Cerita Seks Pelarian Nafsu Kepada Sepupuku

Cerita Seks Pelarian Nafsu Kepada Sepupuku

Posted on

Cerita Seks Pelarian Nafsu Kepada Sepupuku – Cerita ini tentang hubunganku dengan adik sepupuku, oiya lupa belum kenalan, namaku Rizky. Aku cuma seorang pemuda desa biasa, tinggal di desa yang.. ya, ga pelosok banget sih, tapi cukup jauh dari hingar bingar keramaian kota. Sedikit gambaran tentang lingkunganku, meski di desa, motor mahal dan rumah gedong adalah pemandangan yang biasa, bahkan beberapa memiliki mobil juga. Kebanyakan dari mereka hidup di tanah rantau, tak sedikit pula yang sampai bekerja di luar negeri, meski cuma jadi asisten rumah tangga (pembokat-red) tapi kalo pas mudik gayanya itu loh. Ceweknya juga cantik-cantik, yang ABG mulus-mulus, biasa lah anak desa baru ngerti mode+pendanaan yang cukup dari ortu yang kerja di luar negeri jadi terawat tampilannya. Yang STW juga ga kalah modis, kan mereka produk Indonesia yang di poles di luar negeri, haha. Eh kok malah bahas gosip ya, oke balik ke cerita..

Cerita Seks Pelarian Nafsu Kepada Sepupuku cerita dewasa | cerita sex

Cerita Seks Pelarian Nafsu Kepada Sepupuku – Cewek cantik di desaku salah satunya ya adik sepupuku sendiri, Lily namanya. Sebenernya Lily bukan asli adik sepupuku, oke singkatnya gini, dia itu anak dari adik kandung ayah tiriku. Nah loh, ribet kan?
Umurnya masih cukup muda, 24 tahun, 2 tahun lebih tua dariku. Meskipun masih muda tapi Lily ini sudah menikah dari 3 tahun lalu, dan dikaruniai seorang putra yang sekarang berusia sekitar 2 tahun. Lily termasuk anak yang baik, kalem dan ga neko-neko dari jaman kecil dulu ga banyak rubah. Sayangnya dia menikah dengan pria yang pengecut, awalnya manis, setelah ada masalah karena menipu mertua dan saudaranya (termasuk ane :'( ) dia kabur dan tidak berani pulang, jadilah Lily hidup bak seorang janda sekarang.
Aku dan Lily dulu cukup dekat, waktu jaman SMA aku sering mengantarnya berangkat sekolah karena sekolah kami beda, bahkan tak sedikit temanku atau temannya mengira kami berpacaran. Tapi setelah dia lulus, bekerja, lalu menikah kami seolah menjaga jarak. Tapi semenjak suaminya kabur Lily kembali dekat denganku, kami sering ngobrol sekedar bercanda atau aku yang jadi pendengar setia untuk semua keluh kesahnya. Dari situ aku tau, dia menanggung beban berat harus bekerja untuk menghidupi anaknya. Dia tak bisa banyak berbagi beban, ibunya di luar negeri, sementara akan sulit pasti bercerita pada ayahnya meski ayah kandung sekalipun, adiknya masih SMP dan memang acuh, sementara saudara meski terkesan perhatian, tapi di belakang mereka justru mengobral aib Lily pada tetangga. Jadi cuma aku yang bisa Lily percaya, karena aku memang cuek pada lingkunganku jadi tidak mungkin aku bercerita pada tetangga, dia juga bilang kalau aku baik karena mau mendengar dan menyemangatinya. Dan ada satu alasan dia dekat denganku yang menjadi dilema, aku tau dia cukup menaruh hati padaku, aku bisa melihat dari sikap manja dan caranya berbicara padaku. Jujur, aku juga menaruh hati padanya, dan juga rasa simpatik ku atas semua permasalahannya.
Hingga akhirnya sebuah awal tak terlupakan pun terjadi..
* *
Cerita Seks Pelarian Nafsu Kepada Sepupuku – Pagi itu aku menuliskan akan pergi ke suatu tempat wisata di DM BBM-ku, tak lama Lily mengirim pesan dengan nada bercanda minta ikut. Aku pun iseng mengajaknya dengan embel-embel refreshing. Tanpa diduga dia mau dan menanyakan kapan aku berangkat, kebetulan katanya mumpung liburan karena memang waktu itu sedang libur semester anak sekolah jadi dia yang bekerja sebagai guru TK pun libur juga. Awalnya aku ragu karena tujuan awalku pergi karena ada bisnis, tapi tak apa lah paling tidak aku ada teman refreshing juga. Aku lalu menyuruhnya bersiap dan berkata selesai mandi aku akan menjemputnya. Dan setelah aku selesai bersiap aku langsung meluncur menuju rumahnya, dan alangkah terkejutnya aku melihat dia yang begitu cantik beda dari dandanan biasanya. Memakai kaos panjang namun ketat warna biru, celana jeans hitam, rambut panjang terurai, body yang memang menunjang dengan payudara yang cukup besar, buritan-nya pun mengkal. Sebagai lelaki normal aku terkagum dibuatnya (sumpah gan yang ini bener, gak ane dramatisir)
“Hayoo, bengong liatin apa?” katanya menyadarkanku dari lamunan
“Ah enggak, cuma tumben aja dandananmu kayak ABG. Haha” candaku sekenanya
“Loh kan emang masih ABG” jawab Lily dengan nada bercanda
“Ah kamu, malu sama anak woy! Sama muridmu juga, haha” aku mengejeknya, “Eh iya Evan mana?” lanjutku (Evan itu nama anaknya)
“Evan lagi diajak ikut kondangan sama bapak ke tempat sodara, sekalian jalan-jalan katanya” Lily menjelaskan
“Oh pantes kamu dandan gitu, ga ada anak toh” kataku dengan nada sinis
“Haha, gapapa kali mas biar berasa gadis lagi” katanya santai
“Wah kumat. Eh berasa gadis? Emang gadis rasanya gimana ya? Jadi penasaran” tanyaku dengan raut wajah polos
“Mulai ngelantur deh. Berangkat yuk keburu panas nih ntar” katanya dengan tampang cemberut
“Siap non, kita berangkat” kataku
Lily lalu naik ke boncengan dan kami pun berangkat.
Sepanjang jalan kami terus bercanda, kadang aku sengaja ngerem mendadak atau melintas di jalan yang bergelombang agar bisa merasakan tekanan toketnya..

Cerita Seks Pelarian Nafsu Kepada Sepupuku – Tempat yang kami tuju adalah sebuah pantai rekreasi, setelah sampai di lokasi aku lalu memarkirkan motor dan melanjutkan berkeliling dengan jalan kaki berdua. Ku lihat jam masih pukul 09.00, masih banyak waktu bathinku.
Ada kejadian lucu yg kami alami, saat aku membuka jaket aku baru sadar ternyata setelan baju yang kami kenakan berwarna sama, biru muda. Sejenak kami saling pandang, lalu tertawa. Tak ada yang istimewa saat itu, aku lbh banyak di seret-seret oleh Lily untuk sekedar melihat souvenir atau pakaian yang banyak di jajakkan di sekitar pantai. Kami benar-benar seperti sepasang kekasih saat itu, Lily seolah-olah melepaskan bebannya selama ini.
Panas yang cukup terik membuat kami kelelahan, kami putuskan untuk mencari tempat makan siang. Aku mengajaknya makan di sebuah restoran yang menghadap pantai, duduk berdua sambil ngobrol ringan dan bercanda. Sampai saling menyuapi pun kami lakukan, dengan dalih mencicipi makanan yang memang berbeda pesanan. Terlintas di pikiranku agar bisa mendapat lebih dari sekedar jalan berdua, tapi bagaimana?
Akirnya ku dapatkan sebuah ide..
“Abis ini mau kemana lagi nih?” tanyaku membuka obrolan
“Terserah sopirnya aja, penumpang mah nurut” jawabnya bercanda
“Enaknya kemana? Panas bener, enaknya ngadem ini mah. Mandi seger kayaknya” aku mulai memancingnya
“Nah bener tuh mas, mandi tuh. Di laut yuk?” ajaknya
“Baju basah dong?” tanyaku agak bingung
“Aku udah beli kaos sama celana pantai, ntar mas aku beliin juga deh. Ga afdol ke pantai ga main air, hehe” Lily coba membujukku
“Wah berasa jadi berondong piaraan tante-tante nih, pake mau dibeliin baju biar nurut. Hahaha” kataku bercanda
“Idih pake ngeledek segala, ayo ah keburu sore ntar” ajaknya sambil menggandengku.
Aku lalu membayar makanan dan menuju ke pantai, setelah membeli baju dan berganti baju di WC umum lalu menitipkan barang bawaan kami pun bermain seperti anak kecil di pantai.
* *
Cukup melelahkan juga, hingga kami putuskan untuk mandi membilas badan. Aku mulai melancarkan siasatku..
“Mau bilas di WC yang sekatnya bolong sama airnya keruh?” tanyaku
“Ih ga deh, emang ada tempat lain mas?” Lily mulai terpancing
“Ada tuh di seberang jalan, bisa sekalian ngadem juga” kataku menunjukan sebuah hotel yg tempatnya cukup asri
“Kok hotel? Numpang mandi doang ke hotel” Lily kebingungan
“Ya sewa kamar lah, jadi abis mandi sekalian istirahat” pancingku lagi
“Oke deh” jawab Lily singkat
Aku menggandengnya karena risih pada bayak mata mesum yang memandang tubuh indah Lily yang tercetak jelas dibalik kaus pantainya. Tapi ada sedikit rasa bangga terbesit karena sebentar lagi aku akan menikmati tubuh indah yang banyak dilirik itu.
Setelah booking kamar kami buru-buru masuk, aku sengaja langsung melepas kaosku dan menuju kamar mandi saat Lily juga akan masuk.
“Aku duluan..” godaku
“Aku dong mas, risih nik banyak pasirnya” Lily memelas
“Bareng deh biar adil” ku lanjutkan strategiku
“Kamu yang enak dong mas?” gerutunya
“Yaudah kalo ga mau” kataku sambil ngeluyur
“Iya deh bareng aja, tapi jangan cari kesempatan ya” Lily coba mengancamku
“Gak lah, tapi kalo dikasih sih ga nolak” aku menggoda sambil menggandengnya masuk kamar mandi. Lily terlihat agak canggung tapi juga tersenyum geli saat melihatku dengan santainya melepas semua pakaianku.
Awalnya dia agak canggung, tp akhirnya dia lepaskan juga pakaiannya hingga tersisa bra dan CD saja. Saat aku memandang tubuhnya ternyata dia melirik burungku yang kedinginan, dia tertawa lalu meledekku
“Ahaha, mengkirut ni yee.. Kacian, kedinginan” cibirnya
“Eh ngejek, kalo ntar dia cari mangsa awas aja kamu” aku balik menggodanya, Lily tidak menjawab hanya menjulurkan lidah mencibirku.
Aku memang sengaja jual mahal dan tidak langsung exe, aku ingin dia juga menginginkannya.
Aku menyuruhnya melepas bra dan CD karena banyak terselip pasir, dan Lily sudah tak canggung lagi. Dia lepaskan semua sambil menunduk, tak sadar aku sedang menikmati pemandangan indah tubuhnya yang nyaris tanpa cela. Sekarang di depanku berdiri cewek sexy dengan tingi 163 cm, rambut panjang lurus, face cantik dengan tulang pipi menonjol, toket super 34C, bulu kemaluan tipis, sungguh sempurna. Seperti tau sedang ku pandangi Lily lalu melihat ke arahku, dan tersenyum geli karena kini Penisku sudah mengacung akibat disuguhi tubuh moleknya. Aku tak bisa menahan lagi, ku dekati Lily perlahan, makin aku mendekat dia justru melangkah mundur tapi tidak berusaha menghindar. Dia hanya menggodaku, dengan senyum nakalnya. Dengan satu gerakan cepat ku gapai kedua tangannya dengan kedua tanganku, raut wajahnya berubah, matanya sayu dan bibirnya mulai agak bergetar. Ku dorong tubuhnya merapat ke dinding, tanpa sengaja tangan kami menekan kran shower yang berada tepat di atas kami hingga air mengucur cukup deras mengguyur tubuh kami. Aku tak terlalu peduli, ku tatap matanya dalam-dalam dan ku dekatkan wajahku, dia mulai terpejam tanda dia sudah siap menerima cumbuanku. Kukecup lembut bibirnya, tak ada penolakan..

Tapi Lily masih pasif dah hanya sedikit membalas pagutan bibirku, ku hentikan ciumanku untuk memandang lagi wajahnya dan mengatur nafas.
Lily berkata dengan suara bergetar, “Kita ini sodara mas..”
aku hanya menjawab sinis, “Penting ya?”
Aku tak akan memberinya kesempatan berfikir, ku pagut lagi bibirnya kali ini dengan merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Lily agak terkejut saat Penisku menyentuh bagian bawah pusarnya, dia mulai membalas ciumanku meski masih lembut. Dalam hatiku berkata, It’s show time..!
Ku satukan kedua tanganya dia atas kepala merapat ke tembok dan ku tahan dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku mengusap lembut ketiak kirinya. Nafasnya makin memburu, ciuman belum ku lepaskan, dia membalas dengan brutal, berulang kali bibirku di gigitnya.
Ku lepaskan ciumanku, kembali ku tahan kedua tangannya di samping dengan masing-tanganku. Aku mulai menjilat telinganya bergantian, turun ke leher hingga terdengar lenguhannya “u..uuhh..shh…”
ku gigit-gigit kecil lehernya, lanjut jilatanku turun melalui belahan dadanya, terus turun ke atas perut, Lily mendesah “ahh..mass…”
dan ku hentikan jilatanku di atas pusarnya. Ku pindahkan jilatanku ke ketiak kanan, turun ke tepian luar payudara, Lily menggelijang kegelian. Begitu juga dengan bagian kiri.
Sekarang ku fokuskan kulumanku ke kedua payudaranya, awalnya ku jilat lembut dengan gerakan memutar, lalu menyedot, dan menariknya hingga putingya tertarik terbawa mulutku. Ku lirik Lily hanya bisa menggigit bibir bawahnya, matanya memandang sayu ke arahku tanpa bisa bergerak leluasa mengimbangi rangsanganku. Sengaja ku rapatkan tubuhku agar dia tak bsa bergerak, tangannya pun ku tahan agar dia bisa benar-benar menerima rangsanganku tanpa menghindar, mengimbangi, atau menahan gerakanku.
Perlahan aku berlutut dan menciumi perutnya, menjilat habis pusarnya lalu mulai turun lagi menciumi bagian atas vaginanya. Entah Lily sudah meracau apa saja aku tak peduli.
Ku angkat kaki kirinya ke atas lenganku, lalu kembali ku tahan tangan kirinya agar tak banyak bergerak. Ku atur posisiku agar wajahku bisa leluasa mengeksplor vaginanya, ku kecup lembut paha dalamnya, ku jilat labia mayoranya, ku hembuskan nafas hangat dari hidungku ke belahan vaginanya, dan akhirnya ku sapu dari bawah ke atas belahan itu. Tubuhnya bergetar saat ku kulum kelentitnya yang sudah menyembul keluar, terasa cairan surganya mulai merembes keluar bercampur dengan air guyuran shower. Terus ku cumbu bagian intimnya hingga akhrinya dia Memekik “akhh.. Aku sampee..mashh..” saat mendapatkan orgasmenya yang pertama stelah kurang lebih 20 menit bercumbu. Tubuhmya ambruk ke atas tubuhku.
Aku yang belum mendapat imbalanku tentu tak mau berhenti, ku bopong tubuhnya lalu ku balut handuk. Ku bawa ke atas ranjang lalu ku baringkan, ku posisilan diriku untuk mulai penetrasi.
“Bentar mass, aku masih capek.. Akhh..itu masuk mashh..hmmph..”
tak ku pedulikan omongannya, ku hujamkan Penisku dalam-dalam, lalu ku pagut bibirnya. Untuk sesaat ku nikmati pijatan dinding vagina yang entah sudah berapa bulan tidak menelan Penis. Dalam nafas yang menderu Lily masih bisa tersenyum, ada air mata di sudut matanya. Aku yang tau perasaannya namun tak mau terbawa suasana lalu mengecup keningnya, “Makasih ya kamu udah mau ngijinin aku ngelakuin ini semua..” aku coba menenangkannya. Dia hanya tersenyum lalu berkata “Aku sayang kamu mas..” sambil mendekapku.
Perlahan tapi pasti ku kayuh dayung kenikmatanku bersamanya. Lily coba terus mengimbagi gerakanku, kurang lebih 6 menit dia mencapai orgasmenya yang kedua.
“Mas please, berentin dulu bentara aja..”
dia mendorongku, setelah nafasnya agak teratur dia bangkit lalu mengulum penisku, dimainkannya ujung penisku dengan ujung lidahnya. Aku yang tak mau pertahananku jebol memintamya berhenti.
Dia berlutut mengangkangiku lalu mengarahkan penisku ke vaginanya, dia benar-benar menduduki penisku hingga terasa agak ngilu. Lalu dia mulai melakukan gerakan berkuda, aku hampir saja tak tahan saat Lily melakukan gerakan perlahan tapi seolah memeras isi penisku. Saat aku hampir keluaq Lily justru berhenti dan mengejekku, “Santai aja kali mas, tegang amat mukanya. Ahaha..”
“Oh ceritanya mau ngeldek? Oke, aku juga bisa” balasku
Ku tahan pinggulnya dengan tanganku, ku atur posisi, lalu ku hujamkan penisku dalam-dalam, “aww, aduh mash..shh..gila aku ngilu ini” rintih Lily
Pada posisi ini aku bisa melaku kan gerakan cepat karenta terbantu pantulan spring bed.
Aku duduk dan tanganku bertumpu ke spring bed. Lily mengalungkan tangannya ke leherku sambit terus meracau.
Aku merasa sebentar lagi akan keluar, ku balikan posisi kembali jadi misionaris, ku percepat gerakanku dan ku rasakan dinding vagina Lily meremas penisku. Ternyata dia akan orgasme lagi, aku berbisik padanya “Kkeluarinn..dimanah?”
“Da..daleemh..ajahh..akhh, aku nyampe mass!”
bersamaan dengan itu, crot..crot..crot.. Senjataku menembakkan amunisinya ke vagina legit milik Lily.
**
Awal yang indah, dan kejadian itu masih sering kami ulangi..

Setelah ‘pertempuran’ ronde pertama, aku keluar kamar sebentar untuk ke ATM dan membeli jus pesanan Lily. Biar seger lagi buat ronde kedua katanya. Ku kunci pintu dari luar karena Lily sedang mandi, lalu akupun bergegas pergi.
Sekitar 30 menit aku baru kembali, saat ku buka pintu ternyata Lily sedang tertidur pulas hanya mengenakan bra dan CD serta berbalut selimut yang sudah tak rapi lagi. Ku letakkan jus di meja, lalu duduk di tepi ranjang. Sungguh pemandangan yang indah, bidadari pemuas nafsuku tertidur pulas, dengan posisi miring wajahnya tetap cantik terlihat dari samping, dan tubuhnya amat mengundang selera. Nafsuku naik seketika, ku raba pahanya, ku kecup lembut pipinya, tak ada respon apapun. Ku balikan badannya agar telentang, ku jilat payudara atasnya sambil ku usap selakangannya, masih tak ada respon selain gumaman lirih dari mulutnya. “Sial, pules banget ni anak” umpatku dalam hati, ku panggil namanya sambil ku elus pipinya pun dia tetap tertidur. Agak kesal juga aku, nafsuku minta dilampiaskan tapi Lily malah tidur. Aku pergi keluar kamar saja lah, mencari hiburan lain, karena aku ini tipe orang yang tidak suka berhubungan sex tanpa ada respon ataupun perlawanan jadi ku biarkan saja Lily tertidur. Setelah ku kunci pintu aku pun pergi.

Aku berjalan ke arah karaoke di kawasan hotel ini yang letaknya di bangunan paling ujung, entah kenapa aku ingin kesana padahal aku tidak suka berkaraoke ria.
Saat melintas di parkiran motor sepintas ku lihat ada cewek berdiri di lorong dekat gudang, sepertinya sedang menelfon. Wajahnya tak terlihat karena membelakangiku, badan mungil, paha mulus, bokong mengkal, pinggul ramping, rambut sebahu, dengan balutan rok pendek dan kemeja ketat, imut juga pikirku. Tapi rasanya aku mengenalnya, “Ah aku deketin aja lah” bathinku sambil mulai mendekat.
Saat jarak antara kami semakin dekat, dia yang mendengar suara langkahku pun otomatis menoleh. Dan hal yang tidak terduga pun terjadi..
“Loh Monic? Kamu kok disini?” tanyaku agak kebingungan
“Eh Rizky, aku ini.. emm.. lagi, lagi nunggu jemputan” jawabnya tergagap
Oiya hampir lupa, sekilas tentang Monic. Dia adalah cewek perantauan dari kota hujan, wajah imut, kulit putih mulus, perut ramping, payudara dan bokong yang proporsional, dan yang paling bikin deg-deg ser itu kalo inget empotan vagina mulusnya itu loh, kagak nahann!
Aku tau banyak tentang dia karena dia mantan pacarku, ga perlu diceritain kan gimana kita putusnya? Hahaha eace:
Lanjut ke Monic lagi, dia tampak grogi atau apa lah aku tidah tau pasti. Lalu ku coba bertanya, “Jemputan? Emang kamu abis darimana terus mau kemana Mon?”
“Aku kerja di karaoke situ Ky, baru keluar nih mau pulang” jawabnya
“Oh, pantes. Aku kira kamu ngapain, ternyata pulang kerja” kataku sekenanya
“Kamu sendiri ngapain Ky?” tanya Monic penasaran
“Pas lewat aja, lagi sama temen, tadi niatnya mau liat tempat karaoke” jawabku asal
“Lagi suntuk ya? Keliatan deh butuh hiburan, hehe” goda Monic
“Kalo tadi iya, tapi sekarang mah udah ilang. Ketemu kamu sih, jadi ilang suntuknya” aku coba merayunya
“Alah gombal, mulai deh” kata Monic dengan nada mencibir
Otakku berfikir cepat, bagaimana agar aku bisa melampiaskan nafsuku yang sempat tertahan pada Monic. “Nah dapet ide..” bathinku
Tanpa banyak basa-basi lagi ku dekatkan wajahku pada wajahnya, seolah ingin menciumnya. Sontak Monic menghindar, sambil berkata “Ngawur kamu Ky, kalo ada yang liat gimana?”
Aku hanya tersenyum, aku sengaja melakukannya agar tau respon Monic, dia tidak menolak tapi malu. Kebetulan, pikirku.

Tanpa banyak bicara kugandeng Monic menuju gudang.
“Eh kamu mau ngapain Ky?” tanya Monic
Aku tak menjawab, ku bawa dia masuk ke gudang lalu ku kunci pintunya. “Aku cuma kangen” kataku
Aku tak mau memberinya kesempatan berfikir, langsung saja ku dekap tubuhnya, tak ada respon. Ku kecup lembut bibirnya, tak ada penolakan, hanya ekspresi bingung tampak jelas di wajahnya.
Merasa tak ada penolakan, aku melakukan hal yang lebih berani. Ku pagut mesra bibirnya, ku cumbu, sambil tangan kananku meremas payudara ranumnya dan tangan kiriku mengelus bokong kenyalnya. Monic mulai terbawa suasana, dia membalas ciumanku sambil mendesah. Tubuh Monic mungkin kecil, tapi nafsunya sangat besar.
Tanganku bertindak lebih berani, ku buka kancing atas bajunya, Monic masih asyik dengan cumbuanku. Tapi saat kancing kedua ku buka lalu tanganku masuk menyentuh bagian atas payudaranya Monic menahan tanganku, sambil berbisik “Jangan Ky, ga sempet lagi. Bentar lagi aku dijemput”
Agak kecewa juga aku, tapi tak cukup alasan untuk menyerah pikirku.
“Ya udah, ayo cepet selesein biar kamu bisa cepet pulang” jawabku santai namun dengan kalimat yang berarti memaksa
Wajah monic tampak agak panik, aku yang masih tak mau memberinya waktu berfikir langsung mencumbunya lagi. Singkat namun jangan sampai ada yang terlewat, itu tujuan utamaku.

Kubuka semua kancing bajunya, ku lepaskan ciumanku lalu wajahku turun ke arah payudaranya atasnya. Tanganku melingkar ke punggungnya melepaskan pengait BH-nya, sambil ku usap lembut kulit punggungnya, ku kecup dan ku gigit kecil puting coklat mudanya.
Ku hisap kedua payudaranya bergantian, tanganku turun mengusap kedua pahanya. Wajahku agak turun menjilat perutnya, melingkar di bagian pusarnya, ku kecup lembut tepat dibawah pusarnya.
Saat Monic sedang menikmati rangsanganku sambil meracau tak jelas, ku angkat ujung roknya lalu ku selipkan di bagian pinggangnya agar tak menghalangi pemandangan indah yang tersimpan dibalik CD berwana belang merah putih senada dengan BH-nya.

Tanganku kini menahan rok Monic agak ke atas, perlahan tapi pasti ku turunkan CD nya dengan ku gigit bagian elastisnya. Mataku melirik wajah Monic, tampak tegang dengan menggigit bibir bawahnya, sambil kedua tangannya berpegangan ke tepi meja yang berada dibelakangnya.
Setelah CD nya turun sampai lutut, mulutku beralih mengecup vaginanya yang masih merapat mengikuti posisi kakinya. Reflek Monic agak merenggangkan pahanya, namun terhalang CD yang masih tertahan di lututnya. Ku lirik lagi wajah Monic, nampak raut wajah mengharap seolah memintaku segera menuntaskan permainanku. Aku pun tersenyum, senyum kemenangan.

Ku lepaskan CD Monic, ku angkat kaki kanannya dan menumpangkan pahanya di pundakku. Ku jilat vaginanya yang tampak mengkilat itu, dengan posisi sekarang vagianya bisa bebas ku nikmati dengan lidahku. Seolah tak ingin ada satu bagianpun yang terlewat, ku sapu labia mayoranya dengan lidahku. Lalu menelusup masuk menuju lubang sempit yang nikmat itu, dan diakhiri dengan hisapan berirama pada clitorisnya yang membuat Monic mencapai orgasme pertamanya. Tubuhnya terhuyung, namun ku tahan agar dia tidak jatuh.

Aku lalu berdiri, ku bopong Monic ke arah tumpukan spring bed yang tersimpan dalam gudang itu, cukup bersih mungkin karyawan biasa menggunakannya untuk tidur, atau malah untuk exe cewek mereka ya? Eh malah bahas kasur, skip! balik ke cerita

Ku rebahkan tubuhnya disana, dengan tergesa ku buka sendiri celanaku. Perlahan ku kangkangkan kakinya, dan sudah pasti ku arahkan penisku ke vaginanya. Namun agak sulit memasukannya, meski vaginanya sudah banjir masih saja terasa sempit. Ku coba gerakan mendorong, “Aduh..pelan Ky. Masih belum pas..ssh…” kata Monic dengan ekspresi kesakitan
Kali ini Monic mengambil alih kendali, didorongnya tubuhku ke belakang dengan posisi duduk dan kedua tanganku bertumpu kebelakang. Monic melirik dan tersenyum ke arahku, ini adalah posisi favorit Monic jika bercinta denganku. Saat foreplay dia lebih suka dimanja, tapi saat ‘acara puncak’ dia lebih suka berada diatasku.
Wajahnya mendekat ke arah selakanganku, dikecupnya lembut ujung penisku, dijilatnya cairan precum-ku, lalu dalam sekejap dilahaplah setengan batang penisku oleh mulut mungilnya.

Setelah dirasanya cukup diapun berpindah posisi, mengangkangi selakanganku, mulai jongkok sambil mengarahkan penisku masuk ke lubang surganya. Masih terasa sempit, namun sedikit demi sedikit penisku mulai tertelan oleh vaginanya. Setelah setengahnya masuk, tangannya kini beralih melingkar ke leherku, lalu dengan mendadak kakinya dilemaskan hingga dia terduduk tepat di penisku.
Ku rasakan kedutan vagina sempitnya, kepalanya mendongak keatas, dan matanya setengah terpejam, sambil meacau “Akhhh…udah lama aku kangen posisi ini Ky” bisiknya
Setelah merasa nyaman, dia mulai menggoyangkan tubuhnya, aku tak tinggal diam, ku sedot kedua payudaranya bergantian, ku gigit kecil putingnya, Monic pun bergerak semakin kesetanan. Dia memelukku erat, lalu berbisik “hmmpp..akuhh udah mau sampe..shhh”
“Tunggu bentar Mon..uhhh” kataku sambil kenikmatan
Ku tahan pinggangnya dan menyuruhnya berjongkok agar bisa kuimbangi gerakannya, aku pun mulai melakukan tusukan ke arah vaginanya, Monic melakukan gerakan dengan arah berlawanan. Terdengar pekikan tertahan dari mulutnya, “akhh..akhh..terus dikit lagi..akhh..Ky..hampirrr..” desahan erotisnya diiringi bunyi selakangan kami yang beradu, cplak..cplakk..cplak

3 menit berselang Monic memeluk erat tubuhku, tubuhnya agak bergetar, mulutnya menggigit kecil telingaku. Tampaknya Monic akan segera orgasme, pertahananku pun sebentar lagi pasti jebol.
Benar saja, “Ouhhh..akuu keluarrr..akhh” pekik Monic
Vaginanya berkedut seolah menghisap penisku dan mengguyurnya dengan cairan hangat, mendapat rangsangan seperti itu aku pun tak tahan..
Dan, “arrgghhh…” aku menggeram seiring muntahnya spermaku ke vagina Monic.
* *

Nafas kami masih terengah, Monic masih memelukku, ku pegang kedua pundaknya dan memposisikan dirinya tepat dihadapanku. Ku kecup keningnya, lalu berkata “Makasih ya Mon, udah luangin waktumu buat aku..”
Monic tak menjawab, wajahnya tampak kelelahan setelah mungkin 45 menitan kami bergumul, namun dia tetap tersenyum manis ke arahku.
Tiba-tiba, “Astaga.. ini udah jam berapa ya, aduh mati aku” kata Monic
Reflek aku pun mengambil hp-ku untuk melihat jam, “Waduh kacau..” bathinku, di layar hp terlihat 6 missed call dan semuanya dari Lily. Ternyata dia sudah terbangun, aku harus buru-buru supaya dia tidak curiga.

Dengan tergesa aku dan Monic merapikan pakaian kami masing-masing tanpa bicara sepatah katapun, beruntunglah kami tidak kepergok.

Aku keluar gudang lebih dulu, melihat sekeliling dan setelah ku pastikan aman ku beri kode pada Monic supaya keluar juga. Aku jalan agak menjauh agar tidak mencurigakan, sial bagi Monic karena saat di parkiran dia kepergok seorang yang mungkin menjemputnya tadi, merekapun tampak cek cok. Ah sudahlah bukan urusanku, hahaha…

Aku berjalan tergesa menuju kamar untuk menghampiri Lily, tapi langkahku harus tertahan dan aku terpaksa sembunyi dibalik tiang teras hotel saat ku lihat seorang wanita berlari kecil agak tergesa hingga payudaranya bergerak naik turun.
“Itu kan mbak Nur? Ngapain dia disini ya..” gumamku penasaran…

* * *

Sekian dulu updatenya, mohon caci maki yang membangun ya suhu..
Oiya, soal siapa mbak Nur dan ada hal menarik apa tentang dia, kira-kira perlu ane bikinin update-an lagi ga suhu? hehe

Keyword Pencarian:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *