Cerita Sex Dewasa Gelora Cinta Dua Remaja

Cerita Sex Dewasa Gelora Cinta Dua Remaja

Posted on

Cerita Sex Dewasa Gelora Cinta Dua Remaja | Suara jam weker menggema dengan kencang di seluruh ruangan kamar. Seorang gadis berparas cantik nampak dengan malas menjulurkan tangannya dan menekan tombol di atas jam tersebut sehingga kemudian berhenti berdering. Pelan-pelan kemudian tangan gadis itu menggapai-gapai sampai akhirnya ia bisa menggenggam jam weker tersebut. Dengan berat gadis itu mulai membuka matanya dan mencoba melihat waktu yang ditunjukkan oleh jam weker digenggaman tangannya.

Cerita Sex Dewasa Gelora Cinta Dua Remaja cerita dewasa | cerita sex

“Waaaahh… telaaat…!!!”.

Cerita Sex Dewasa Gelora Cinta Dua Remaja | Gadis itu langsung berteriak histeris, melempar selimut yang tadi menyelimuti tubuhnya dan langsung meloncat turun dari atas ranjang. Rupanya kemarin malam si gadis lupa men-set kembali jam wekernya. Tanpa mempedulikan keadaan tubuhnya yang hanya tertutupi oleh tank top berwarna biru muda dan celana dalam berwarna putih, gadis itu langsung menyambar handuk dan bergegas berlari menuju ke kamar mandi. Melihat gundukan kecil di balik tank top tersebut, terlihat sekali kalau gadis itu tidak mengenakan bra dibaliknya. Gadis itu adalah Regina dan suasana kekacauan seperti ini memang sudah hampir menjadi kebiasaannya setiap pagi.

Begitu sampai di depan pintu kamar mandi, ternyata kamar mandi itu dalam keadaan tertutup. Gina langsung menggedor-gedor pintu tersebut.

“Siapa sih di dalem…?!”.

“Sabar… sabar… dikit lagi nih…”, terdengar suara laki-laki dari dalam kamar mandi. Mendengar suara itu Gina tahu kalau yang ada di dalam adalah kakaknya, Bagas.

“Buruan Kak, adek terlambat nih!”, Gina kembali menggedor-gedor pintu kamar mandi.

“Iya… iya… ini juga mau keluar, sabar dong!”.

Cerita Sex Dewasa Gelora Cinta Dua Remaja | Sedetik kemudian pintu kamar mandi terbuka. Dari dalam keluarlah seorang laki-laki muda dengan perawakan tinggi tegap. Rambutnya dipotong cepak. Laki-laki itu memang adalah Bagas, kakak kandung Gina. Laki-laki itu saat ini sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota tersebut. Gina memang hanya bersaudara dua orang saja. Namun walaupun bersaudara, kadangkala memang keduanya kerap seperti kucing dan anjing jika sudah bertemu. Terlihat kalau tadi Bagas baru saja selesai mandi karena tubuhnya kini hanya tertutupi handuk berwarna biru dari bagian pinggang ke bawah.

“Bawel amat sih?”.

“Kakak sih lama banget…”.

“Lagian ngapain sih teriak-teriak kayak orang kesetanan gitu pagi-pagi?”.

“Adek telat nih”.

“Makanya belajar bangun pagi dong”.

“Kakak juga nih kok tumben make kamar mandi yang ini? Biasanya juga make yang dibawah”.

“Yang dibawah kan lagi dipake mama tadi, tau nggak?”, Bagas mentoel jidat adiknya tersebut.

“Tapi ini kan kamar mandi adek?”.

“Ah? Sejak kapan ini kamar mandi ada namanya lu?”.

“Udah ah, males bertengkar pagi-pagi…”, Gina pun langsung beranjak masuk ke dalam kamar mandi.

Namun baru beberapa langkah melewati kakaknya, Gina merasakan sebuah remasan di pantatnya yang kini hanya tertutupi celana dalam.

“Eh pelecehan tuh!”, gadis cantik itu berteriak.

Bagas hanya cengengesan. “Lumayan pagi-pagi dapet pantat montok hehehe”.

Cerita Sex Dewasa Gelora Cinta Dua Remaja | Gina mengerutkan keningnya kesal. Begitu hendak menutup pintu kamar mandi, dengan cepat tangannya menarik handuk yang dikenakan oleh sang kakak hingga lipatannya terlepas. Beruntung Bagas dapat dengan sigap segera menarik handuk tersebut sebelum terjatuh ke lantai, kalau tidak tentunya dalam sekejap ia akan berada dalam keadaan telanjang bulat.

“Sialan…!”.

“Week… rasain tuh!”, Gina menjulurkan lidahnya dan langsung membanting pintu kamar mandi dengan keras.

Gina hanya berada beberapa menit di dalam kamar mandi sebelum ia kembali keluar dalam keadaan tubuh basah kuyup dan dengan tubuh yang hanya tertutupi sepotong handuk. Gadis cantik itu langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar ia juga hanya berada beberapa menit sebelum akhirnya keluar dengan pakaian seragam lengkap yang terlihat sekali dikenakan dengan terburu-buru. Sambil berlarian menuruni tangga rumahnya, gadis cantik itu terlihat kesusahan menenteng tas sekolah di pundaknya berikut dengan sepatu di tangan kirinya. Gina melihat di meja makan sudah ada papa, mama dan juga kakaknya yang sedang menikmati sarapan.

“Ma… Pa… adek berangkat langsung ya…”, Gina dengan cepat mencium pipi mamanya dan kemudian bergantian di pipi papanya.

“Adek, sarapan dulu gih…”.

“Ntar aja di sekolah Ma…”, sambil berlari Gina menyambar sebuah roti tawar yang baru saja selesai dioleskan selai nanas dari tangan kakaknya. Bagas pun langsung melotot ke arah sang adik. Kembali Gina menjulurkan lidahnya ke arah laki-laki tersebut untuk kedua kalinya di pagi ini.

“Daaa… semua…”.

Gadis cantik itu melambai dan terus berlarian menuju pintu keluar. Ketiga anggota keluarga lainnya hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah Gina tadi. Mereka sebenarnya sudah terbiasa dengan tingkah sang gadis karena hampir selalu terulang setiap kali pagi tiba. Namun tetap saja mereka heran melihat sifat Gina yang tak juga kunjung berubah, tetap seperti anak-anak meskipun usianya kini sudah menginjak 17 tahun.

“Pak Yayan… buruan dong telat nih!”, Gina berteriak ke arah sopirnya yang masih terlihat duduk santai di pinggir taman sambil merokok.

“Eh iya Non”, buru-buru laki-laki paruh baya itu melempar rokoknya ke tanah, menginjaknya dan buru-buru masuk ke dalam mobil.

Laki-laki desa yang bernama Yayan itu baru bekerja di rumah Gina selama 6 bulan sebagai sopir. Tugas utamanya memang adalah mengantarkan anggota keluarga Gina, terutama Gina dan juga mamanya yang belum begitu mahir mengendarai mobil. Setiap pagi memang tidak hanya keluarga si gadis cantik yang mengalami shock terapi, Pak Yayan pun kerap harus rela menerima teriakan-teriakan Gina setiap pagi. Namun sebagai seorang sopir merangkap tukang kebun, ia sadar kalau ini merupakan salah satu resiko tugas yang harus dijalaninya.

“Ngebut ya Pak kayak kemarin…”.

“Iya… iya Non”. Laki-laki paruh baya itu langsung menancap gas dan dalam waktu hitungan detik mobil itu sudah melaju kencang meninggalkan areal rumah.

Di bangku belakang mobil, Gina nampak sibuk mengenakan kaos kaki dan sepatunya. Selain itu, kini mulut gadis cantik itu juga terlihat sibuk mengunyah roti yang tadi sempat direbutnya dari sang kakak. Tanpa disadarinya, dari tadi sepasang mata terus memperhatikan setiap gerakan yang dilakukannya. Wajah cantik, sikap yang supel serta lekuk tubuh yang proporsional tentunya memberikan daya tarik seksual yang luar biasa bagi siapapun yang melihat sosok Gina, termasuk Pak Yayan sendiri. Diam-diam laki-laki paruh baya itu memang kerap mencuri-curi kesempatan memperhatikan tingkah anak majikannya tersebut sambil berfantasi mesum. Namun melihat statusnya yang hanya jongos semua itu tentunya hanya sebatas fantasi nakal dari seorang laki-laki normal, tidak lebih.

“Cleguk!”, Pak Yayan menelan ludah ketika matanya menangkap celah yang terlihat beberapa kali diantara kedua paha sang gadis cantik ketika ia sibuk mengenakan kaos kaki dan juga sepatunya. Bayang-bayang nakal tentang apa yang kira-kira ada di balik rok abu-abu itu langsung berkelebat dalam otaknya dan berubah menjadi fantasi mesum. Sebuah selangkangan gadis remaja yang masih muda dan cantik, sebuah mimpi yang begitu sempurna apabila semuanya bisa menjadi nyata. Syukur saat ini mobil sedang berhenti di depan lampu lalu lintas yang menyala merah, kalau tidak tentunya akan sangat berbahaya berkendara dalam keadaan membagi konsentrasi antara tangan, kaki dan selangkangan sekaligus.

“Pak, udah hijau tuh!”, Gina berteriak dari belakang sambil mengikat tali sepatunya. Suara klakson dari beberapa kendaraan yang ada dibelakang mereka pun mulai terdengar bersaut-sautan.

“Eh… eh… maaf Non”, laki-laki paruh baya itu tersentak dari lamunan mesumnya dan langsung menginjak gas.

Kembali mobil melaju dengan kencang. Dengan kecepatan tinggi seperti itu maka tak perlu waktu lama akhirnya mereka pun sampai di depan gedung sekolah Gina. Beberapa murid sudah nampak berlarian masuk ke dalam sekolah, karena satpam sekolah kini sudah berada di depan gerbang bersiap-siap untuk menutup gerbang. Melihat hal itu Gina langsung menyambar tas sekolahnya dan buru-buru keluar dari mobil.

“Pak, nanti nggak usah dijemput saya naik taxi aja”, Gina berteriak sambil berlari.

Pak Yayan hanya bisa mengangguk, sambil menatap nanar ke arah sang gadis majikan yang mulai terlihat menjauh. Gina terus berlari agar ia bisa tiba di depan gerbang sebelum gerbang itu sepenuhnya tertutup.

“Tunggu Pak, tunggu…!!”.

Gina akhirnya bisa masuk ke dalam areal sekolah dengan susah payah. Beberapa langkah dari gerbang, gadis cantik itu terpaksa berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang terlihat tersengal-sengal hebat. Beberapa kali Gina sampai harus menarik nafas panjang, agar denyut jantungnya bisa kembali berdetak normal. Lumayan juga kalau dihitung-hitung sebagai olah raga jika setiap pagi ia harus berlarian terus seperti ini.

“Telat lagi Non Gina?”, terdengar suara dari belakang.

Gina menoleh dan melihat si satpam sekolah sedang berdiri di belakangnya.

“Eh iya Pak Suep, telat bangun lagi nih”.

“Emang siapa yang ngisi jam pertama Non?”.

“Bu Meri Pak”.

“Waduh… kayaknya Non musti buru-buru masuk kelas, abis Bu Meri udah dari tadi tuh ada di dalam kelas”.

“Masa Pak?”, nada suara Gina meninggi.

Satpam yang dipanggil oleh Gina dengan sebutan Suep itu mengangguk. Tanpa tedeng aling-aling Gina langsung kembali mengambil langkah seribu meninggalkan sang satpam yang hanya bisa melongo menatap kepergiannya.

“Permisi Bu…”, Gina berusaha berucap sesopan mungkin setibanya ia di depan kelas. Nafasnya masih terlihat tersengal-sengal setelah tadi ia harus kembali berlarian.

“Kamu lagi Gina, kenapa sih selalu kamu terus yang datang terlambat setiap kelas saya?”, Bu Meri memandang wajah Gina dalam-dalam dengan posisi kaca mata yang sedikit turun dari hidungnya. Guru Fisika yang memang terkenal killer itu kemudian membenarkan posisi kaca matanya.

“Maaf Bu, tadi saya bangun kesiangan lagi…”, suara Gina terdengar memelas.

“Pokoknya ini peringatan terakhir, kalau kamu datang terlambat lagi mending kamu tidak usah masuk kelas saya sekalian!”, dahi dan alis mata Bu Meri kini terlihat berkerut.

“I… iya Bu…”, Gina menundukkan kepalanya berusaha menghindari tatapan tajam mata Bu Meri ke arahnya.

“Ya sudah masuk dan cepat duduk!”.

“Ma… makasi Bu”.

Dengan lutut gemetar Gina melangkah masuk ke dalam kelas. Teman-teman sekelasnya nampak sedang mencatat apa yang ditulis di papan oleh Bu Meri. Sama sekali mereka terlihat tidak terganggu dengan kedatangan Gina. Mereka rupanya juga sudah terbiasa melihat Gina yang selalu datang terlambat setiap paginya. Mungkin malah justru kalau Gina datang kepagian yang mungkin akan membuat mereka terheran-heran. Dengan segera gadis cantik itu menghempaskan pantatnya tepat di samping Nietha. Mereka berdua memang sekelas dan duduk sebangku. Sedangkan Karen dan Hanny berada di kelas sebelah.

“Telat lagi Jeng?”, tanya Nietha tanpa menoleh dan terus melanjutkan mencatat.

“Hehehe…”, Gina hanya cengengesan.

Nietha lalu menghentikan kegiatan mencatatnya dan memandang tajam ke arah sahabatnya itu. “Kemana lu kemarin?”, sebuah pertanyaan singkat namun begitu menusuk.

Gina tidak menjawab. Ia memalingkan pandangannya dan mulai mengeluarkan buku-buku dan alat tulis dari dalam tasnya.

“Gue, Karen ama Hanny kemarin takut setengah mati waktu lu pergi begitu aja ama tu om-om!”, Nietha melanjutkan kata-katanyasambil berbisik. Walau berbisik namun nada suara gadis terdengar begitu tegas dan penuh emosi.

Sekilas Gina kemudian melirik ke depan kelas. Bu Meri nampak masih sibuk menulis di papan tulis. Gadis cantik itu pun lalu memoleh kembali ke arah Nietha dan berbisik, “Ntar deh waktu istirahat gue ceritanya”.

“Nggak bisa! Lu musti cerita sekarang, kemarin kita bertiga nelponin HP lu tapi off terus, sumpah kita khawatir banget kalo terjadi apa-apa ama lu…”.

“Maaf deh, bukan maksud gue bikin lu-lu semua khawatir…”.

“Makanya lu cerita sekarang!”.

“Ntar aja deh…”.

“Gin…!”, Nietha berbisik gemas melihat sahabatnya yang terus berusaha mengelak untuk menjawab pertanyaannya.

Rupanya suara bisikan kedua gadis itu sampai ke telinga Bu Meri, karena tak lama kemudian terdengar suara teriakan dari depan kelas. “Nietha… Gina… kalau mau ngobrol di luar saja!!”.

“Maaf Bu…”, keduanya berucap hampir bersamaan.

Kedua gadis itu pun kemudian melanjutkan aktifitas mencatatnya. Mereka pun tak lagi mengeluarkan sepatah kata apa pun selama jam pelajaran Bu Meri berlangsung. Mereka cukup sadar kalau setelah peringatan pertama dari Bu Meri tadi, maka peringatan berikutnya berarti mereka harus rela meninggalkan kelas.

********

“Sekarang lu musti cerita ke kita-kita!!!”, kali ini Nietha bisa berteriak tanpa perlu berbisik lagi.

“Iya, sebelum lu cerita semuanya ke kita lu nggak boleh pulang!”, Karen menambahkan kata-kata Nietha tadi dengan sedikit bumbu ancaman.

Kini di depan Gina duduk tiga sahabatnya dengan ekspresi penuh keseriusan yang luar biasa. Tatapan mereka begitu tajam seperti tiga orang hakim yang sedang menyidangkan seorang terdakwa di persidangan. Bagaimana tidak emosi, hampir selama jam sekolah tadi ketiga gadis cantik itu bergantian menanyai Gina namun si “terdakwa” selalu berusaha menghindar. Kini setelah jam pelajaran terakhir selesai, Gina langsung ditarik oleh ketiganya menuju kantin. Di tempat itu kini hanya ada mereka bertiga dan beberapa siswa lain yang terlihat bergantian lalu lalang untuk sekedar membeli camilan sambil menunggu jemputan.

“Kemarin gue pergi ama tu om-om balik ke mall…”, Gina mulai mengarang cerita. Tentunya ia tak ingin menceritakan hal yang sebenarnya kalau kemarin dirinya telah menjual diri ke om-om yang mereka temui di café.

“Ah? Ngapain?”, tanya Nietha penuh selidik.

“Tu om-om kan punya anak seumuran gue, nah dia mau beliin anaknya itu hadiah ulang tahun jadi dia minta gue buat nganterin”.

“Wah boong banget sih lu! Menurut gue cerita lu tu sama sekali nggak masuk akal, masa lu mau gitu aja pergi ama tu om-om cuma dengan alasan seperti itu?”, Karen langsung menghardik.

“Sabar dong Ren, kan Gina belum selesai cerita…”, Hanny berusaha menenangkan Karen yang terlihat mulai naik pitam.

“Abis ni anak kemarin main pergi gitu aja sih, lu tau nggak Gin? Nyokap lu kemarin nelpon gue, akhirnya gue musti ngelakuin dosa besar dengan berbohong ke nyokap lu!”.

“Ren, please… tenang dulu dong”, kembali Hanny harus menenangkan Karen.

“Maaf banget girls, gue bener-bener nggak tau kalau tindakan gue kemarin jadi bikin lu semua kerepotan, gue janji gue nggak bakal ngulangin lagi deh”, ucap Gina penuh sesal.

“Tapi yang lu ceritain itu bener kan?”, Nietha kembali bertanya.

“Iya bener!”.

Dalam hati Gina benar-benar menyesal harus berbohong kepada teman-temannya. Namun ia tentu tidak bisa berterus terang karena hal itu justru akan membuat keadaan menjadi lebih parah. Dengan begini paling tidak hanya dirinya sendirilah yang tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin siang dan ia tidak perlu merepotkan teman-temannya untuk ikut menutupi kebenaran tersebut.

“Kok lu mau sih pergi ama tu om-om?”, kini giliran Hanny yang berkomentar.

“Habis ongkos nganternya gede banget sih”.

“Maksud lu?”.

“Masa gue cuma nganter tu om-om beli hadiah sekitar satu jam, gue dibayar 300 ribu”.

“Sumpeh lu?!”, ucap Karen tak percaya.

“Iya bener!”.

Kali ini paling tidak Gina tidak berbohong karena memang benar kalau kemarin si om memberikannya ongkos atas “service”-nya. Namun tentunya jumlah uang yang disebutkan oleh Gina tadi terlalu kecil jika dibandingkan dengan ongkos sebenarnya yang dia peroleh dari hasil menjual kehangatan tubuhnya.

“Wah enak dong, kalo cuma gitu doang gue juga mau hehehe…”.

Gina hanya tersenyum kecil mendengar komentar Karen.

“Tapi lu beneran nggak diapa-apain kan ama tu om-om?”, tambah Hanny.

“Nggak Han, gue nggak diapa-apain kok!”, kembali Gina musti berbohong.

“Ok, kita terima deh alasan lu, tapi bener apa nggak alasan yang lu ceritain ke kita sekarang, lu tetep salah karena lu bikin kita semua khawatir setengah mati”, ujar Nietha.

“Iya Nit, lain kali gue nggak bakal ngulangin lagi deh”. Gina kemudian memegang tangan ketiga sahabatnya. “Maafin gue ya girls…”.

Sekilas Karen, Nietha dan Hanny saling berpandangan dan kemudian tersenyum ke arah Gina.

“Ok, kita maafin lu”, Nietha berkata mewakili dua sahabatnya yang lain.

Gina kembali tersenyum manis. Paling tidak kini hubungan mereka masih tetap terjaga, walaupun ia cukup menyesal harus berbohong kepada ketiga sahabat baiknya tersebut.

“Aduh Nit, gue bete banget nih soalnya ntar sore kita musti dapet pelajaran tambahan”, Gina berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

Walaupun tadi sebenarnya sahabat-sahabatnya sudah mempercayai cerita karangannya, namun tentu akan sangat berbahaya apabila salah satu dari mereka tiba-tiba kembali mengungkit-ungkit kejadian kemarin. Terlalu banyak mengucapkan kebohongan, gadis cantik itu merasa takut kalau alasan-alasan yang dikemukakannya nanti justru kian menjadi tidak masuk akal. Lagi pula Gina sudah menganggap kalau kejadian kemarin hanyalah bentuk keisengan semata akibat rasa kesal yang berkecambuk dalam dirinya waktu itu. Walaupun ia juga harus mengakui kalau kejadian kemarin cukup memuaskan sisi liarnya yang bergejolak.

“Iya nih, gue juga kesel!”.

“Emang pelajaran apa?”, tanya Karen.

“Matematikanya Pak Santoso”, sahut Nietha.

“Kacian, artinya kalian nggak bisa pulang dong?”.

“Iya nih Ren…”, tambah Nietha lagi.

“Eh sory gue balik duluan ya, cowok gue udah dateng nih”, tiba-tiba Hanny memotong percakapan ketiga sahabatnya yang lain. Memang ponsel yang dipegang gadis cantik itu dari tadi terlihat bergetar beberapa kali menandakan sebuah panggilan masuk.

“Ceiee… yang makin mesra!”, goda Gina.

“Apaan sih?!”, Hanny tersipu malu.

“Udah buruan ntar cowok lu ngambek lagi tuh”, kini giliran Karen yang menggoda Hanny.

Hanny hanya tersenyum kecil mendengar kata-kata Karen. “Ampe besok ya…”, gadis cantik itu melambai, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pelan menuju ke gerbang depan sekolah. Tak lama ia pun telah menghilang dari balik gerbang.

“Serius kalian nggak mau pulang dulu?”, Selepas kepergian Hanny, Karen melanjutkan pertanyaannya kepada Gina dan Nietha.

“Males ah, nanggung juga nih cuman lagi dua jam”, sahut Nietha.

“Emang lu mau nunggu di sekolah?”.

“Nggak, gue mau ke kosan cowok gue bentar”.

“Wah mau ngapain tuh?”, kini Gina yang bertanya penuh selidik sambil tersenyum.

“Nggak ngapa-ngapain kok, cuma kangen aja abis udah lama nggak ketemu sih hehehe…”.

“Jangan macem-macem ya Nit, kata nenek itu berbahaya lo hehehe…”.

“Apaan sih lu Gin, emang gue kayak lu muka mupengan? Hehehe…”.

“Ye biarin yang penting cantik…!!”, sahut Gina cuek. Nietha hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Gina saat itu.

Melihat kalau semua sahabatnya akan meninggalkan sekolah, Gina kemudian mendekati Karen. “Kalo gitu lu anter gue ke warung depan ya Ren, daripada gue nunggu di sekolah sendirian mending gue ngobrol ama cowok-cowok disana”.

“Loh ngapain nggak lu sendirian aja yang kesana?”.

“Abis gue takut nih Ren, ntar Bimo nungguin gue lagi di depan sekolah, kalo ada lu kan semuanya aman soalnya lu kan bodyguard gue hehehe…”.

“Dasar kampret…!! Sejak kapan lu gaji gue jadi satpam?”.

Gina hanya cekikikan mendengar protes sahabatnya itu. Memang soal urusan saling ejek Gina dan Karen memang bak sepasang musuh bebuyutan. Gina senang sekali menggoda Karen, seolah-olah membuat Karen kesal membawa sensasi kegembiraan tersendiri bagi dirinya.

“Iya iya maaf”, Gina langsung memeluk tubuh Gina dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi sahabatnya tersebut.

“Eh ngapain lu pake acara nyium-nyium gue?”, kembali terdengar protes keluar dari mulut Karen.

“Uppss… sory abis keseringan ngeliat chasing lu kadang gue suka lupa kalo lu ni cewek hehehe…”.

“Wih ngajak berantem lagi ni anak”, Karen langsung mengejar Gina yang sudah terlebih dahulu beranjak dari tempat duduknya. Mereka pun berkejar-kejaran disekitar areal kantin yang mulai nampak sunyi. Hanya suara tawa dan teriakan Gina yang sedang dikejar oleh Karen yang terdengar memenuhi areal kantin tersebut. Nietha hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah keduanya.

“Aaaoo…!!”, Gina berteriak ketika Karen berhasil memegang rok yang dipakainya dan mengangkatnya.

Ketika rok abu-abu pendek itu terangkat, celana dalam merah muda yang dipakai Gina sekilas menjadi sedikit terekspos. Buru-buru gadis cantik itu menepis tangan Karen sebelum apa yang ada di balik roknya mejadi semakin jelas terlihat. Gina pun kemudian kembali berlari menghindari kejaran Karen.

“Ampun… ampun Ren, ampun…!!”, Gina merangsek di punggung Nietha dan menggunakan sahabatnya itu sebagai tameng pelindung dari serangan Karen.

Nietha sendiri nampak kebingungan karena kini justru dirinya yang terkena cubitan demi cubitan yang dilancarkan Karen.

“Udah ah kalian ini, kayak anak kecil aja!”, teriak Nietha berusaha menghentikan tingkah kedua sahabatnya tersebut.

Dari balik punggung Nietha, Gina langsung mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. “Peace Ren… peace… hehehe…”.

“Awas lu ya, ntar gue bales lu!”.

“Weeks…”, Gina menjulurkan lidahnya.

“Udah dong…”, Nietha membalikkan tubuhnya dan mengerutkan dahi ke arah Gina.

Melihat Karen yang mulai tenang, berlahan Gina keluar dari persembunyiannya di balik punggung Nietha. Gadis cantik itu lalu memegang tangan Karen. “Maafin gue ya”, ucapnya merajuk ditambah sebuah senyuman manis.

Karen hanya mengangguk pelan.

“Mau kan nganterin gue?”, kembali Gina merajuk.

“Ok deh… tapi abis itu gue langsung cabut ya”, sahut Karen ketus. Rupanya masih tersisa sedikit rasa kesal di dalam dirinya.

“Siip… yuk!!”, sahut Gina sambil merangkul tangan sahabatnya itu.

Mereka bertiga pun kemudian beranjak dari areal kantin. Di tempat parkir yang berada di depan sekolah Karen sudah duduk di atas motor matic-nya yang telah menyala. Setelah Karen selesai mengenakan helm, Gina kemudian menyusul naik ke atas motor dengan gaya berboncengan seperti cowok.

“Ampe nanti sore Nit… salam ama Reza ya!”, Gina melambai ke arah Nietha ketika Karen mulai memutar knop gas motornya.

Nietha pun melambai ke arah kedua sahabatnya tersebut. Setelah mereka berdua mulai terlihat menjauh, gadis cantik itu lalu berjalan menuju mobil picanto miliknya yang terparkir tak jauh dari tempat itu.

********

Nietha

Mobil picanto hitam yang dikendarai Nietha kini terlihat memasuki sebuah areal kos-kosan yang berlokasi tak jauh dari sekolahnya. Kos-kosan tersebut memiliki areal halaman yang sangat luas, bangunannya pun berlantai dua. Dari bentuk bangunan dan keasrian halamannya terlihat sekali kalau biaya sewa perbulan kos-kosan itu pastilah sangat mahal. Setelah memarkir mobilnya dengan rapi, gadis cantik itu keluar dari dalam mobil. Melihat seorang gadis cantik berbalut seragam putih abu-abu turun dari mobil, dua orang laki-laki yang kebetulan sedang duduk di depan sebuah kamar menatap nanar ke arah Nietha. Kedua pemuda yang semula sedang menyanyikan lagu diiringin alunan gitar, menghentikan kegiatan mereka. Nietha kemudian berjalan mendekati kedua orang pemuda tersebut.

“Eh Nietha kirain siapa, nyari Reza ya?”, sapa seorang pemuda yang sedang memegang gitar.

“Iya nih Mas Yudi, Rezanya ada nggak ya?”.

“Ada tuh dia di atas, baru aja balik tadi”.

Pemuda itu adalah teman satu kos, Reza kekasihnya. Sedangkan satu lagi Nietha tidak mengenalnya. Yudi juga seperti halnya Reza adalah seorang mahasiswa tingkat pertama. Nietha memang cukup mengenal orang-orang di kosan ini karena memang ia pernah beberapa kali datang ke kosan Reza dan dikenalkan kepada mereka.

“Kok sepi sih Mas?”.

“Iya nih, mungkin pada ngambil kuliah tambahan kali”.

“O gitu, kalo gitu Nieta ke atas dulu ya”.

“Iya deh Nit”.

Nietha lalu berjalan menuju tangga. Ketika gadis cantik itu melangkahkan kakinya menaiki satu per satu anak tangga, tanpa disadarinya kedua mahasiswa yang tadi disapanya sedikit menundukkan tubuh mereka. Rupanya keduanya sedikit jail berusaha mengintip rok abu-abu si gadis yang memang berukuran sangat pendek. Semakin tinggi anak tangga yang dipijak oleh Nietha memang semakin besar peluang bagi mereka untuk melihat isi di dalam rok gadis cantik tersebut. Apalagi keadaan siang itu yang memang sedikit berangin, sehingga membuat rok Nietha melambai-lambai terkena angin. Entah diantara mereka ada yang berhasil melihat apa yang ada di balik rok gadis cantik itu, yang jelas kini mereka nampak saling melempar senyuman mesum. Paling tidak pemandangan sepasang betis dan paha mulus milik Nietha sudah cukup memuaskan mata nakal mereka.

Ketika Nietha sampai di depan kamar Reza pacarnya, dari bawah kembali terdengar suara lantunan lagu diiringi suara alunan gitar. Gadis cantik itu kemudian mengetuk pintu kamar kos kekasihnya tersebut.

“Rez… kamu di dalem nggak?”, teriak Nietha pelan setelah beberapa kali mengetuk dan belum juga ada yang membukakan pintu.

“Sebentar Nit…”, terdengar suara dari dalam kamar.

Beberapa saat kemudian pintu pun terbuka dan terlihatlah seorang pemuda yang sedang mengenakan baju kaos. “Sory… sory… tadi baru abis mandi abis gerah banget nih”.

“Nggak apa-apa kok”, Nietha tersenyum manis.

“Eh masuk yuk!”.

Setelah melepaskan sepatu dan kaos kakinya, Nietha kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar kos kekasihnya. Gadis cantik itu menyapu pandangannya ke sekitar ruangan. Kali ini kamar tersebut terlihat lebih rapi jika dibandingkan terakhir kali ia berkunjung. Baju-baju dan celana sudah tidak lagi berserakan di atas ranjang. Botol parfum serta keperluan laki-laki lainnya tidak lagi berserakan di atas meja. Ranjang juga sudah terlihat rapi dan sprei pun terlihat bersih dan licin. Aroma wangi pun tercium hampir di pelosok kamar, tak seperti dulu dimana aroma apek dan debu yang justru tercium begitu menyengat. Nietha tersenyum dalam hatinya, paling tidak upayanya memarahi dan membantu Reza membersihkan kamar beberapa hari yang lalu berhasil dengan sukses.

“Kenapa Nit?”, Reza sedikit heran melihat kekasihnya yang berdiri mematung.

“Udah rapi ya sekarang?”.

“Hehehe… iya nih”, laki-laki muda itu mengusap-usap rambutnya yang masih terlihat basah. Wajahnya terlihat memerah mendengar sindiran kekasihnya tersebut.

“Gini kan bagus, rapi nggak urakan kayak dulu”.

“Iya, abis sekarang kan sudah ada sih tukang ngomelin kalo jorok hehehe…”.

Nietha hanya tersenyum mendengar kata-kata Reza.

“Nih aku bawain makanan”, Nietha mengacungkan sebuah plastik kecil berisi dua buah bungkusan dan dua botol minuman.

“Makasi ya”, Reza mengambil plastik tersebut dan kemudian berjalan ke sudut ruangan kamar dimana ia meletakkan alat-alat makan. “Kok main kesini nggak bilang-bilang sih?”.

“Iya nih, abis ntar sore ada pelajaran tambahan di sekolah terus males pulang, temen-temen juga pada ada urusan jadi akhirnya mutusin main kesini, nggak boleh ya?”.

Nietha kini terlihat duduk di atas ranjang, sambil membuka-buka halaman majalah yang tadinya tergeletak disana.

“Yee… kok ngomongnya gitu sih? Jelas boleh dong, masa ada cewek cantik main kesini nggak boleh sih? Hehehe…”.

“Ih, gombal!”, Nietha tersenyum simpul.

“Ye siapa yang gombal? Beneran kok!”.

Reza kemudian datang sambil menenteng dua buah piring berisi dua bungkusan nasi yang telah terbuka. Ia meletakkan kedua piring itu di lantai yang sudah beralaskan karpet. Kemudian ia kembali untuk mengambil dua buah gelas berisi minuman sejenis es teh dan meletakkannya bersama kedua piring yang tadi telah ditaruhnya terlebih dahulu.

“Ayo dong makan dulu, katanya tadi harus balik ke sekolah lagi?”.

“Iya”, Nietha meletakkan majalah di tangannya dan menyusul kekasihnya duduk di lantai.

Ketika gadis cantik itu hendak duduk ia nampak kesulitan menentukan posisi duduknya. Memang dengan mengenakan rok sependek yang dikenakan Nietha saat ini, akan agak sulit untuk mengambil posisi duduk lesehan.

“Udah duduk aja, takut keliatan ya? Hehehe…”.

Wajah Nietha memerah mendengar kata-kata Reza. Ia kemudian hanya tersenyum kecil dan memutuskan untuk duduk dengan posisi bersimpuh.

“Pakai yang warna putih ya?”, kembali Reza menggoda Nietha.

“Apaan sih!!”, Nietha memukul pundak Reza. Wajah cantiknya menjadi semakin memerah. Rupanya walau sudah sangat berhati-hati mengambil posisi duduk, ternyata masih tersedia cukup celah diantara kedua kakinya sehingga sang kekasih sempat melihat celana dalam yang dipakainya.

“Aaoo… sakit tau”, Reza Memekik dibuat-buat. “Makanya duduk disini dong, jangan jauh-jauh biar aman”. Laki-laki itu menepuk-nepuk lantai di samping tempatnya duduk.

Nietha lalu menggeser posisi duduknya sehingga kini mereka berdua duduk berdampingan.

“Nah gitu dong… sekarang makan gih”.

“Hhhmm… suapin…”, Nietha merengek manja.

“Ih udah gede minta disuapin hehehe…”.

“Biarin… pengen disuapin”, kini gadis cantik itu menggelayut manja memeluk pinggang sang kekasih.

“Iya deh… mana mulutnya sayang, dibuka dong… aaaa…”.

Nietha tersenyum melihat gaya kekasihnya yang bak seorang babysitter sedang mengasuh bayi. Ia lalu membuka mulutnya dan dengan perlahan Reza menyuapkan sesendok nasi lengkap dengan lauknya ke dalam mulutnya.

Setelah beberapa suapan nasi masuk ke dalam mulutnya, kembali Nietha merajuk manja. “Aaa… pedes… sambelnya jangan banyak-banyak”.

“Iiih… ni anak kok jadi manja gini sih?!”.

Reza lalu mengambil gelas berisi es teh dan menyodorkannya kepada kekasihnya.

“Hhhmm… minumin…”.

Laki-laki muda itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kekasihnya tiba-tiba bertingkah seperti anak kecil. Sedangkan Nietha sendiri hanya tersenyum melihat ekspresi wajah sang kekasih. Reza pun mengalah dan dengan berlahan ia meminumkan gelas tersebut agar kekasihnya itu tidak sampai tersedak.

“Udah ah, aku makan sendiri aja kasihan kamu jadi nggak bisa makan hehehe…”.

“Dari tadi kek, kan nggak jadi ribet kayak gini?!!”, kembali Reza hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.

Nietha cekikikan dan kemudian mengambil piring yang dipegang oleh kekasihnya. Mereka berdua pun lalu menikmati makanan mereka masing-masing. Nietha sebenarnya bukanlah anak manja, namun ketika bersama Reza gadis cantik itu kerap menggoda kekasihnya itu dengan tingkahnya yang manja. Reza sendiri bisa memaklumi hal tersebut, karena memang kekasihnya ini adalah anak terakhir di keluarganya dan masih berusia sangat muda. Namun dibalik sikap manjanya, gadis yang telah dipacarinya hampir setahun ini sebenarnya sangatlah mandiri dan dewasa. Hal inilah yang banyak merubah sikap Reza yang semula urakan, cuek dan hidup tak teratur menjadi berubah seratus delapan puluh derajat. Agaknya kedua remaja ini saling memberikan pengaruh positif bagi pasangan mereka masing-masing.

“Udah biar aku aja yang nyuci”.

Setelah mereka selesai makan, Nietha neranjak berdiri dan merapikan piring, sendok dan gelas yang tadi mereka pakai. Reza tersenyum melihat tingkah laku sang kekasih. Dalam hati ia sangat berbangga hati sekaligus berbahagia bisa menjadikan Nietha sebagai kekasihnya. Reza lalu ikut berdiri dan membantu Nietha membuang kertas pembungkus nasi di tong sampah. Selesai itu reza mendekati Nietha yang sedang mencuci piring dan gelas kemudian memeluk tubuh gadis itu dari belakang.

“Ngapain sih Rez, lagi sibuk nih!”, Nietha protes ketika kekasihnya mulai menciumi leher dan pundaknya.

“Badan kamu wangi banget sih Nit”.

“Nyindir ya baru aku belum mandi?”.

“Ih beneran lo”, kini Reza menciumi rambut Nietha yang kini sedang diikat kuncir kuda.

“Udah ah, ntar pecah lo”.

“Biarin aja, kan bisa beli lagi”.

Beruntung itu adalah piring terakhir yang harus dicucinya, karena begitu Nietha menaruh piring tersebut Reza langsung menarik dirinya ke tengah kamar. Di sana kembali Reza memeluk tubuh Neitha, namun kini dari depan. Beberapa detik kemudian sebuah ciuman mendarat di bibir gadis cantik tersebut dan setelahnya langsung berubah menjadi sebuah pagutan. Nietha hanya bisa pasrah membiarkan kekasihnya itu melumat bibir mungilnya.

“Aaah… Rez, jangan ntar seragamnya lecek”, Nietha mendesah pelan ketika tangan Reza mulai nakal meremas payudara kanannya.

Bukannya berhenti mendengar larangan Nietha, Reza justru semakin gencar memagut bibir kekasihnya dan tetap meremasi payudaranya

“Rez, please… aku masih harus balik ke sekolah”.

Nietha terpaksa harus menarik bibirnya dan memegang tangan Reza agar tidak melanjutkan remasannya.

“Aduh Nit, aku lagi pengen banget nih”.

“Waktunya mepet banget Rez, nggak bisa sekarang”.

Saat ini memang jam menunjukkan pukul dua sore kurang lima belas menit dan itu berarti satu jam lagi Nietha harus kembali ke sekolah.

“Bentar aja Nit…”, suara Reza benar-benar terdengar memelas.

“Nggak bisa Rez”.

“Tolong banget Nit, kamu nggak mau kan ninggalin aku dalam keadaan kayak gini?”.

‘Tapi Rez…”.

Belum sempat Nietha menyelesaikan kalimatnya, Reza sudah terlebih dahulu kembali memagut bibirnya. Kembali Nietha hanya bisa pasrah merelakan bibirnya dilumat sang kekasih. Memang sudah hampir seminggu lebih mereka tidak bertemu, sehingga wajar kiranya kali ini Reza ingin sekedar melepas rasa kangen. Namun ketika kekasihnya hendak kembali melakukan remasan ke payudaranya, kembali Nietha menghentikannya.

“Jangan…”, Nietha mendesah pelan sambil memegangi tangan Reza.

“Di lepas aja ya?”.

Nietha tidak menjawab. Agaknya di satu sisi Nietha memang tidak keberatan untuk melayani kekasihnya yang sedang bergairah, apalagi melihat ekspresi memelas yang menghiasi wajah Reza saat ini. Namun di sisi lain ia tidak ingin seragamnya menjadi kusut akibat permainan mereka nanti. Tentunya akan menimbulkan kecurigaan dari teman-temannya ketika ia harus kembali ke sekolah dengan seragam kusut.

Merasa tidak mendapatkan persetujuan ataupun penolakan dari kekasihnya, Reza mengambil inisiatif membuka satu kancing hem putih yang dikenakan Nietha. Merasa tetap tidak ada penolakan, secara berlahan laki-laki itu melanjutkan kembali membuka satu per satu kancing hem putih sang kekasih sampai kancing terakhir. Kemudian dengan cekatan Reza membuka hem tersebut dan meletakkannya dengan rapi di kursi. Tetap masih tidak ada penolakan dari Nietha ketika Reza kemudian membuka kaos dalam berikut dengan bra berwarna putih yang dikenakannya. Agaknya kepasrahan Nietha ini menunjukkan kalau jauh di dalam hatinya, ia memang menginginkan kekasihnya ini untuk melanjutkan perbuatannya.

Reza kemudian mendorong pelan tubuh Nietha dan kemudian membaringkannya di ranjang. Laki-laki itu lalu meletakkan juga baju dalam dan bra kekasihnya di meja dengan rapi. Kemudian Reza membuka sendiri baju kaos yang dipakainya dan tersenyum melihat kekasihnya yang kini terbaring dalam keadaan setengah telanjang. Reza lalu merangkak naik ke atas ranjang dan kembali memagut bibir mungil Nietha dengan lembut. Ciuman kemudian berlahan turun ke pipi, telinga, leher dan pundak sang gadis.

“Aaaahh… Rez…”, Nietha kembali mendesah ketika puting payudara kirinya amblas ke dalam mulut Reza, sementara payudara kanannya sudah sepenuhnya berada dalam remasan tangan kekasinya.

Berlahan Nietha mulai terbuai oleh rangsangan yang diberikan Reza terhadap bagian-bagian sensitif tubuhnya. Desahan demi desahan mulai terdengar dari mulut Nietha ketika Reza mulai memainkan lidahnya dan membuat beberapa cupangan di permukaan payudara montoknya. Kemudian bibir Reza kembali beralih ke bibir Nietha. Kini keduanya saling melumat dan mulai saling memainkan lidah mereka di dalam mulut. Berbarengan dengan pagutan mereka yang semakin panas, kedua payudara Nietha terus merasakan remasan-remasan tangan Reza secara bergiliran.

Cukup lama kedua remaja itu melakukan french kiss, sebelum akhirnya kedua tangan Reza mulai beralih mengincar kaitan sabuk dan resleting rok abu-abu Nietha. Reza terlihat cukup cekapan sehingga tak perlu waktu lama baginya untuk menurunkan rok pendek itu melewati kedua kaki sang kekasih. Setelah laki-laki itu melemparkan rok abu-abu ke atas kursi, maka kini praktis tubuh Nietha hanya tertutupi oleh celana dalam mini berwarna putih.

“Ini yang aku beliin ya?”.

Nietha hanya mengangguk malu.

“So sexy, nanti aku beliin lagi deh”.

“Aaahh…”, sang gadis mendesah kecil ketika jari-jari tangan Reza mulai menari-nari dipermukaan celana dalamnya, tepat di bagian klitorisnya.

Kain mungil itu memang nampak sama sekali tidak menutupi apa-apa. Selain karena bahannya yang tipis menerawang, celah-celah rendanya juga semakin membuat apa yang ada di baliknya menjadi begitu jelas terlihat. Reza menatap dengan penuh nafsu bagian tubuh Nietha yang paling menjadi favoritnya itu. Sekilas kembali terbayang dalam memorinya ketika ia pertama kali merobek pelindung tipis lubang kenikmatan tersebut beberapa bulan yang lalu. Dari celana pendek yang dikenakannya kini terlihat sebuah tonjolan tegak, menandakan bagaimana dasyatnya birahi yang sedang melandanya kini.

“Rez, pintu kamarnya di kunci dulu dong”, bisik Nietha ketika sang kekasih hendak kembali menindih tubuhnya.

“Oya, hampir lupa”.

Reza melompat dari atas ranjang dan bergegas mengunci pintu kamarnya. Bersyukur Nietha mengingatkannya, karena memang terkadang teman-teman kostnya kerap kali suka masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu. Begitu selesai mengunci pintu dan memastikan korden jendela tertutup rapat, ia beranjak menuju radio tape yang berada di atas meja. Reza menghidupkannya dan menyetel suara radio agak kencang. Sebuah ide yang brilian sebagai kamuflase suara-suara desahan atau teriakan yang mungkin akan segera memenuhi kamarnya nanti. Setelah itu dengan tergesa-gesa Reza langsung melepaskan celana pendeknya. Rupaya dibaliknya ia tidak mengenakan celana dalam sehingga begitu celana itu terlepas batang tumpul miliknya langsung mengacung tegak. Dengan penuh nafsu laki-laki itu langsung bergegas naik kembali ke atas ranjang dan menindih tubuh kekasihnya. Kini kembali tubuh sintal itu terlihat dihujani dengan ciuman, jilatan dan rabaan.

“Aaahh… pelan-pelan Rez… sakit…”, desah Nietha.

Reza nampak dengan penuh nafsu mengulum, menjilat dan menggigit permukaan payudara Nietha, sambil terus meremas-remasnya kencang. Payudara gadis cantik itu memang tidaklah terlalu besar hanya berukuran 34 A, namun bentuknya yang sempurna, padat dan kenyal membuat Reza begitu tergila-gila untuk bisa menikmatinya setiap kali ada kesempatan. Kini ciuman Reza terus turun menuju perut ramping sang kekasih. Disana ia sempat memainkan ujung lidahnya di bagian pusar sehingga membuat si gadis bergelinjang geli.

“Aaah…”.

Kemudian kembali ciuman itu turun berlahan menuju kedua paha mulus Nietha dan berakhir di selangkangannya. Reza sempat melihat sebercak noda basah di celana dalam kekasihnya yang menandakan kalau usahanya tidaklah sia-sia. Laki-laki muda itu lalu membuka kain mungil itu sehingga kini bagian sensitif itu pun terekspos dengan bebas.

“Ah… cantik sekali… benar-benar indah!”, Reza tersenyum melihat kini kekasihnya terbaring dalam keadaan polos dan dengan kedua kaki tertekuk dan mengangkang lebar. Sambil bersimpuh, sorot mata laki-laki itu begitu tajam menatap ke arah vagina Nietha dengan penuh nafsu. Sebuah vagina gadis muda yang begitu mempesona yang tertutupi oleh bulu-bulu hitam halus.

Nietha kembali hanya bisa tersipu malu. Walaupun ini bukanlah kali pertamanya ia telanjang di depan kekasihnya, namun sebagai wanita ia tetap saja merasa risih apabila ditatap dalam keadaan polos seperti saat ini.

“Udah ah… malu tau diliatin gitu!”, Nietha langsung merapatkan kedua pahanya.

“Lo kok kakinya ditutup sih?”.

Nietha langsung bangkit dari posisinya dan menjulurkan lidahnya.

“Week… biarin hehehe”.

“Ih bandel ya? Ayo dong dibuka lagi”, Reza memegang kedua lutut gadis cantik itu.

“Nggak mau…”, Nietha tersenyum menggoda kekasihnya.

“Ayo dong sayang please… dibuka ya…”.

“Emang kalo aku buka, aku dapet apa?”.

“Dapet yang enak dong hehehe”.

“Ah? Maksudnya?”.

“Maksudnya kayak gini nih…”.

Nietha terkejut ketika dengan cepat Reza membentangkan kedua kakinya lebar dan langsung membenamkan kepala ke selangkangannya. Beberapa detik kemudian rasa geli sekaligus nikmat langsung menyerang sekujur tubuh Nietha ketika lidah Reza dengan nakal mulai menyapu permukaan vaginanya.

“Rez… geli ah…”, Nietha bergelinjang hebat di atas ranjang ketika lidah sang kekasih semakin liar menjilati kewanitaannya. “Rez… aaahh…”. Nietha pun tidak kuat lagi menahan posisi duduknya dan langsung ambruk di ranjang dan kembali terlentang.

“Srruup… ssrrupp… ssruuup…”, suara decakan mulai terdengar ketika Reza menghisap cairan kewanitaan Nietha yang mulai membanjir keluar. Bulu-bulu lembut di sekitar wilayah selangkangan terkadang menggelitik hidung Reza ketika ia mengoral vagina kekasihnya tersebut. Namun aroma khas kewanitaan Nietha membuat laki-laki itu kian bernafsu melahapnya. Bahkan kini lidah Reza mulai menusuk-nusuk masuk ke dalam lubang vagina Nietha, seolah-olah memberikan pemanasan kepada sang gadis sebelum batang miliknya melaksanakan tugas utama.

“Oohh…”, Nietha nampak memejamkan matanya sementara kedua tangannya memegangi kepala Reza. Gadis itu agak mengangkat pantatnya agar lidah Reza dapat menusuk semakin dalam. “Aaahh…”, kembali gadis cantik mendesah, namun kali ini terdengar agak keras. Beruntung suara lagu yang mengalun dari radio mampu menutupi suara-suara desahan Nietha.

Ketika kedua remaja itu semakin terbuai oleh nafsu birahi mereka tiba-tiba saja…

“Tok… tok… tok…”.

Terdengar suara ketukan dari balik pintu kamar. Mendengar itu Reza langsung menarik kepalanya dari selangkangan kekasihnya. Sedangkan Nietha sendiri langsung menarik selimut guna menutupi tubuh telanjangnya.

“Tok… tok… tok…”, kembali suara ketukan terdengar. “Rez… lu di dalem nggak? Ni gue Roni nih…”.

“Iya bentar!”, Reza bergegas turun dari atas ranjang.

Laki-laki itu menyambar baju kaos dan celana pendeknya dan langsung memakainya kembali. Reza kemudian memberikan isyarat agar Nietha berpura-pura tidur. Nietha pun mengerti. Ia lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan berbaring membelakangi pintu. Selesai memakai pakaiannya, Reza menyambar handuk dari gantungan di pintu dan menggunakannya menutupi pakaian seragam Nietha yang tergeletak di kursi. Tentunya ia tidak ingin temannya yang kini berada di balik pintu melihat seragam tersebut dan mengetahui kalau kekasihnya kini dalam keadaan bugil.

“Rez…!!”.

“Bentar Ron…”.

Setelah sekali lagi memastikan kalau semua telah beres, Reza kemudian membuka pintu kamarnya. Sengaja ia tidak membuka pintu itu seluruhnya agar Nietha yang kini sedang berbaring tidak terlihat. Di depan pintu kini berdiri seorang laki-laki jangkung seumuran Reza. Rambutnya gondrong dan terlihat santai dengan memakai pakaian kaos dan celana pendek jeans. Dari style-nya terlihat sekali kalau ia juga seorang mahasiswa.

“Lama amat sih lu bukanya bro?”.

“Iya tadi lagi sibuk dikit, ada apa nih Ron?”.

“Gue mau pinjem mobil lu dong pake gue ngambil sound system bareng Yudi”.

“Bukannya lu bilang mau ngambilnya ntar malem?”.

“Maunya sih gitu, tapi temen-temen lain mau make dulu buat check sound jadi minta diambil cepetan”.

“O gitu, ya udah tunggu bentar ya”.

Reza masuk kembali ke dalam kamarnya. Tanpa disadarinya, Roni ikut masuk ke dalam dan melihat Nietha yang terbaring di atas ranjang.

“Wih ada cewek nih bro?”.

“Nietha tuh…”, Reza buru-buru mengambil kunci mobilnya dari saku celana jeans yang tergantung di gantungan pakaian, sebelum sahabatnya ini lanjut bertanya macam-macam lagi.

“Lu apain tuh cewek lu ampe pingsan gitu? Hehehe”, tatapan mesum terpancar dari mata Roni melihat tubuh Nietha yang tergolek di ranjang. Mau tidak mau Roni harus mengakui kalau dirinya tertarik melihat pacar sahabatnya itu sejak mereka berkenalan. Ia cukup iri karena Reza bisa begitu beruntung mendapatkan pacar secantik dan semolek Nietha. Namun tentunya perasaan itu harus ia pendam karena bagaimanapun juga Nietha sudah merupakan milik dari sahabat baiknya tersebut.

“Dia numpang tidur, katanya ntar sore ada pelajaran tambahan di sekolah”.

“O gitu…”, Roni hanya berkomentar singkat. Sekilas ia melirik ke arah bawah kursi di samping ranjang. Disana ia melihat sebuah kain mungil berwarna putih. Rupanya saat menaruh handuk tadi Reza tidak menyadari kalau celana dalam Nietha terjatuh. Fantasi nakal otak Roni langsung berkomplikasi dengan daerah selangkangannya. Di dalam otaknya langsung terbayang bagaimana panasnya suasana kamar tadi sebelum kedatangannya. “Cleguuk…!”, Rino menelan ludah.

“Eh nih kuncinya”.

“Oh iya, thanks ya bro”, Rino langsung tersadar dari kilasan birahi yang tadi memenuhi otaknya.

“Ada lagi?”, Reza bertanya karena melihat Rino masih belum juga beranjak keluar.

“U… udah bro, i… ini aja”, Rino agak tergagap setelah sekejap tadi sempat melirik kembali ke arah Nietha. “Lu nggak ikut nih?”.

“Nggak ah lu ama Yudi aja, ntar gue ikut gabung waktu check sound, gue nungguin Nietha dulu balik ke sekolah”.

“Ok deh, kalo gitu gue cabut dulu ya bro”.

Reza hanya mengangguk.

Sebelum beranjak Roni kembali menyempatkan diri melirik ke arah Nietha. “Deam… you’re so lucky Rez, I wish I can taste your girlfriend just once, I’ll be the happiest man in the world!”, teriak kata hati Roni.

Setelah mengantarkan Roni menuruni tangga dan memastikan kalau sahabatnya itu telah benar-benar pergi, Reza kembali masuk ke dalam kamar. Ia menutup pintu dan menguncinya, kemudian berjalan pelan mendekati ranjang.

“Nit, Roni udah pergi tuh”, Reza menggoyang-goyang tubuh kekasihnya.

Nietha pun kemudian membalikkan tubuhnya. “Jam berapa sih ni Rez?”.

“Jam setengah tiga kurang, kenapa?”.

Nietha bangun dan duduk di atas ranjang. “Aku balik ke sekolah aja ya…”.

“Jangan dong, lanjut dulu yang tadi yuk”.

“Nggak ah, ntar temenmu dateng lagi, aku kan malu telanjang gini”.

“Bentar aja ya, janji nggak lama kok”, Reza memeluk tubuh Nietha dan mengelus-elus rambut kekasihnya itu dengan lembut.

Kembali Nietha tidak bisa menolak ketika Reza kemudian mengangkat dagunya dan mencium bibirnya. Semula Nietha hanya pasif menerima pagutan bibir Reza, namun lama-lama gairah birahi gadis cantik itu pun kembali bangkit. Kini kedua remaja itu kembali saling berpagutan panas sambil memainkan lidah mereka.

“Nit, tolong ya…”, usai berciuman Reza melirik ke arah selangkangan yang kini sedang ia raba-raba. Dengan kata-kata lembut ia rupanya meminta kekasihnya untuk melakukan oral.

Nietha yang mengerti maksud kekasihnya itu hanya mengangguk. Reza kemudian turun dari ranjang dan membuka kaos serta celana pendeknya. Tak lama laki-laki itu sudah berdiri dalam keadaan telanjang sambil mengacungkan batang Penisnya. Nietha membuka selimut yang tadi menutup tubuhnya dan mengambil posisi duduk bersimpuh di atas ranjang. Gadis cantik itu kemudian memegang batang Penis kekasihnya yang nampak belum cukup tegang. Dikocok-kocoknya batang itu dengan menggunakan jari-jarinya yang lentik. Reza tersenyum ke arah Nietha yang juga dibalas oleh senyuman olehnya. Lalu dengan berlahan Nietha memasukkan batang Penis Reza ke dalam mulutnya.

“Ooohh…”, Reza melenguh panjang ketika Nietha mulai mengoral Penisnya.

Sambil sedikit memejamkan matanya, Reza membelai rambut panjang kekasihnya yang sedang memberikannya pelayanan oral. Gesekan permukaan bibir lembut Nietha yang bersentuhan dengan permukaan urat-urat batang penisnya menimbulkan sensasi penuh kenikmatan dalam diri Reza.

“Enak?”, tanya Nietha yang sejenak menghentikan kulumannya guna mengambil nafas.

“Terus say… terus… eenaak banget…”, Reza kembali tersenyum.

Nietha pun kemudian melanjutkan kembali pelayanannya. Tanpa disadari gadis cantik itu, tangan kanannya mulai merabai sendiri permukaan vaginanya. Batang penis Reza yang mulai terasa samakin membesar dan menegang di dalam mulutnya menimbulkan gejolak bagi simpul-simpul syaraf dalam vaginanya. Cairan kenikmatan kembali mengalir keluar dari lubang kenikmatan miliknya. Vaginanya mulai terasa berdenyut-denyut hebat menantikan saat-saat sang kekasih memberikannya hidangan utama dari permainan cinta mereka ini.

“Cukup Nit, cukup…”.

Berlahan Reza menarik kepala Nietha dari selangkangannya. Kemudian laki-laki muda itu membaringkan tubuh kekasihnya di ranjang. Setelah kembali naik ke atas ranjang, berlahan Reza mengangkat kedua kaki gadis cantik itu dan menekuknya untuk kemudian membukanya lebar. Kini kembalilah terpampang vagina indah dan basah milik sang kekasih.

“Masukin ya?”.

“Nggak ada kondom Rez?”.

“Nggak ada nih, nggak usah make aja ya?”, Reza memelas.

Setelah membisu beberapa detik, Nietha akhirnya menganggukan kepalanya. “Tapi hati-hati ya…”. Kemudian ia memejamkan matanya. Inilah saat-saat yang sudah dinantikannya. Agaknya nafsu yang kian membumbung tinggi membuat Nietha berani mengambil resiko untuk bercinta tanpa pelindung. Gadis cantik itu pun kini bisa merasakan ujung penis Reza mulai mengusap-usap permukaan vaginanya.

“Aaakkh…”, Nietha mendesah panjang ketika batang penis itu akhirnya menghujam ke dalam lubang kenikmatan miliknya.

Cukup lama juga penis itu berada di dalam vagina Nietha. Nampaknya si pemilik batang ingin menikmati dulu sensasi kuatnya jepitan dinding vagina sang gadis. Akhirnya setelah beberapa saat penis itu pun mulai mengocok vagina sang gadis cantik.

“Aaaah… oooh… aaaahh…”, desahan demi desahan mulai keluar dari mulut kedua remaja itu, seiring semakin intensnya genjotan yang dilakukan oleh Reza.

Beberapa hari berpuasa akibat jarangnya waktu pertemuan membuat sensasi percintaan mereka kali ini terasa begitu nikmat. Nietha merasakan kembali sensasi nikmat ketika ia diperawani beberapa bulan lalu di tempat yang sama, sedangkan Reza merasakan jepitan luar biasa dari sebuah lubang kenikmatan yang sudah lama tidak dimasukinya ini. Nietha semakin memperlebar jarak kedua kakinya agar Reza dapat semakin dalam menghujamkan penisnya.

“Aaaah… oooh… aaaahh…”.

“Aaaah… oooh… aaaahh…”.

Suara desahan terus terdengar berbarengan dengan suara penyiar yang terdengar dari radio tape diatas meja. Keduanya terlihat dilanda birahi yang luar biasa. Kedua remaja itu begitu menikmati percintaan mereka dan terlihat sangat ingin memuaskan pasangan mereka masing-masing. Baik Nietha maupun Reza terlihat begitu bernafsu untuk merengkuh kenikmatan setinggi-tingginya semampunya. Mereka sadar waktu terus berjalan dan semakin mepet sehingga setiap momen harus mereka nikmati betul, sehingga di ujung nanti semuanya akan berakhir sempurna.

Merasa kocokan penisnya belum cukup dalam, Reza mengambil bantal dan menjadikannya sandaran untuk pantat Nietha. Dengan ganjalan bantal tersebut, pantat Nietha menjadi terangkat sehingga akses masuk ke dalam vaginanya menjadi lebih luas. Apalagi kemudian Reza mengangkat kedua kaki kekasihnya tersebut ke atas bahunya dan menekan dadanya sehingga menempel di paha gadis cantik tersebut, membuat kocokan penisnya menjadi semakin dalam.

“Oooohh… Rez…!!”.

“Kenapa sayang? Sakit?”.

“Nggak, terus aja… terusin…”, Nietha merancau karena kocokan penis Reza semakin lama terasa semakin nikmat. Ia seakan lupa kalau sebentar lagi ia harus kembali ke sekolah. Nafsu birahi yang meninggi membuat gadis cantik itu lupa diri dan melayang-layang penuh kenikmatan. Di awal tadi ia begitu takut dengan waktu yang sedemikian mepet, namun kini Nietha begitu menikmati persetubuhan mereka ini sehingga tidak ingin semuanya berakhir dengan cepat.

Sambil menggenjoti kekasihnya, Reza terus menerus meremas-remas payudara Nietha yang terlihat semakin menegang dengan puting yang mengacung tegak. Tubuh keduanya terguncang-guncang hebat, begitu pula dengan ranjang yang menopang tubuh telanjang mereka.

Cukup lama berada dalam posisi seperti itu, Reza akhirnya merubah posisi tubuh sang kekasih dan menggenjotinya dengan posisi doggie. Wajah Nietha menempel di ranjang dengan mata terpejam. Kedua tangannya mencengkram sprei dengan kuat. Sedangkan Reza nampak semakin gencar melancarkan genjotannya. Kedua bongkahan pantat montot Nietha langsung menjadi santapan kedua tangan Reza.

“Aaaah… oooh… aaaahh…”.

“Aaaah… oooh… aaaahh…”.

Desahan kembali terdengar dan semakin kencang. Kedua tubuh telanjang tersebut terlihat sudah bersimbah peluh. Memang kondisi kamar yang serba tertutup membuat suasana menjadi sedikit pengap. Ditambah lagi dengan gairah birani kedua remaja tersebut yang sedemikian panas sehingga membuat apa yang telah panas menjadi semakin panas.

“Oooh… nikmat banget Nit… enak banget…”, rancau Reza.

“Rez… aku mau dapet nih!”.

“Iya sayang, aku puasin kamu hari ini!”.

Reza semakin mengencangkan genjotan penisnya.

“Jleep… Jleeep… Jlleep…!!”, suara decakan akibat pergesekan penis Reza dengan vagina Nietha yang semakin membanjir menambah sensual suasana di kamar tersebut.

“Rez… aku keluar!!”.

“Tahan sayang, tahan bentar lagi…”.

Mendengar itu Reza mencengkram kuat pantat Nietha dan semakin mempercepat genjotannya. Reza tahu kalau sebentar lagi ia juga akan mencapai puncak. Penisnya sudah mulai berkedut-kedut hebat di dalam vagina Nietha, namun ia mencoba menahannya karena masih ingin merasakan jepitan vagina kekasihnya itu untuk beberapa saat lagi.

“Aaaah… Nietha…”, Reza langsung mencabut batang penisnya.

Begitu penis itu tercabut, terdengar juga teriakan keluar dari mulut sang gadis. “Aaakkkh…!!!”.

Suara teriakan keduanya terpantul di seluruh ruangan kamar. Tubuh Nietha yang semula menungging langsung ambruk di atas ranjang dalam keadaan posisi tertelungkup. Sedangkan Reza mengocok- ngocok penisnya dan beberapa detik kemudian cairan putih kental langsung menyembur hebat mengenai pantat dan punggung Nietha. Setelah beberapa kali semburan, tubuh Reza pun ikut ambruk di samping tubuh kekasihnya. Tubuh keduanya nampak menegang dan nafas mereka terdengar menderu kencang.

Beberapa menit kemudian, setelah kedua remaja itu mulai terlihat tenang Reza menggulingkan tubuhnya dan memeluk sang kekasih. Sebuah ciuman mendarat di rambut dan pundak Nietha.

“Makasi ya sayang…”.

“Iya…”, suara Nietha terdengar lemah. Agaknya ia masih terbelenggu di dalam birahi yang mungkin masih sedikit tersisa.

Reza kemudian membalikkan tubuh Nietha sehingga mereka dapat saling berhadapan. Ciuman lalu mendarat di bibir mungil gadis cantik tersebut. Untuk beberapa saat mereka berdua saling berpagutan dan diakhiri dengan sebuah pelukan yang hangat. Hangatnya gelora cinta sepasang remaja begitu terpancar dari diri keduanya saat ini.

“Ooh… Rez aku harus balik ke sekolah”, teriakan Nietha memecah kebisuan antara mereka.

Gadis cantik itu langsung beranjak turun dari atas ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Tanpa menutup pintu kamar mandi, karena memang merasa tidak perlu, Nietha mulai membersihkan tubuhnya dari ceceran sperma Reza dengan shower. Selain itu ia juga menggosok vaginanya dan juga kedua payudaranya dengan sabun, sebelum ia membasuhnya. Setelah selesai membasuh sekujur tubuhnya serta wajah cantiknya, Nietha baru menyadari kalau Reza berdiri di depan pintu kamar mandi. Entah berapa lama ia telah berdiri disana.

“Rez kamu ngapain?”, Nietha sedikit heran melihat Reza yang berdiri dan masih dalam keadaan telanjang sambil memegang ponselnya.

“Buat kenang-kenangan nih hehehe…”.

“Aduh… jangan direkam dong!”, Nietha berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan tangan. Namun karena ia hanya bisa menggunakan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya sedang memegangi gagang shower, usahanya itu pun nampak sia-sia belaka.

Dengan usilnya Reza tetap merekam tubuh telanjang kekasihnya itu, walaupun Nietha sudah memintanya untuk menghentikan perbuatannya. “Dikit lagi say”.

“Udah ah Rez, aku nggak suka tau, matiin…!”, Nietha berlari ke arah Reza dan berusaha merebut ponsel itu dari tangan kekasihnya.

“Iya iya, nih aku matiin…”, Reza berusaha berkelit agar ponselnya itu tidak sampai berpindah tangan.

“Hapus…!!”, gadis cantik itu merengek.

“Iya ntar aku hapus deh, udah lanjutin mandinya gih…”, Reza tersenyum.

Dengan wajah cemberut menahan kesal, Nietha pun kembali masuk kembali ke dalam kamar mandi. Kali ini ia menutup pintu dan menguncinya. Tak lama kemudian pintu itu kembali terbuka dan wajah cantiknya muncul dari balik pintu.

“Rez, pinjem handuk dong!”, teriak Nietha.

Tak lama Reza muncul sambil menyodorkan handuk miliknya.

“Udah dihapus belum?”, rupanya Nietha masih kesal dengan ulah usil kekasihnya yang merekam tubuh telanjangnya menggunakan ponsel.

“Udah kok sayang, jangan cemberut gitu dong hehehe”.

“Ambilin seragam ama dalemanku dong sekalian”.

“Lo kok nggak dipake diluar aja?”.

“Nggak, ntar kamu usil lagi main rekam-rekam”, wajah Nietha masih memancarkan kekesalan.

“Hehehe masih marah nih ceritanya? Iya deh tuan puteri, hamba akan mengambilkan pakaian tuan puteri”.

Reza beranjak dan menuju kursi tempat ia meletakkan pakaian seragam dan juga daleman kekasihnya. Kemudian ia menyerahkan pakaian-pakaian tersebut kepada Nietha. Setelah mengambil seluruh pakaiannya, gadis cantik itu langsung melengos dan menutup pintu. Reza kembali hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah kekasihnya.

Beberapa menit berlalu, Reza yang sudah kembali mengenakan celana pendek dan kaosnya kini nampak duduk bersandar di ujung ranjang. Suara radio tape yang tadi memenuhi ruangan, kini sudah tidak terdengar lagi. Tak lama pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Nietha yang sudah lengkap mengenakan pakaian seragamnya. Gadis cantik itu lalu mengambil sisir milik Reza dan merapikan rambutnya di depan kaca. Tiba-tiba sebuah pelukan mendekap tubuhnya dari belakang dan disambung dengan sebuah ciuman di pipinya.

“Masih kesel?”, tanya Reza.

Nietha hanya menggelengkan kepalanya. Keduanya nampak saling berpandangan melalui pantulan cermin.

“Kalo udah nggak kesel, senyum dong”.

Nietha tersenyum kecil.

“Kok gitu senyumnya? Yang manis dong”, sebuah ciuman kembali mendarat di pipi Nietha.

Kali ini Nietha tersenyum agak lebar. Senyuman kali ini memang terlihat lebih manis daripada senyumannya semula.

“Nah gitu dong kan cantik hehehe…”.

“Aku balik dulu ya”.

“Iya deh, aku anterin sampai depan ya?”.

Selesai mengenakan kembali sepatunya, Nietha dan Reza berjalan keluar dari kamar dan mulai menuruni tangga. Kini suasana kos-kosan terlihat begitu lengang. Mungkin beberapa dari anak-anak kos sedang berada di dalam kamar atau mungkin sedang keluar.

“Tas kamu mana?”, keduanya kini nampak berdiri di samping mobil milik Nietha.

“Tuh di dalem mobil”.

“O gitu, ya udah kalo gitu hati-hati ya sayang”, Reza memeluk tubuh Nietha dan kembali mendaratkan sebuah ciuman di bibir sang kekasih.

“Iya, by the way ntar mandi lagi ya bau tuh hehehe”.

“Baik tuan puteri”, Reza tersenyum simpul.

Nietha pun kemudian masuk ke dalam mobil. Beberapa saat setelah memutar mobilnya, Nietha melambai ke arah sang kekasih dan mobil hitam itu pun langsung melaju keluar dari areal kos-kosan tersebut.

********

“Eh ngapain aja lu Nit? Lama bener nyampenya?”, Gina langsung menyemprot ketika sahabatnya tersebut telah berdiri dihadapannya sambil ngos-ngosan.

Saat itu Gina terlihat sedang duduk disamping seorang gadis dan seorang pemuda di depan kelas mereka.

“Aduh takut banget nih gue, kirain kelas udah mulai”, nafas Nietha masih terlihat terengah-engah. Gadis cantik itu sampai harus menarik nafas panjang sebelum ia bisa mengeluarkan suara.

“Udah anterin gue pipis yuk, kasihan nih mereka berdua sedeng pacaran gue gangguin dari tadi hehehe”, Gina langsung menarik tangan Nietha dan meninggalkan sepasang remaja tadi.

Belum sempat menaruh tasnya di dalam kelas, Nietha dengan terpaksa mengikuti Gina yang menariknya. Sambil berjalan, Gina mengendus-ngendus ke arah Nietha.

“Ngapain lu?”.

“Nggak apa-apa, abis kok tiba-tiba gue nyium bau pejuh ya? Hahaha”.

Nietha langsung memukul pundak sahabatnya tersebut. “Apaan sih lu? Basi tau nggak?”.

Gina hanya cengengesan mendengar protes sahabatnya tersebut.

Ketika hampir sampai di depan toilet tiba-tiba terdengar suara ringtone ponsel. Gina langsung menarik ponselnya dari dalam saku roknya. Sejenak ia melihat nomor yang tertera di layar ponselnya. Ekspresi wajah Gina langsung terlihat berubah. Walau ia tidak mendaftarkan nomor tersebut di dalam memori ponselnya, namun ia tahu kalau nomor itu adalah milik Om Herdi.

“Tunggu bentar ya Nit”, Gina langsung beranjak menjauh dari sahabatnya itu.

Nietha hanya bisa memandang heran ke arah Gina.

“Halo…”.

“Halo… dengan Gina ya?”, terdengar suara laki-laki dari seberang telepon.

“Iya…”, Gina menyahut ragu.

“Ini Om Herdi Gin, masih inget kan? Hehehe”.

“Oh Om Herdi, ada apa ya Om?”, Gina pura-pura tidak tahu.

“Gini Gin, Om mau ketemu kamu lagi nih besok, kamu ada waktu?”.

“Besok ya Om?”.

“Iya besok sore atau malam, pulang kamu dari sekolah, bagaimana?”.

“Hhhmm… gimana ya Om?”, Gina nampak ragu memberikan jawaban. Sebenarnya gadis cantik itu tidak ingin lagi bertemu dengan Om Herdi, laki-laki yang pernah mem-booking-nya beberapa hari yang lalu. Namun sisi liarnya, seakan-akan terus mendorong dirinya untuk menerima ajakan Om Herdi tersebut.

“Bagaimana, bisa?”

Gina masih belum bisa memberikan jawaban. Berbagai perasaan langsung bergejolak dalam dirinya saat ini.

“Gin? Kamu masih disana?”, kembali terdengar suara dari Om Herdi.

“Eh, masih… masih Om”.

“Ayo dong dijawab, kamu bisa apa nggak?”.

“Hhhmm… liat besok aja deh ya Om, soalnya Gina nggak tau juga apa bakal dapet pelajaran tambahan lagi apa nggak besok sore”.

“O gitu ya? Ok deh kalau gitu besok siang Om hubungi kamu lagi ya?”.

“I… Iya deh Om”.

Percakapan pun berakhir. Gina kemudian terlihat terpaku dengan pandangan kosong untuk beberapa menit. Ia seakan masih tidak percaya kalau Om Herdi benar-benar menghubunginya lagi, padahal ia berharap kalau kejadian kemarin tidaklah sampai berlanjut.

“Eh, kenapa lu? Kok jadi bengong?”.

Tepukan Nietha di pundak Gina, langsung menyadarkan gadis cantik itu dari lamunannya.

“Oh, nggak apa-apa kok”.

“Sapa tuh yang nelpon?”.

“Nggak tau, salah sambung tuh”, Gina berbohong.

Nietha mengerutkan dahinya melihat tingkah aneh dari sahabatnya ini.

“Masuk ke kelas yuk!”.

“Loh? Lu nggak jadi pipis?”.

“Nggak ah, udah nggak pengen lagi”.

Nietha pun dengan terpaksa harus kembali berjalan mengikuti Gina yang menarik tangannya menuju ke kelas. Jelas sekali masih tersimpan tanda tanya di dalam hati Nietha melihat tingkah sahabatnya. Namun hati yang paling bergejolak saat ini jelas-lah hati Gina. Hampir sepanjang jam pelajaran ia tidak berkonsentrasi mengikuti apa yang disampaikan oleh Pak Santoso, guru matematikanya. Pikirannya terus melayang membayangkan percakapannya dengan Om Herdi tadi. Sungguh sebuah perasaan yang jelas tidak menyenangkan. Namun sampai dengan esok hari, ia tentu masih memiliki waktu banyak untuk memikirkan masak-masak jawaban apa yang akan diberikannya untuk Om Herdi. Ia hanya berharap semoga besok ia memiliki kekuatan menolak bisikan jahat dari sisi liarnya yang terus menerus mendorongnya untuk kembali menjual diri.
Bersambung …

Keyword Pencarian:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *