saya goyangkan. Yang ada hanya suara Rasty yang terus mendesah dan teriak.
“Terus mas… tambah cepet ..!”
Dan sekilas di samping saya tampak Tiyo dan Indra dengan penis mereka sudah menegang.

“Sabar …tunggu giliran kalian, sekarang aku beresi dulu Memek Rasty ini..!” jawab saya sambil sambil menggoyangkan Rasty.
Tiyo dan Indra hanya menganggukan kepala.

Tidak lama kemudian Rasty minta ganti posisi, kali ini dia mau di atas.
Kami pun berganti posisi.
“Ahh.., enakk.., penis mas terasa banget didalam..!” teriak Rasty sambil merem melek.

5 menit kemudian Rasty teriak, “Ahh.., aku keluar lagi..!” dan dia langsung jatuh ke pelukan saya.
Tetapi saya belum keluar. Akhirnya saya ganti dengan gaya dogy.
Kali ini kembali Rasty menjerit, “Terus… mas..!”

Tidak lama kemudian saya merasa kalau saya sudah mau keluar.

“Ras, mau keluarin dimana..?” tanya saya.

“Di muka saya saja.” jawabnya cepat.

Kemudian, “Croott.., crott..!” sperma saya saya keluarkan di wajah Rasty.

Kemudian Rasty dengan cepat membersihkan penis saya, bahkan saya sampai ngilu dengan hisapannya. Tidak lama saya pun jatuh lemas di sampingnya. Saya melihat Tiyo dan Indra meremas penis masing-masing dan dia pun melihat Rasty dengan tatapan ingin mendapat perlakuaan yang sama seperti saya.

Tiba-tiba saja Indra mencium Rasty dengan ganasnya. Secara otomatis Rasty membalasnya. Kemudian ciuman Indra mulai turun ke leher Rasty dan dada Rasty. Rasty hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Dada Rasty diremas-remas oleh Indra dan sapuan lidahnya mulai turun ke daerah bawah.

“Hmm.., vagina kamu bakal aku bikin basah lagi…..!” kata Indra dengan suara menggoda.

Kemudian tanpa diperintah Indra segera mencium dan menjilati vagina Rasty dengan lahapnya seperti orang yang kelaparan.

“Ahh.. ahh.. ahh.., enak mas..!” timpal Rasty.

Kemudian Tiyo tidak mau kalah, segera Tiyo raih buah dada Rasty dan segera menghisapnya. Tiyo mulai dari putingnya yang kanan, kemudian beralih ke yang kiri, Tiyo juga remas-remas buah dada Rasty.

“Yang kencang mas..!” kata Rasty lirih.

Kurang lebih 5 menit Tiyo memainkan dada Rasty, kemudian Tiyo turun ke vaginanya. Tampaklah vagina Rasty yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang rapih itu sudah tampak basah.

“Memek kamu sudah basah Ras.., sudah ngga tahan yach..?” kata Tiyo sambil tersenyum.

Rasty hanya menangguk saja tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Kemudian Tiyo mendekatkan mulutnya ke depan vagina Rasty, dan langsung Tiyo hisap jilati vagina Rasty

“Teruss..! Enak…mas!” itulah suara yang terdengar dari mulut Rasty.

Setelah 10 menit Tiyo memainkan vagina Rasty, Tiyo melakukan gerakan lebih jauh. Dan dengan segera Tiyo memasukkan penisnya ke dalam vagina Rasty.

“Pelan-pelan….!” kata Rasty.

Tiyo hanya tersenyum dan segera mencium Rasty, dan Rasty pun membalasnya dengan penuh semangat.

Bless, seluruh penis Tiyo kini berada di dalam vagina Rasty. Dan tanpa dikomando lagi Tiyo segera bergerak diikuti goyangan pinggul Rasty. Rasty memeluk Tiyo begitu eratnya dan Tiyo memperhatikan wajah Rasty yang sedang merem melek seakan-akan tidak ingin berhenti memperoleh kenikmatan.

5 menit kemudian Rasty ingin berganti posisi.

“Gantian dogy …!” pinta Rasty

Tiyo turuti saja kemauan Rasty.

“Bless, bless.., bless..!” sedikit terdengar suara penis dan vagina yang sedang berlomba, karena vagina Rasty sudah basah dan menurut Tiyo, Rasty tidak lama lagi akan keluar.

Dan benar saja dugaan Tiyo, tiba-tiba saja Rasty teriak, “Ah.., ahh.., ahh.., aku keluar..!”

Kemudian Rasty langsung jatuh lemas dengan posisi telungkup, sementara penis Tiyo masih tertancap dalam vagina Rasty. Tiyo segera menggerakkan penisnya supaya dapat juga segera keluar. Tidak lama Tiyo terasa ingin keluar.

“Keluarin di mana Ras..?” tanya Tiyo.

“Di dalam …..!” jawab Rasty dengan suara yang terbata-bata.

Lalu, “Crott, crott..!” penis Tiyo segera mengeluarkan semburan spermanya.

“Ahh..!” Tiyo bersuara dengan keras, “Enak….!” lanjut Tiyo.

Kemudian Tiyo langsung rebah di sebelah kanan Rasty, sementara Indra tersenyum memperhatikan mereka berdua karena belum mencicipi Rasty.

“Wah capek kamu Rasty..?” tanya Indra.

Rasty yang sudah lemas hanya dapat tersenyum.

Setelah istirahat beberapa menit, Rasty melanjutkan meladeni permainan Indra.

Tanpa terasa hampir 3 jam kami menikmati tubuh Rasty. Setelah selesai kira-kira setengah jam sebelum jam 4 sore Anto datang.

Kami hanya tersenyum melihat Anto mencium pipi Rasty dengan sayang.

Keyword Pencarian:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *