Cerita Sex Memuncak Yang Tak Tertahankan

Cerita Sex Memuncak Yang Tak Tertahankan

Posted on

Cerita Sex Memuncak Yang Tak Tertahankan | Pagi-pagi sekali Dolah mengajakku menemaninya ke polsek, awalnya aku tidak tahu apa tujuannya. Namun dalam perjalanan, Dolah menceritakannya, bahwa Erdy semalam ditahan polisi atas tuduhan perampokan dan pemerkosaan. Mendengar hal tersebut aku langsung shok, kenapa bisa Erdy melakukan hal seperti itu. Dilema besar menghantui kami, hingga aku tidak tenang membawa mobil menuju polsek.

Cerita Sex Memuncak Yang Tak Tertahankan cerita dewasa | cerita sexCerita Sex Memuncak Yang Tak Tertahankan | Sejak Dolah menikah, kami sudah tidak melakukan hal bejat lagi, hanya usaha plus-plus saja yang kami pertahankan untuk menafkahi kami sehari-hari. Kelalukan seperti memperkosa atau merampok tidak pernah kami lakukan lagi, entah apa yang sedang merasuki Erdy hingga ia nekat berbuat demikian. Semoga saja tuduhan itu tidak benar.
“Mungkin ke depan, saya mau tutup usaha kita man…”, kata Dolah.
“Kenapa boss?”, tanyaku. “Kita usaha yang positif saja man…”, jawab Dolah. Memang kulihat Dolah sudah terlihat agak berbeda sejak ia menikah, mungkin ia sudah mulai bertobat dari segala dosanya. “Gue nyesal man, bisa kayak gini…”, lanjut Dolah sambil menundukkan kepalanya.
“Hampir sampai boss…”, aku coba mengalihkan pembicaraan, aku tak mau boss Dolah bersedih, ia pasti berpikir dialah yang menjerumuskan kami semua.
Sampai di polsek, Dolah lalu menemui polisi, mungkin mencoba untuk membebaskan Erdy. Aku langsung minta ijin bertemu dengan Erdy.
“Satorman…”, Erdy memanggilku pelan dengan suara yang rendah. Raut wajahnya murung sekali. Ia lalu duduk depanku, “Maafkan aku bro…”, katanya. Kemudian ia mulai bercerita apa yang terjadi dengannya.

Tiga hari sebelumnya Erdy ditantang adu balap liar dengan seorang pemuda bernama Indra. Erdy yang sudah yakin dengan settingan motor King nya pun tidak mau diremehkan.
“Oke, kita taruhan!”, tantang Erdy balik.
“Lima puluh juta!”, tantang si Indra. Erdy yang tidak memiliki dana sebesar itu pun bernegosiasi,
“Taruhan motor saja…”, kata Erdy.
“Yang kalah serahin motor balapannya saja!”, lanjut Erdy.
“Oke, deal!” jawab Indra.

Cerita Sex Memuncak Yang Tak Tertahankan | Erdy mengenal Indra dari masa lalu nya yang sering ngumpul dengan geng motor. Erdy sudah lama tidak pernah berkumpul dengan mereka lagi sejak ia buka usaha tambal ban kecil-kecilan, juga membantu menjaga tempat usaha Dolah. Balap liar jarang sekali Erdy ikuti, hanya saja ia sering membantu menyettingkan mesin para joki balap liar itu.
Malamnya tiba, para preman sudah mulai memadati jalan raya yang menuju luar kota, jalanan ini cukup sepi di malam harinya. Tepatnya jam 24:00, para preman sudah menutup jalan untuk sementara. Kiri kanan dipadati para biker jalanan yang clubnya tidak resmi. Rata-rata adalah motor modifan drag race, dari matik, bebek hingga moge.
Erdy sudah bersiap-siap berlomba dengan Indra, sama-sama menggunakan motor King yang sudah disetting khusus balap liar. Nampak puluhan orang yang berada di kiri kanan jalan juga ribut untuk taruhan.
‘Brrrmmmmmmmmm…..’, suara motor mereka ketika distarter untuk memanaskan mesin. Seorang gadis maju ke depan untuk memberi aba-aba mulainya pertandingan,
“GO!!!” teriak gadis itu. Erdy langsung memacu motor nya dengan cepat. Beberapa detik saja Indra sudah tertinggal. Tanpa speedometer, Erdy menerka-nerka bahwa kecepatannya telah mencapai 180kpj. Penonton kiri kanan terus bersorak, Indra yang tertinggal berusaha mengejar, namun selisih jarak mereka cukup jauh. Nampak settingan motor Erdy jauh lebih unggul.
Indra terus menarik gasnya hingga full. Posisi mereka sudah kian mendekat. Indra memepet ke Erdy yang masih unggul. Tampak di depan, garis finish sudah tidak begitu jauh, Erdy terus memacu kuda besi nya, ia sangat berharap bisa memenangkan pertandingan ini. Selain hadiah yang diperoleh, nama bengkelnya pun bisa ikut naik pamornya.
Akhirnya Erdy mencapai finish setelah tidak sampai satu detik disusul Indra. Erdy tampak senang sekali, ia melepaskan helmnya lalu tersenyum ke arah Indra. Namun Indra nampak kesal, ia membuka helmnya lalu melemparnya ke arah Erdy.
“Hey! Lu pasti main bangsat ya?! Lu pakek ilmu hitam?!”, tanya Indra dengan nada yang kasar. Di balap liar ini, sudah tidak heran, beberapa joki masih percaya dengan bantuan dukun.
“Yang sportif dong!!!”, teriak penonton ke arah Erdy, mereka mengira apa yang dikatakan Indra adalah benar.
Lalu beberapa pria mendekati Erdy, mereka adalah geng motor temannya Indra.
“Bajingan, main bangsat juga lu ya?”, kata kawanan itu.
“Hey, kalian boleh ngecek, apa gue pake guna-guna atau enggak! Gentel dong! Kalau kalah ya kalah!!”, balas Erdy. Dikatain begitu malah membuat gerombolan itu marah. Mereka lalu memukuli Erdy, beberapa orang mendorong motor Erdy lalu berteriak, “Bakar!!!”. Terlihat mereka yang kalah taruhan sangat tidak terima, mereka malah melampiaskannya pada Erdy yang diduga menggunakan ilmu hitam.

Cerita Sex Memuncak Yang Tak Tertahankan | Erdy tak bergerak dipukuli, dan ia hanya bisa meratapi motornya yang sudah dilumat si raja api. “Motorku….”, teriak Erdy. Pria yang ramai itu pun meninggalkan Erdy, mereka berbondong-bondong pergi dari sana dengan motor mereka, menimbulkan suara ribut knalpot racing motor gede mereka. Erdy kaget dan segera mencari tempat persembunyian, karena ia mendengar suara sirene dari mobil polisi yang menuju ke arahnya. Polisi ramai sekali memadamkan kobaran api yang melahap motor King milik Erdy, para polisi menyisir tempat itu untuk mengejar para pembalap liar. Erdy hanya bisa mengintip dari persembunyiannya.

“Gue nyesal ikut balap liar man…”, cerita Erdy sambil menundukkan kepalanya. Ia sangat terpukul sekali, kemenangannya malah membawa bencana besar bagunya. Ia kehilangan motor kesayangannya. Itulah dunia gelap, sesuatu yang tidak resmi tidaklah baik, balap liar seperti itu sudah sering menimbulkan keributan. “Lalu bagaimana kamu bisa dituduh merampok dan memperkosa bro?”, tanyaku. Masih dengan muka tertunduk, Syamsuk mulai melanjutkan ceritanya.

Erdy menaruh dendam dengan Indra, ia sudah merencanakan untuk balas dendam pada Indra. Keesokan malamnya, Erdy sudah mengintai Indra, ia punya rencana untuk mencuri motor King nya sebagai ganti rugi motornya yang dibakar geng motor kawanan Indra. Erdy yang tadinya menenggak minuman keras untuk menghilangkan bebannya kini sudah sedikit mabuk, ia melihat Indra membawa motor Kingnya berboncengan dengan seorang cewek yang diduga adalah pacar Indra, Erdy yang menyewa ojek pun mengikuti Indra dari belakang.
Aneh, Indra malah masuk ke hutan, tempat yang gelap dan sunyi. Erdy meminta ojek meninggalkannya di depan, lalu ia berjalan masuk hutan secara mengendap-ngendap. Terlihat motor King Indra terparkir di dalam, dan ada sebuah pondok kecil di dalam hutan itu. Ternyata Indra ingin berpacaran di tempat sepi seperti dalam hutan yang sunyi tanpa gangguan siapapun. Erdy pun mengendap-ngendap dengan membawa sebuah belati dan berbekal seutas tali, ia sudah tidak tahan ingin meluapkan emosinya.
“Halloooo soobaaatttttt….”, sapa Erdy yang tiba-tiba muncul dari balik semak belukar. Indra langsung kaget, kemunculan Erdy menghentikan kemesraannya berciuman dengan pacarnya. Suasana yang gelap hanya diterangi cahaya rembulan membuat Indra sedikit sulit melihat sosok di balik kegelepan itu, “Erdy?…”, Indra memastikan.
“Ha ha ha ha ha…”, Erdy tertawa terbahak-bahak, “Gue mau ambil hasil taruhan gue…”, kata Erdy. Indra kaget bukan main, ia terlihat salah tingkah karena sedang pacaran di tempat gelap. “Lu ngapain di sini?!”, teriak Indra yang sontak langsung bangkit. Pacar Indra terlihat takut dan langsung bersembunyi di belakang Indra. “Serahin motor lu, atau gue bunuh?!”, ancam Erdy. “Kampret! Enak aja…” jawab Indra yang langsung menyerang Erdy. Sayangnya Erdy sangat gesit, dengan beberapa pukulan saja Indra langsung dengan sekejap bisa dilumpuhkan.
“Masih mau melawan?”, tanya Erdy yang langsung mengikat Indra dengan tali yang ia bawa. “Lepasin gue kampret!”, teriak Indra yang masih mencoba melawan. “Lu mau gue bunuh coy?!”, ancam Erdy dengan mendekatkan belatinya ke leher Indra. Indra langsung diam, namun terdengar isak-isak tangis pacarnya. “Wew, cantek juga cewek lu coy?”, kata Erdy yang melihat ke arah pacar Indra. “Ambil aja motor gue! Lepasin kami!!”, Indra berteriak. “Hmmm… Kayaknya gak sebanding coy…”, Erdy melihat gadis itu sambil menenggak ludah.
Gadis itu masih ABG, mungkin umuran tujuh belas tahun, rambutnya lurus panjang, tubuhnya pun mungil seksi. “Siapa nama lu?”, tanya Erdy kepada gadis itu. “Indri….. bangg…”, gadis itu menjawab dengan ketakutan. “Hmm, Indri… Nama yang bagus…”, kata Erdy. “Lu boleh bunuh gue, tapi lepasin dia!”, teriak Indra. Erdy lalu memandang ke arah Indra, dengan muka kesal Erdy lalu meninju perut Indra yang terikat tak berkutik. “Lu mikir ga sama keadaan gue?”, tanya Erdy. “Oke… Oke… Lu ambil aja tuh motor…”, jawab Indra. “Enak aja lu ngomong…”, Erdy kesal langsung menampar Indra. Pacar Indra terus menangis melihat Indra diperlakukan seperti itu. “Itu motor hadiah menang taruhan… Kampreettttt…. Lu masih ngutang satu motor lagi buat gantiin motor gue yang kalian bakar…”, kata Erdy. “Terus, harga diri gue lu juga mesti bayar… Kampreettttttt…. Dikeroyok orang, terus dituduh pakai ilmu hitam…”, lanjut Erdy. “Kini gue mau liat harga diri lu gimana…”, kata Erdy yang langsung mendekati Indri.
“Woi, lepasin dia!!!”, teriak Indra. “Oke… Oke… Gue bayar… Gue tambahin jadi tiga motor sekalian buat lu…”, Indra mencoba menawar. Erdy lalu balik ke arah Indra, bukan melepaskannya, Erdy malah menutup mulut Indra dengan sapu tangannya. “Hmmm… Hmmm…..”, Indra coba berteriak dengan mulut yang tertutup sapu tangan. “Lu diam aja, jangan berisik, nikmati aja perasaan lu…”, kata Erdy yang kemudian kembali berbalik ke arah Indri.
“Ja….jangaannnnn baannggg….”, gadis kecil itu memohon. “Kalau kalian mau hidup, lu mesti layani gue…”, ancam Erdy dengan memainkan belatinya. Indri malah terus menangis ketakutan. “Woi woi.. Lu mau liat gue bunuh cowok lu??…”, ancam Erdy. “Jaannngaaaannnn baanngggg…. Hiikkkksssss….”, jawab Indri. “Kalau gitu, sekarang lu buka semua pakaian lu!”, perintah Erdy.
“Hmmmm hmmmm hmmmmmm…..”, Indra mencoba melarang Indri. Erdy terus memainkan belatinya hingga Indri ketakutan. Tidak ada pilihan lain, Indri dengan terpaksa memenuhi permintaan Erdy. Indra masih terus mencoba berontak dan berteriak, namun usahanya hanya sia-sia saja. Dengan wajah yang bercucuran air mata, Indri pelan-pelan membuka baju kaosnya, ditariknya dengan perlahan hingga kaosnya ke atas dan terlepas. Buah dadanya yang belum begitu besar terlihat segar ditutupi bra berwarna pink.
Erdy menjulurkan lidahnya, menandakan ia sangat menikmati pemandangan indah di depannya itu. Lalu Indri mulai membuka resleting celana jeansnya. “Ayo cepet… Apa mau gue yang bukain?!”, kacau Erdy. Indri takut sekali, ia lebih memilih melepaskan sendiri daripada harus dilepaskan oleh Erdy. Celana jeans birunya pun perlahan-lahan ditarik ke baeah, hingga tampak celana dalam Indri yang berwarna pink, dengan motif bunga yang cantik. Kini Indri hanya mengenakan bra dan celana dalam, ia berusaha menutupinya dengan tangan, namun Erdy melarangnya, “Woi, gue minta lu bugil!!”, teriak Erdy. Sontak saja Indri kaget, masih dengan raut wajah sedih, ia perlahan melepaskan bra nya sendiri.
Indra masih terus berontak, suaranya tidak kedengaran, Erdy pun sudah tidak memperdulikannya. Indri sudah melepaskan bra pink nya, susunya yang segar itu terlihat indah, putingnya merah muda dan masih kecil. Dengan sebelah tangannya ia berusaha menutupi dadanya, sebelah tangannya lagi menarik celana dalamnya turun. “Gak perlu malu-malu… Cukup gue aja yang dipermaluin cowok bangsat lu itu…”, kata Erdy.
Kini Indri sudah telanjang bulat setelah berhasil membuka celana dalamnya. Dengan kedua tangannya ia berusaha menutupi dada dan kemaluannya. Sekilas terlihat oleh Erdy, sela di antara paha Indri yang masih jarang bulunya. “Woi woiii……”, Erdy bermaksud agar Indri tidak menutupi dada dan kemaluannya. Indri kembali menangis, “Jangan apa-apain gue bannngggg…”, pintanya sambil menurunkan tangannya. Erdy tidak menggubris, ia hanya memplototi tubuh Indri yang indah itu.
“Lu bisa nari ga?”, tanya Erdy ke Indri. “Gaaa… a… gaa biiiss…saaa bannggg…”, Indri menjawab dengan ketakutan. “Makanya belajar… Mau gue ajarin??”, tanya Erdy. Tak mau menjawab Erdy, Indri lalu coba berjoget, ia ketakutan, badannya gemetaran, ini lebih baik pikirnya daripada harus diajarkan Erdy. “Nah, tuh bisa….”, singgung Erdy sambil bertepuk tangan. Indri menggerakkan tubuhnya, dari tangan sampai ke kaki bergoyang. Erdy lalu mengeluarkan hp nya, lalu memainkan musik disco. Indri berjoget dengan tubuh yang gemetaran, wajahnya masih dipenuhi air mata yang terus mengalir. “Jangan nangis donk, cup cup cup, tar cantiknya gak keliatan…”, olok Erdy.
Indri terus bergoyang, hingga ia sedikit capek dan memelankan gerakannya. “Kalo capek, istirahat aja… Sini gue pijitin…”, kata Erdy. Indri langsung pucat ketakutan, “Janngaannn baannnggg….”, Indri menghentikan gerakannya dan kembali menangis dengan kencang. “Sini, gue cuma mau lu bukain pakaian gue!”, Erdy memerintahkan Indri. Indra masih terus berontak walaupun ia tahu usahanya sia-sia. Indri tidak berani mendekat hingga Erdy kesal kemudian berteriak, “Lu mau gue bunuh?!”, ancamnya sambil mengarahkan belatinya.
Perlahan Indri mendekati Erdy, “Nah gitu dong, anak baik….”, olok Erdy. Kancing bajunya satu per satu dilepas oleh Indri. “Dilihat dari dekat, ternyata Indri sangatlah cantik…”, rayu Erdy yang diam membiarkan Indri melepaskan pakainnya. Indri memalingkan wajahnya, ia takut memandang tubuh Erdy yang dipenuhi tatto itu. Baju Erdy yang hanya selapis sudah terbuka, kini giliran celana jeans nya yang terkoyak di sebelah lutut. Indri melepaskan kancing dan membuka resleting celana jeans Erdy, lalu pelan-pelan ditariknya turun ke bawah.
“Indri mau gak jadi pacar abang?”, tanya Erdy. Indri tidak berani menjawab, wajahnya masih memaling kesebelah, ia tak mau memandang ke depan, di mana celana jeans Erdy sudah turun, dan menampakkan Penisnya yang mengeras dibalik celana dalam kumalnya. “Gak apa-apa, Indri pikirkan saja dulu…”, lanjut Erdy.
Kini tubuh Erdy hanya mengenakan celana dalam abu-abu kumal saja. “Lanjutin dong…”, perintah Erdy. Indri pelan-pelan menarik turun celana dalam Erdy hingga Penis besarnya menyembul keluar. Indri ketakutan tak ingin melihat benda itu, mungkin jijik baginya, karena Erdy yang urakkan, Penisnya berbau pesing. “Indri kok gak mau lihat?”, tanya Erdy. Indri terus meneteskan air mata, dengan terpaksa ia pun memandang ke depan, ia sedikit takut dengan Penis besar Erdy yang berbau pesing.
“Jangan malu-malu, kalau penasaran, pegang saja…”, kata Erdy bermaksud menyuruh Indri memegang penisnya itu. Indri sangat ketakutan, tangannya gemetaran diarahkan ke penis Erdy. ‘Hmmm…. Hmmmmm…’, suara teriakan Indra yang tak kedengaran. Indri akhirnya dengan terpaksa memberanikan diri menyentuh penis Erdy. “Nah, gitu dong… Dikulum aja kalo haus…”, kata Erdy. Dengan tangan yang masih gemetaran, Indri menyentuh penis Erdy. Indri terlihat jijik memegang penis Erdy, ia hanya menyentuh dengan ujung jarinya. “Indri…..”, suara Erdy menekan Indri. Penis Erdy akhirnya dipegang Indri, lalu Erdy menuntun tangannya untuk mengocok penis Erdy. Indri mulai mengocok penis Erdy dengan perlahan, walaupun tangannya gemetaran, tapi ia sudah membuyarkan rasa jijiknya.
“Bagus… Teruskan sayang….”, kata Erdy. Indri terus mengocok penis Erdy dengan pelan, ia bergantian tangan ketika capek mengocoknya, tangan kiri lalu dengan tangan kanan. “Kalo capek ya pake mulut aja sayang…”, kata Erdy. Jelas saja Indri takut, ia sangat jijik dengan penis Erdy yang bau pesing itu, apalagi kalau harus memasukkan benda itu ke dalam mulutnya. Indri terpaksa terus mengocok penis Erdy dengan kedua tangannya, walaupun tangannya sudah terasa sedikit sengal.
Indra sudah menyerah akan usahanya, mulutnya yang tertutup sapu tangan tak mampu berteriak, lagian kalau pun dia berteriak, tidak ada yang mendengar, karena Indra tau mereka dalam tengah hutan. Lokasi ini memang dipilih Indra sebagai tempat pacaran, karena sangat sepi, bahkan mereka bisa berbuat mesum tanpa diketahui siapapun, tempat yang aman dan gratis pikirnya. Kinu Indra hanya bisa pasrah, dengan berlinang air mata, ia tak mampu melihat derita pacarnya.
Erdy kemudian menjambak rambut Indri, ia mulai bosan kocokan tangan Indri, ia ingin Indri mengocok penisnya dengan mulatnya. “Pakek mulut dong!”, perintah Erdy langsung menjambak rambut Indri agar wajah Indri mendekat ke penisnya. Indri ketakutan, pipinya yang basah dengan air mata kini menyentuh penis Erdy yang besar dan berbau pesing. “Ayo!!!”, Erdy memaksa dengan tamparan lembut di pipi Indri menggunakan penisnya. Indri pun dengan terpaksa membuka mulutnya, lalu Erdy dengan memudah menyodorkan penisnya ke dalam mulut Indri.
Dengan mata tertutup Indri akhirnya mengikuti perintah Erdy, ia biarkan penis Erdy yang bau itu masuk ke mulutnya. “Bagus….”, puji Erdy menampar kecil pipi Indri dengan tangannya. Lalu Erdy menjambak kembali rambut Indri, agar Indri memaju mundurkan wajahnya. Indri pun tidak ada pilihan lain, dengan sangat terpaksa ia belajar menyepong benda bau pesing milik Erdy itu. Penis Erdy terus kelua masuk di mulut mungilnya Indri. Sesekali Erdy juga menahan kepala Indri, agar penis Erdy terdorong masuk hingga ke tenggorokan Indri, membuat Indri serasa ingin muntah.
Cukup lama Indri menyepong penis Erdy, hingga Erdy sudah cukup bosan. Ia meminta Indri melepaskan sepongannya, agar Erdy juga tidak cepat berejakulasi, ia tampak belum puas menikmati Indri. Lalu Erdy membaringkan Indri di pondok kecil itu, Erdy lalu menimpa nya. “Tadi Indri sedot punya abang, gantian abang sedot punya Indri ya….”, kata Erdy yang langsung menyedoti susu Indri. Dengan ganas Erdy menyedoti susu Indri yang masih kelihatan kecil dan segar. Perlawanan Indri tak berarti, tangannya ditangkap Erdy, hingga dengan sangat leluasa Erdy menyedoti susu Indri. Lalu diciumnya di antara puting, hingga ke leher Indri, kemudian Erdypun melumat bibir Indri yang mungil itu. Bibir Indri menutup sehingga Erdy memaksa dengan bibirnya agar mereka bisa berciuman, lidah Erdy dijulurkan hingga menerobos masuk ke mulut Indri, dijilatinya bibir Indri. Lalu jilatan Erdy bergerak ke leher, hingga kembali ke dada Indri.
Dua buah dada Indri yang segar itu terus dikenyot Erdy tanpa henti. Indri hanya bisa menangis tanpa bisa melawan. Sedangkan Indra meratapi nasibnya, ia mungkin juga menyesal telah berurusan dengan Erdy. “Suegerrrrr……”, olok Erdy ketika puas menikmati payudara Indri, ia sengaja menatap ke arah Indra agar Indra menderita melihat semua ini.

“Tenang bro, Dolah pasti segera mengeluarkanmu dari sini…”, aku memotong cerita Erdy. “Tidak man, gue orang bejat… Gue pantas mendapatkan semua ini…”, kata Erdy. Ia sangat terpukul sekali, sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan, menginap di penjara. Dolah masih bernegosiasi dengan kepala polsek, semoga saja Dolah berhasil. Erdy masih menundukkan kepala sambil meneteskan air mata, “Gue bejat man…”, katanya yang kemudian melanjutkan cerita.

Ciuman Erdy sudah mengarah ke perut Indri, kemudian berlanjut hingga ke selangkangan Indri. Erdy menjilati bulu-bulu halus di sekitar vagina Indri. Tubuh Indri gemetaran, ia sangat takut sekali, “Jaangan peerkoosssa Indri banggg….”, Indri memohon. Erdy tidak memperdulikannya, ia menjilati daerah sekitar vagina Indri hingga Indri kegelian. Lalu Erdy mencium vagina Indri, “Hmm, masih rapet…”, kata Erdy. “Udah pernah ngentot belum?”, tanya Erdy. Indri hanya menangis tidak berani menjawab. “Hahaha, gak usag munafik, paling-paling si jahanam Indra udah nodai lu juga…”, kata Erdy lalu melanjutkan ciumannya di vagina Indri. Lalu dijulurkan lidahnya untuk masuk ke vagina Indri. Tubuh Indri bergelinjang kegelian, Erdy terus menjilati vagina Indri, terutama di daerah klitoris, sehingga Indri tak mampu menahan rasa gelinya.
Kini sambil menjilati klitoris vagina Indri, Erdy menyodokkan jari telunjuknya ke vagina Indri. “Aughhhh…..”, rintihanIndri karena vaginanya dengan tiba-tiba ditusuk kasar oleh Erdy. Indri terus bergelinjang kegelian, klitorisnya terus dijilati Erdy dan vaginanya terus ditusuk dengan jari Erdy. Indri tak mampu menahan rasa geli itu, karena Erdy tak henti-henti membuat Indri merasakan nikmat.
“Hahaha, sudah mulai nikmat kan Indri?….”, tanya Erdy dengan raut wajah kegirangan. Ia terus menjilati klitoris vagina Indri, dan jarinya pun masih terus mengobok vagina Indri. “Umhmhhh…”, desahan Indri yang ditahan, Indri nampak sudah terangsang namun ia menyembunyikan perasaannya, ia menggigit bibir bawahnya karena rasa nikmat dan geli sudah merasuki hingga ke otaknya.
Beberapa menit berlalu, “Sudah gak perawan?…”, tanya Erdy yang sudah menghentikan jilatannya, namun jarinya masih terus mengobok-ngobok vagina Indri. “Hmmmrmmrrr….”, suara Indra tidak terdengar jelas. Indri pun hanya menangis, ia tidak tahu apa yang selanjutnya akan terjadi padanya, ia hanya bisa pasrah. Erdy lalu mempercepat gerakan jarinya, hingga Indri bergelinjang, matanya membelalak dan Indri akhirnya berejakulasi, air cair banyak bersemburan dari dalam vagina Indri. Ketika Erdy mencabut jarinya, air itu pun bersemburan kemana-mana, membasahi tangan Erdy.
“Hahaha, nikmatkan Indri?…”, tanya Erdy. Lalu ia mendekati Indra dan melapkan tangannya ke muka Indra. “Neh, buat lu…”, lalu Erdy juga melapkan tangannya ke baju Indra hingga tangannya kering.
Erdy kembali mendekati Indri, “Sayang, ngentot yuk…”, ajak Erdy. Indri ketakutan, ia coba bangkit untuk berusaha menjauh. Indri berusaha kabur, ia berlari walaupun badannya sempoyongan, “Hey!”, teriak Erdy yang lalu mengejarnya. Tanpa berbusana mereka berkejaran, namun karena kondisi Indri yang sedikit tidak baik, ia pun terjatuh, dengan mudah Erdy mendapatkan kembali mangsanya itu. Rambut Indri dijambak dan ditarik agar mengikutinya kembali ke pondok. “Mau kabur ke mana lu?”, tanya Erdy lalu menghempaskan badan Indri ke pondok.
Indri terus menangis, ia ditendang dengan keras oleh Erdy tepat di perutnya, “Lu mau gue bunuh?!”, ancam Erdy. Lalu ia kembali menjambak rambut Indri, lalu menampar pipinya. Indri menangis dengan kencang, air matanya tidak berhenti bercucuran. Syamsuk lalu memperhatikan Indra, “Jangan salahkan gue, ini semua salah lu!!!”, kata Erdy ke Dolah.
Erdy lalu menarik kaki Indri, kakinya dibuka lebar, lalu Erdy tanpa aba-aba langsung menusukkan penisnya yang sudah mengaceng sedari tadi ke arah vagina Indri. “Arghghhhhh……”, rintihan Indri ketika vagina sempitnya dijebol paksa oleh penis besar milik Erdy.

‘Waduh, napa gak ajak-ajak?’ pikirku dalam hati. Mendengar cerita Erdy bukan membuat aku iba, namun aku sedikit terangsang, penisku sedikit demi sedikit mulai mengeras. Namun aku tidak mau menyinggung perasaan Erdy, aku pura-pura iba sambil mendengarkan ceritanya.

Erdy mulai menggenjot pelan tubuh Indri. “Argh…”, desahan kecil Indri terdengar jelas di dalam hutan yang sepi begini. Hanya dengan cahaya remang-remang sinar rembulan, Erdy menikmari tubuh indah Indri. Tubuh Indri bergoyang seirama dengan genjotan Erdy. ‘Ceplok ceplok…’, suara berasal dari gesekan penis Erdy dan vagina Indri. “Asyik kan Indri?…”, tanya Erdy sambil berbisik ke telinga Indri. Hanya rintihan kesakitan bercampur desahan kenikmatan yang keluar dari mulut Indri, ia di posisi yang sangat menyulitkan, merasa terhina namun juga menikmati sensasi seks yang tidak bisa dipungkiri baginya. Sungguh dilema besar bagi Indri, ia harus diperkosa di depan pacarnya sendiri.
“Oh oh oh…”, desahan terus terdengar walaupun Indri masih terus meneteskan air mata. Genjotan Erdy pun tidak berhenti, malah semakin kencang. Erdypun tidak hanya mengentotnya saja, ia juga melumat bibir dan payudara Indri. Tubuh Indri penuh cupangan, terutama di leher dan sekitar payudaranya. Puting susunya yang merah muda pun terlihat sedikit memar akibat digigit Erdy. Bertubi-tubi serangan yang dilakukan Erdy, remasan-remasan di daerah dada Indri terus bergulir, bahkan ia mencengkram erat susu kecil Indri itu hingga Indri menjerit kesakitan.
Tubuh Indri maju mundur bergerak seiring goyangan Erdy. Terus menerus digenjot hingga Indri tak mampu bergerak lagi, badannya sudah loyo tak bertenaga. Erdy tidak memperdulikannya, ia masih semangat menggenjot Indri yang malang itu. Sesekali ia memelankan gerakannya supaya ia tidak cepat mencapai ejakulasi. Sedangkan Indra sudah diam, ia juga capek berontak, tergeletak begitu saja tanpa gerakan berarti, tampak ia sudah lemas tak bertenaga.
Tubuh Indri dipeluknya erat, hingga dada mereka bersentuhan, bibir Indri terus dicium Erdy, dan tidak henti Erdy masih menggenjot Indri. Hingga Erdy mencapai klimak, ia mencengkram erat tubuh Indri. “Jangannnnn…..”, teriak Indri sambil mendorong Erdy, namun usahanya percuma, Erdy membiarkan penisnya berejakulasi di dalam vagina Indri. Spontan Indri langsung menangis dengan keras, Erdy tidak peduli, ia terus memeluk Indri dan membiarkan penisnya tertancap di dalam vagina Indri.

“Syam…”, sapa boss Dolah mendekat ke arah kami, tampaknya negosiasi mereka sudah selesai. “Man…”, balas Erdy yang masih menundukkan kepala. “Gimana boss?”, tanyaku ke Dolah. Sejenak Dolah hanya diam saja, lalu ia berkata, “Kami akan berusaha mengeluarkanmu dari sini…”, Dolah memberi semangat kepada Erdy. Menangis, hanya itu yang bisa Erdy ungkapkan. Lalu seorang polisi menghampiri kami dan mengatakan waktu jenguk kami sudah habis. Sebelum kami pergi, Erdy hanya berpesan supaya kami kembali ke jalan yang benar.
“Apa harus kita lakukan boss?”, tanyaku kepada Dolah saat dalam perjalanan pulang. “Tak ada…”, Dolah menjawab dengan wajah yang murung. “Semua bukti sangat kuat…”, lanjut Dolah. “Kita cuma bisa membantu mencari pengacara hebat saja, setidaknya membantunya mengurangi masa tahanan”, lanjut Dolah.
Seminggu berlalu akhirnya sidang Erdy dibuka, ia divonis penjara selama lima belas tahun atas tuduhan pemerkosaan dan perampokan. Semua bukti memberatkannya, pengacara yang Dolah bayarpun tidak banyak membantu. Dari ceritanya memang sangat jelas, bukti dan saksi sudah tidak dapat dielakkan.

Erdy menarik keluar penisnya dan membiarkan Indri terbaring bugil dengan vagina yang meneteskan sperma yang tersisa. Sebelum pergi, Erdy sempatkan menendang Indra, disiksanya hingga puas, lalu dikencinginya pas ke wajah Indra. “Liat akibat perbuatan lu!”, kata Erdy. Motor milik Indra dinyalakan lalu dibawa pergi Erdy, meninggalkan Indra dan Indri yang tak berkutik di dalam hutan.
Besoknya, Erdy ditangkap di kiosnya, tanpa perlawanan Erdy digiring ke polsek. Indra yang membuat laporan, ia tampak dengan muka lebamnya masih marah dengan Erdy, sedangkan Indri dirawat di rumah sakit, ia divisum dan positif bahwa sperma Erdy tertinggal di vaginanya.

Kami selalu mengunjungi Erdy, dia adalah teman kami, dan kami tidak bisa meninggalkannya. Ironisnya dikunjunganku yang ketiga, ia meluapkan semua perasaannya, ia menceritakan sampai menangis. Erdy sudah bertobat, ia akan kembali ke jalan yang benar, katanya ia akan bertanggung jawab pada Indri jika memang Indri hamil dan meminta pertanggungjawaban. Aku tidak bisa menceritakan kepada Erdy, karena ku dengar Indri akan mengaborsi kandungannya jika ia ternyata hamil. “Man, kamu juga harus pikirkan masa depan, hidup sekarang ini tidak baik…”, kata Erdy. “Hidup di penjara tidak enak man…”, lanjutnya bercerita. Kata Erdy ruangannya dingin, ia hanya tidur beralas tikar, makanan cuma nasi putih dengan telur goreng, itu pun sering direbut teman satu selnya, yang lebih ironisnya lagi, penghuni sel sangat membencinya. Erdy bercerita hingga menangis, di sini ia sangat tersiksa, para narapidana lain sering memberinya ganjaran, karena di sini pemerkosa adalah orang terkutuk. Penisnya sering dipukul oleh narapidana di sini, kadang dioleskan cabe, kadang juga menggunakan balsem, kadang penisnya ditarik paksa oleh napi lain hingga Erdy harus merasakan sakit yang luar biasa di penisnya, itulah hukuman bagi seorang pemerkosa kata Erdy. Mendengar ceritanya aku merasa ngeri, semoga pengalaman Erdy bisa membuatku berubah dan tidak mengikuti jejaknya.

Keyword Pencarian:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *